Oleh: Muhammad Rafiq
Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari 2020 telah berusia 73 tahun. Usianya cukup tua dan hanya selisih 18 bulan dari usia Republik Indonesia.
Kuatnya dinamika dan perubahan, hingga dinamika kepemudaan, patut disyukuri HMI tetap hadir memberikan karya-karya terbaik dalam memajukan bangsa Indonesia.
Tidak sedikit HMI melahirkan banyak tokoh intelektual, pemimpin, aktivis, birokrat, pengusaha dan kaum profesional lainnya, itu sungguh harta paling berharga bagi bangsa Indonesia. Sebagian besar nama-nama seperti Lafran Pane, Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib dan Munir, menambah keyakinan HMI benar-benar sebuah produk apik pemuda yang menginginkan masa depan yang lebih baik.
Seiring berjalannya waktu, diusia yang senja ini, karya-kerya terbaik itu terpampang di mana-mana dan dirasakan betapa nilai yang diperjuangkan sangat berharga bagi bangsa saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, pasang surut spirit kemajuan bukan lagi menjadi masalah krusial.
Sejak fase pergolakan pemikiran berakhir bergulir, kini HMI menghadapi fase dilematis, ingin menjadi organisasi kontributif tapi rumitnya permasalahan bangsa tidak mampu diselesai oleh kader-kader HMI secara keseluruhan. Kini yang ada HMI tampil mengikuti kemana arah angin berhembus.
Apa yang dikatakan Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI (2013-2015) amar makruf dalam lapangan pengabdian, tampak buram dimata rakyat. Sikap untuk proaktif, saling membantu, bergotong royong, membangun, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekadar momentual belaka. Tidak salah jika ada yang mempertanyakan eksistensi HMI bukan lagi sebuah harapan masyarakat Indonesia, melainkan harapan masalah internal.
Menyongsong HMI Kontributif
Rumitnya masalah internal membuat kader-kader HMI tidak konsentrasi menyalurkan kritik, ide dan gagasannya kepada pemerintah. Pertanyaan akan masa depan bangsa Indonesia saat dimulainya perpindahan Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur sangat jarang disentuh oleh HMI. Padahal, siklus gerakan pembangunan bakal berubah saat itu.
Provinsi Kalimantan Timur digadang-gadang menjadi daerah maju dari sebelumnya dan dampak positifnya ikut dirasakan wilayah Timur Indonesia.
Pemerintah menetapkan lokasi ibu kota terletak di dua kabupaten yang tersambung di Kalimantan Timur, yakni sebagian Kabupaten Kutai Kertanegara dan sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara yang mana disebut paling ideal sebagai Ibu Kota Negara.
Perihal sumber pendanaan pembangunan ibu kota baru Indonesia di Provinsi Kalimantan Timur membutuhkan dana kurang lebih Rp 466 triliun. Nantinya, 19 persen dari kebutuhan pendanaan itu akan berasal dari APBN. Meski demikian, APBN yang dimaksud, bukan hanya yang bersumber dari anggaran yang dialokasikan khusus bagi pembangunan ibu kota negara.
Hasil riset simulasi Institute for Development of Economic and Finance atau Indef menyebut perpindahan tidak memberikan dampak apa-apa terhadap pertumbuhan PDB riil dan GNE (Gross National Expenditure) riilnya. Dalam skenario pertama yaitu Kalimantan Tengah. Riset Indef menemukan pemindahan ibu kota ke provinsi ini berdampak 1,77 persen terhadap PDRB atau Pendapatan Domestik Regional Bruto di Kalimantan Tengah. Namun, kontribusinya pada PDB nasional hanya 0,0001 persen. Sebaliknya, pemindahan ibu kota ini berkontribusi negatif pada PDRB provinsi lain hingga 0,04 persen.
Sementara itu dalam skenario kedua, Kalimantan Timur. Jika dipindahkan ke daerah ini, dampaknya pada PDB nasional sama sekali tak ada alias 0 persen. Sementara, dampak pada PDRB Kalimantan Timur meningkat hingga 0,24 persen. Lalu, dampak negatif dirasakan pada provinsi lain, kecuali Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Papua dari sisi PDRB.
Selain itu, pemindahan ibu kota juga menstimulus turunnya jumlah output di hampir semua sektor tradable-goods yang berbasis sumber daya alam. Sebaliknya, sektor yang meningkat justru ada pada non-tradable goods yang terhitung bukan sektor produktif. Di antaranya yaitu administrasi, pertahanan, pendidikan dan kesehatan, hingga kertas dan publikasi.
Malahan, pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah ataupun Kalimantan Timur akan mengerek harga barang di kedua daerah tersebut, Sebab, akan ada tambahan sekitar 2 juta lebih penduduk dan membuat permintaan terhadap barang meningkat. Jika suplainya terbatas, maka harga pun akan otomatis naik.
Pandangan berbeda Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro menyebut pemindahan ibu kota ke luar Jawa justru akan memperkuat fungsi Pusat Kawasan Nasional (PKN) dan Pusat Kawasan Wilayah (PKW), terutama di kawasan Indonesia Timur. Sehingga bisa membantu mengurangi kesenjangan antara Indonesia Timur dan Barat.
Masalahnya sekarang, siapkah pemuda menyambut kehadiran Ibu Kota Negara yang baru ditengah kondisi pemuda saat ini. Paling tidak, masalah lain dari dampak perpindahan Ibu Kota Negara. Memasuki puncak bonus demografi, bagi Arief Rosyid Hasan, rasio ketergantungan penduduk ada di titik terendah sepanjang sejarah Indonesia, yaitu 45,4. Artinya, 100 penduduk usia produktif menanggung 45,4 penduduk tak produktif, yakni anak-anak dan warga senior. Tulang punggungnya adalah pemuda. Secara kuantitatif, generasi Y sebesar 33,75% dan generasi Z sebesar 29,23%. Jumlahnya jauh melampaui generasi setelahnya. Modal inilah yang dapat digunakan sebagai mesin penggerak masa depan.
Masalahnya, harapan pemuda sebagai turbin penggerak mengalami deformasi makna. Kini pemuda sibuk mengurusi kuliahnya agar bisa mendapatkan kerja yang layak, sibuk mencari posisi politik dan bersenda gurau di warung-warung kopi. Yang jauh menyedihkan eksistensi pemuda di dunia hitam mewarnai presentase angkat kejahatan.
Singkat pembahasan, HMI mestinya sibuk mengurusi dan mencari solusi dibalik ketidaksiapan pemuda menghadapi tantangan, khusunya bangsa Indonesia yang terus dilanda isu kemiskinan.
Sebagai bahan berfikir, bangsa Indonesia sedang menuju menjadi bangsa yang maju. HMI mesti menangkap kesempatan emas ini dengan menghasilkan karya-karya produktif. Tidak salah berpandangan mengurusi internal lebih dulu barulah mengurusi eksternal. Tapi bukan sebuah kekeliruan jika menyibukkan diri berkontribusi memajukan bangsa.
Penulis adalah Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Tengah

