Oleh: Liana Ariesha Khoerudin
Esensi Ramadhan adalah cinta kasih terhadap sesama, secara termonologi berarti “panas” “menyengat” “membakar”. Arti Ramadhan untuk menghanguskan amarah dan kebencian baik yang ditimbulkan oleh lahir/ragawi lahir maupun batin. Hal ini harus dimaknai sedalam mungkin oleh yang melaksanakannya, sehingga bulan ramadhan adalah benar sebagai bulan yang suci dari sifat nafsu angkara murka, maka tepat bila bulan Ramadhan itu seyogyanya adalah bulan kedamaian.
Penulis melihat ada hal yang janggal yang terjadi terkait ketidak-damaian yang terjadi. Indikator-indikator dari konsep damai, yang terjadi belakangan ini, malah justru lemah tertampilkan di Bulan Suci ini. Sebut saja, adanya celoteh ngasal alias asal bunyi yang memancing kesalah-fahaman, dan aksi protes dalam bentuk demonstrasi jalan, yang bahkan berujung penganiayaan dan penistaan secara fisik.
Hal ini mengakibatkan kondisi sosial dan politik Negara pun ikut terusik. Apalagi efek domino dari fenomena politik itu membuat opini deskruktif tersebar bak bola liar tersebar dibantu dahsyatnya kekuatan medsos yang menjadi skala info sangat meluas, hingga manca negara. Saling curiga, fitnah, adu domba dan lain sebagainya, sangat merajah di tahun ini. Jelas apapun alasannya, semua tujuan baik itu menjadi membatalkan makna suci dari Ramadhan, karena sangat bertentangan dengan agama.
Selain itu, merujuk pada kejadian tahun 2022 ini, miskomunikasi berakibat fatal, banyak yg terjadi bahkan antara sesama muslim itu sendiri. Akibat mispersepsi dalam himbauan agar adzan tidak perlu sekeras mungkin diamplifiee oleh TOA, menjadi gagal fokus, masyarakat awam malah menjadikan itu babak kasus membandingkan suara adzan dan suara anjing. Ditambah lagi yang lain, dalam penentuan awal ramadhan, yang seharusnya fenomena perbedaan menentukan awal 1 Ramadhan antara perhitungan kalender dengan penentuan berdasarkan melihat hilal adalah hal biasa yang sudah berbilang abad, malah menjadi ajang saling buli atau mengolok-olok antar umat & sekte.
Berdasarkan indikator kedamaian itu, Aksi mahasiswa turun ke jalan sebagai bentuk protes, tak perlulah adanya penganiayaan. Walaupun memang pernah ada ujaran yang tidakk elok, namun di hakimi di jalan pun tidak dibenarkan dalam agama. Pada akhirnya kebencian dan saling curiga pun marak terjadi di mana-mana. Terlebih lagi pada era milenial ini teknologi informasi semakin tidak terkendali sehingga Stigma yang merosotkan citra Islam pun berterbangan di jagat media.
Melihat kasus yang terjadi sepanjang tahun 2022 ini. Hemat saya, ada yang salah dalam kehidupan ke-agama-an dan ke-negara-an kita hari ini. Pertama, akibat dari kebodohan beragama juga kesalahan menafsirkan pesan agama. Tariq Ramadan dalam buku Kontekstualisasi Filsafat Transformatif (Hasnan Bachtiar; 2014) mengatakan bahwa “tidak ada masalah dalam Islam.
Termasuk pula sumber-sumbernya , Al-quran dan Al-sunnah. masalah yang paling fundamental adalah para penafsir islam itu sendiri. penafsir yang saleh akan menghasilkan pemahaman tentang kebajikan. Sementara penafsir yang arogan justru menebarkan pengertian yang penuh dengan bau busuk kemungkaran”.
Kedua dalam pandangan ke-negara-an. Fungsi Negara adalah untuk mengatur dan menyejahterakan kehidupan bangsa. Namun dengan maraknya mahasiswa yang turun ke jalan merupakan salah satu dampak dari gagalnya sistem kenegaraan, dimana itu menunjukkan adanya informasi dan kehendak rakyat yang tersumbat antara legislatif dengan eksekutif. Sehingga pemerintah dalam menjalankan Negara, toh kita sedang merasakan harga-harga bahan pokok yg melambung tinggi diluar kaidah kaidah ilmu ekonomi.
Ramadhan sebagai momentum
Terlepas dari persoalan. Dengan sikap ikhlas mari kita bermuhasabah. Bagaimana seharusnya sikap kita dalam hal beragama dan bernegara. Jadikan semangat ramadhan sebagai penyucian jiwa. Penghapusan jiwa egoisme yang bertengger dalam jiwa kita.
Setiap agama menyampaikan pesan moral, yang merupakan penguat kedamaian. Tidak ada satupun ajaran agama yg menghendaki perpecahan. Psikolog amerika (Abraham maslow) dalam teori hierarki kebutuhan hidup manusia menempatkan safety needs (rasa aman dan tidak mau diancam) pada lapisan piramida kedua setelah (makan dan minum). Hal ini jelas betapa pentingnya kedamaian antar manusia.
Alloh SWT menegaskan dalam QS Al-Ma’un bahwa celakalah orang yang melaksanakan sholat (keshalehan individu) dengan mengabaikan persoalan-persoalan kemanusiaan (keshalehan social). Maka dari itu kedamaian merupakan hal yang sangat mulia, bukankah otentitas manusia adalah mahluk paling sempurna di muka bumi.
Shaum (puasa) di bulan ramadhan merupakan salah satu rukun Islam, QS Al-Baqarah ayat 183. Pesan dari ayat tersebut mengisyaratkan perintah bagi orang-orang beriman harus melaksanakan puasa agar mereka menjadi takwa. Dampak semakin tinggi tingkat ketakwaan/keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula nilai kemanusiaan yang akan berimplikasi pada kedamaian. Puasa mendidik manusia memiliki rasa cinta, lembut dan kasih sayang, menjadikan seorang insan halus budinya, juga bersih jiwanya.
Ramadhan sebagai momentum memupuk kedamaian, dapat kita jalankan penuh rasa kemanusiaan serta kelapangan hati dan fikiran dalam memahami teks ilahi. Sehingga amarah, kebencian dan kekerasan serta egosentrisme lenyap “terbakar” di bulan ini. Ramadhan merupakan bulan yang menyucikan sifat kebinatangan pada diri manusia. Umat beragama harus kembali menjadi manusia yang otentik yang berbudi pekerti.
Berpuasalah selama-lamanya atas kebencian dan kekerasan. Raihlah kemenangan di bulan suci ini dengan cinta damai penuh kerukunan. Sehingga baldatun tayyibatun warabbun gafur dapat terwujud. Aamiin.
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Madani Nusantara, Angkatan X, Semester 2





