Oleh: Musawir Al Fayd
Meugang adalah suatu tradisi yang dilestarikan masyarakat Aceh sampai saat ini. Meugang diadakan setiap menyambut bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Melalui observasi langsung, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan mendalami lebih jauh tentang budaya Meugang ini. Sebagai seorang perantau yang tinggal di Aceh tentu menimbulkan banyak pertanyaan di kepala.
Karena tingginya rasa ingin tau, penulis melakukan telaah jurnal, wawancara dengan warga serta berseluncur di jagad maya mencari informasi tentang tradisi meugang. Menurut Marzuki:2014 dalam jurnalnya mengatakan bahwa meugang merupakan salah satu praktek dari nilai-nilai dalam agama Islam.
Tradisi ini dijadikan sarana pengamalan ajaran agama, seperti barang siapa yang senang menyambut bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Hal ini ditunjukkan dengan makan daging sebagai bentuk senangnya orang Aceh, serta mengadakan kenduri mengharapkan pahala dari kenduri atau sedekah makanannya.
Tradisi ini telah melekat dalam diri masyarakat Aceh, sehingga tradisi ini seolah-olah adalah ajaran agama yang sangat dianjurkan, beroperasi menjadi bagian dari agama, dan seakan-akan menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh agama.
Mulai hari Kamis (31/03/22) dan Jumat hari ini (01/04/22)disepanjang jalan utama dan pasar pasar di Banda Aceh penulis melihat dan menyaksikan bahwa banyak orang orang menjual daging sapi disepanjang jalan.
Menurut Dr. Sulaiman, M.Pd, salah seorang Dosen di salah satu universitas negeri di Aceh mengatakan bahwa Masayarakat Aceh umumnya sedang melaksanakan atau memeriahkan hari meugang. Yaitu sebuah tradisi yang unik ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan puasa adalah melaksanakan pemotongan hewan pada satu atau dua hari sebelum bulan puasa.
Tradisi pemotongan hewan ini dalam Masyarakat Aceh dikenal sebagai meugang. “Meugang” merupakan hari yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama-sama dengan keluarga, yang dilakukan sehari menjelang bulan puasa.
Hari tersebut merupakan waktu yang dimanfaatkan oleh keluarga di Aceh sebagai waktu berkumpul dan makan bersama. Bahkan, tidak jarang juga keluarga di Aceh yang mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan hari Meugang ini.
Meugang dianggap punya nilai religius karena dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan dianggap bulan untuk menyucikan diri. Masyarakat Aceh memegang teguh kepercayaan bahwa nafkah yang telah dicari 11 bulan dinikmati selama Ramadhan sambil beribadah.
Menurut kisah, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya dan juga untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadhan.
Setelah Kerajaan Aceh dikalahkan oleh penjajah Belanda, masyarakat Aceh berinisiatif sendiri untuk melakukan pemotongan sapi guna memeriahkan hari Meugang, sehingga tradisi ini tetap mengakar kuat di tengah masyarakat Aceh sampai hari ini. (Google)
Meugang sebenarnya juga memiliki sisi yang unik dan menarik, disamping sisi agama dan tradisi budaya, Meugang bagi sebagian para pria di Aceh juga dapat menjadi simbol jati diri, Meugang merupakan pembuktian bahwa dirinya adalah benar-benar seorang laki-laki. Bahkan ada yang mengatakan bukan lelaki Aceh namanya bila tak mampu membeli daging pada hari Meugang.
Untuk pengantin baru, Meugang juga digunakan sebagai pembuktian rasa sayang kepada mertua. Biasanya bagi para pengantin baru di Aceh, mereka akan datang kerumah mertuanya dengan membawa daging di hari meugang ini. Mereka menikmatinya dengan makan bersama.
Sehingga wajar bila kemudian harga daging di Aceh pada hari Meugang meroket tajam mencapai ratusan ribu rupiah. Padahal pada hari biasa, harga daging hanya berkisar antara Rp. 80-90 ribu per kilogram. Sekarang harga daging sampai ke harga 170-180 ribu per kilonya. Sehingga mereka yang termasuk kelompok ekonomi lemah akan mencari berbagai cara untuk dapat membawa pulang daging Meugang ke rumah.
Secara garis besar Meugang itu dapat dikatakan sebagai tanda atau bentuk syukur untuk menyambut bulan Ramadhan. Zaman dahulu belum ada alat komunikasi untuk menyampaikan dan menandakan kapan datangnya Ramadhan. Sekarang sudah ada pemberitahuan dari pemerintah dan para ulama bahkan ada lembaganya sendiri yang mengatur ketentuan datangnya Ramadhan setelah melihat bulan.
Sedangkan makna lain adalah bahwa ada beberapa elemen lain yang terkandung dalam perayaan Meugang, menjelang masuknya bulan penuh Rahmat ini, yaitu dilaksanakan secara kekeluargaan dan berbagi dengan sesama.
Contohnya, jika ada anak atau menantu yang jauh, dia akan pulang sehari sebelum Meugang. Konsepnya lebih kepada silahturrahmi. Jadi, sekaligus saling meminta maaf dan memaafkan “Insha Allah”. Selain itu Meugang juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ada solidaritas di sana.
Selanjutnya, nilai solidaritas dari membangun rasa kebersamaan dengan makan bersama, dan ada rasa cemas jika salah satu anggota keluarga belum berkumpul di rumah. Selain itu Meugang bermakna ekonomi, sosial juga ritual. (Jufrizal)
Semoga budaya Meugang ini bisa tetap dipertahankan oleh generasi yang akan datang, banyak makna dan hikmah dari Meugang ini, terkandung makna Rasa Syukur, Silaturrahmi serta mengagungkan dengan bergembira menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.





