Oleh: Raja Satria Utama
Pada hari ini bertepatan pada tanggal 17 Agustus 2024 merupakan suatu bentuk kebanggan bagi kita sebagai warga negara Indonesia karena telah sampainya kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia selama kurang lebih 79 tahun setelah kemerdekaan, yang merupakan sebuah mahakarya para pahlawan atas terbebasnya kita dari para penjajah.
Ini merupakan suatu momentum yang tepat untuk kita merenungkan atas apa yang telah kita realisasikan kembali terhadap perjuangan dan tindakan para pahlawan untuk bangsa ini, yang harus kita emban dan kita lanjutkan sebagai generasi penerus bangsa yang telah terlepas dari penjajahan negara maupun bangsa lain, hingga saat ini kita menginjakan kaki di Bumi Pertiwi yang nyaman nan indah ini.
Tentang sejarah yang mungkin sedikit saya jabarkan Pada awal abad ke-20, semangat juang atau semangat nasionalisme mulai tumbuh di kalangan pemuda Indonesia. Mereka terinspirasi oleh gerakan nasionalisme di negara lain dan mulai menuntut kemerdekaan. Organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Jong Indonesia, menjadi wadah bagi para pemuda untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Teks proklamasi kemudian dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Proklamasi kemerdekaan tidak serta-merta diterima oleh pihak Belanda. Belanda berusaha untuk kembali menjajah Indonesia, sehingga memicu terjadinya Perang Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung selama empat tahun. Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949.
Namun perjuangan kemerdekaan yang telah diraih merupakan titik awal dari perjalanan panjang, terhadap kemerdekaan yang dinamis. Kemerdekaan bukanlah hal yang statis, melainkan dinamis dan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Tantangan dan permasalahan baru terus muncul, sehingga perjuangan untuk mempertahankan dan mewujudkan nilai-nilai kemerdekaan juga harus terus dilakukan.
Setelah tercapainya kemerdekaan yang dilakukan oleh para tokoh pahlawan, perwujudan kesejahteraan bagi rakyat merupakan suatu perjuangan yang harus terus berjalan dan terus berlanjut. Sebagai masyarakat yang perlu kita ketahui bahwa pendidikan merupakan suatu bentuk kesejahteraan bangsa yang harus di dahului, karena bentuk dari sebuah kesejahteraan yang melahirkan pokok-pokok bagi masyarakat dan bangsa ini adalah pendidikan yang merata.
Kotornya para oknum yang mengatas namakan mereka adalah pejuang bangsa, diduga memakan dana masyarakat untuk kepentingan diri mereka yg sangat picik. Mereka minta menaikan dana untuk kesejahteraan pendidikan namun yang mereka ciptakan adalah kekacauan, dan kita sebagai masyarakat hanya dapat bertanya dana tersebut kemana? dan bagaimana kelanjutannya sampai hati 17 sekolah di kabupaten Kupang NTT belum selesai dikerjakan, dikutip dari laman web detik.com pada hari sabtu tanggal 8 agustus 2024 pada pukul 16.34 WIB. Padahal, proses pembangunan 16 SD dan satu SMP itu sudah berlangsung sejak 2022. Bukanlah sebuah perwujudan semangat perjuangan kemerdekaan yang di wariskan melainkan kerakusan atas kepentingan diri sendiri.
Merefleksikan atas semangat perjuangan untuk memperkuat dan menghilangkan nilai atau norma yang merusak moral bangsa dan generasi berikutnya dan seterusnya atas dasar perjuangan hak kesejahteraan bagi bangsa Indonesia dalam sebuah kemerdekaan yang berdaulat adil dan makmur.
Berbahagialah dan berbanggalah bahwasannya kita telah terlepas dari para penjajah yang haus atas kekuasaan yang telah di pukul mundur oleh para tokoh pahlawan, namun kita tidak boleh merasa puas dan merasa cukup atas apa yang telah terjadi. Ini merupakan sebuah awal mula untuk kita sebagai bangsa Indonesia memperbesar dan mendaulatkan Ibu Pertiwi yang kita cintai, karena Ir Soekarno pada hari pahlawan berorasi bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.
Penulis adalah Ketua Komisi 3 External BLM KBM Universitas Pakuan Bogor





