Oleh: Mahmudi
Ikhtiar adalah suatu upaya sungguh-sungguh dengan mengupayakan seluruh pemikiran dan zikir untuk dapat mengaktualisasikannya atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah Swt dan juga menempatkan dirinya bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah). Dengan kata lain, dengan berikhtiar manusia dapat memanusiakan dirinya. Ikhtiar juga merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat.
Ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, tetapi bila usaha gagal hendaknya tidak berputus asa. Karena, Islam melarang umat muslim untuk berputus asa dan menganjurkan untuk tetap berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bagi seorang muslim, dalam berusaha haruslah mempunyai visi dan misi yang jelas, yakni tidak bekerja asal-asalan. Tapi pandangan seperti tersebut sungguh sangat jelas tertanam dengan sangat kokohnya dalam diri setiap pribadi muslim, sehingga ia akan membuat suatu perencanaan bahwa setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh semangat dan antusias.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Toha Tohara, mengatakan bahwa “Hidup mengukir rencana tanpa tujuan hanyalah membuang waktu”.Karena itu, untuk memulai suatu pekerjaan, hendaklah terlebih dahulu kita mempunyai rencana yang matang, sehingga pekerjaan kita tidak akan sia-sia.
Manusia terbaik adalah yang terus bergerak, memanfaatkan setiap potensi yang dia miliki untuk merebut sebuah kemenangan. Potensi yang termanfaatkan tidak hanya dari fisik, tetapi juga dari jalur ruhiyah, misal shalat, zikir, dan do’a. Ikhtiar tanpa do’a adalah sebuah kesombongan sebagaimana do’a tidak disertai ikhtiar adalah kesia-siaan.
Dalam al-Qur‟an, banyak ayat yang mengisyaratkan agar manusia berusaha (ikhtiar) dalam kehidupannya. Misalnya sebagaimana firman Allah Swt, berbunyi yang artinya “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah Swt dan ingatlah Allah Swt banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs al-Jum‟āh: 10).
Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa Allah Swt menyuruh manusia untuk tampil berusaha (ikhtiar) sebagai pekerja dalam rangka menggapai keberuntungan hidup di dunia ini, di samping tidak meninggalkan atau mengabaikan amalan untuk kesiapan hidup di akhirat nantinya, salah satunya dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun walau sedemikian, seorang muslim juga tidak harus merendahkan harga dirinya sendiri, misalkan usaha untuk membangun masjid atau tempat ibadah lainnya, dengan cara menjadi Mal amal di pinggir jalan, hal tersebut secara subtansial adalah bagus sebab diniatkan untuk mengharap amal jariyah dari pengendara yang lawat, hanya saja elok kah, misalkan ada non muslim yang lewat dan melihat harga diri muslim yang digadaikan dipinggir jalan ?.
Tidak hanya itu, melihat mayoritas mal amal yang menjadikan garis putus di jalan sebagai tempat bertengger, padahal sejatinya garis itu adalah tanda dibolehkannya mendahului, sehingga sebab adanya mal-amal tersebut pengendara sedikit risih sebab penempatan yang tidak tepat, juga melihat jumlah yang lumayan banyak dari mulai daeran Tanah Merah sampai sekitaran Blega, sehingga menjadi sebuah pertanyaan tidak adakah teguran dari pihak berwajib dengan tindakan tersebut ?.
Sebab itu seharusnya seorang muslim yang memang menjadi sebuah keharusan untuk berkehidupan secara dinamis, alangkah lebih eloknya untuk mencari alternatif lain yang lebih bijaksana untuk segala hal bentuk ikhtiar yang diharapkan, terlebih untuk dijadikan sebagai usaha tempat-tempat sakral sebagai upaya menjaga harga diri dan muru’ah agama Islam itu sendiri. Juga disisi lain seharusnya cendikiawan dan orang-orang yang memiliki prinsip keagamaan yang mempuni seharusnya bisa mempertimbangkan segenap prilaku masyarakat dan meluruskan yang dinilai melecehkan agama Islam, sehingga tidak ada kedok kebaikan dalam tubuh agama yang disiplin ini.
Penulis adalah Mahasiswa STIU Darussalam Bangkalan

