Site icon LEAD.co.id

Menyongsong Pilkades Cigombong: Tokoh Pemuda Gagas Pembangunan Ruang Publik Terpadu

BOGOR (Lead.co.id) – Dalam momentum krusial Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Cigombong, aktivis pemuda Muhammad Azrin mengusulkan gagasan strategis mengenai penguatan identitas lokal melalui pembangunan infrastruktur publik yang multifungsi.

Azrin mengusulkan pembangunan sebuah kawasan pusat kegiatan masyarakat yang mengintegrasikan fasilitas olahraga, khususnya jogging track, dengan amfiteater pertunjukan seni. Gagasan ini bertujuan untuk menciptakan ruang sosial yang tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan warga, tetapi juga menjadi magnet ekonomi bagi wisatawan dari Jakarta dan Sukabumi melalui pementasan seni Sunda secara berkala.

Gagasan pembangunan ruang publik ini didasari oleh kebutuhan masyarakat akan fasilitas olahraga yang representatif di lingkungan desa. Dengan menghadirkan lintasan lari yang tertata di tengah lingkungan asri, pemerintah desa ke depan diharapkan mampu memupuk gaya hidup sehat warga sekaligus menciptakan ruang publik yang produktif.

Muhammad Azrin menekankan bahwa ruang publik ini dirancang untuk menjadi jantung aktivitas warga di pagi hari, dan bertransformasi menjadi pusat atraksi budaya di sore dan malam hari seperti halnya pertunjukan tari kecak di uluwatu, Bali. Sehingga penggunaan lahan desa menjadi sangat efisien dan berdaya guna tinggi.

Aspek strategis dari pembangunan ini terletak pada kemampuannya membentuk “citra baru” bagi Desa Cigombong. Aktivitas olahraga yang berdampingan dengan pelestarian budaya akan memberikan kesan desa yang modern namun tetap memegang teguh akar tradisi. Hal ini diyakini akan menjadi daya tarik unik bagi masyarakat perkotaan dari wilayah sekitar yang mencari destinasi wisata akhir pekan yang sehat dan edukatif.

“Kita memerlukan ruang publik yang mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus: kesehatan masyarakat dan pelestarian budaya. Bayangkan sebuah kawasan di mana warga bisa berolahraga dengan nyaman, lalu di titik yang sama mereka dapat menyaksikan pertunjukan seni Sunda yang megah. Ini bukan sekadar membangun taman, tapi membangun identitas kolektif. Kita ingin Cigombong dikenal sebagai desa yang bugar rakyatnya dan luhur budayanya,” tegas Muhammad Azrin.

Lebih lanjut, Azrin menjelaskan bahwa pertunjukan seni yang digelar di ruang publik tersebut harus dikelola secara profesional agar memiliki nilai jual tinggi bagi wisatawan. Penampilan rutin seperti Jaipongan, Degung, hingga teater rakyat harus dikemas dengan manajemen panggung yang modern untuk menarik minat pengunjung dari Jakarta dan Sukabumi. Kehadiran arus wisatawan ini secara otomatis akan menggerakkan roda ekonomi lokal melalui sektor UMKM kuliner dan kerajinan yang terintegrasi di sekitar kawasan pusat kegiatan tersebut.

Dari sisi sosial, keberadaan jogging track dan panggung seni ini akan menjadi sarana interaksi lintas generasi yang efektif. Muhammad Azrin melihat bahwa ruang publik ini akan menjadi tempat di mana generasi muda dapat berolahraga sekaligus mengenal kembali kekayaan budaya Sunda melalui aktivitas seni yang ada di sana. Dengan demikian, proses pewarisan identitas lokal tidak lagi terasa kaku, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat desa.

Pembangunan infrastruktur ini juga menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan Dana Desa. Azrin mendorong agar pembangunan kawasan ini dilakukan secara bertahap dan sistematis, dengan melibatkan para ahli tata kota dan budayawan agar hasilnya memiliki estetika yang membanggakan. Pemimpin desa terpilih harus berani menjadikan proyek ini sebagai ikon kebanggaan desa yang mampu meningkatkan harga diri warga di mata daerah lain.

Exit mobile version