Oleh: Dr Apendi Arsyad
Alhamdulillah, ada terobosan baru di lingkungan organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Se Indonsia (ICMI), yakni inovasi yang cemerlang telah diselenggarakan sebuah kegiatan Peningkatan kapasitas Organisasi dan Kelembagaan ICMI, melalui peningkatan (up grading) kualitas personal para aktivis ICMI se Indonesia, berlangsung tanggal 29-30 November 2022 di Jakarta, nama acaranya “National Leadership Camp” (NLC).
InsyaAllah dengan sudah terlaksananya NLC pertama tsb, harapan kita dinamika berorganisasi di lingkungan ICMI akan meningkat keikutsertaan (participation) Majelis Pengurus dalam menjalankan amanah program 5 K ICMI sesuai Wawasan Pengabdian ICMI, Karakter, Khitah, kode Etik berdasarkan AD dan ART ICMI hasil Muktamar ICMI ke 7 di Bandung thn 2021, setahun yg lalu, akan berjalan semakin membaik dan kondusif.
Kegiatan NLC merupakan sebuah cara yang cerdas dan cemerlang untuk melakukan konsolidasi dan konsiliasi jajaran kepengurusan pada semua level baik MPP (Orpus), Orwil, Orda, Orsat maupun Batom ICMI. Pasca pelaksanaan NLC membuat kinerja organisasi ICMI semakin membaik dan berkualitas dalam berkiprah dan menunaikan tugas-tugas kecendekiawanan yang bermakna bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang berkemajuan dan berperadaban.
Hal ini sudah lama kita pahami, salah satu hambatan utama terhambat dan lambatnya bahkan tersendatnya implementasi program 5 K ICMI yakni peningkatan kualulitas imtaq, pikir/iptek, karya/inovasi, hidup dan keluarga Samarah, faktor penghambat yang terbesar adalah belum terkonsolidasi dalam pola zikir dan pikir serta ghiroh kalangan personal pengurus/sumberdaya manusia (SDM) ICMI yang duduk dalam jajaran Kepengurusan ICMI pada semua jenjang (level) dan hirarki organisasi.
Begitu juga pemahaman terhadap sistem organisasi dan kelembagaan beserta tata aturannya (code of conduct) ICMI sangatlah kurang dipahami, dan akhirnya komitmen pengabdian menjadi sangat lemah, tidak memiliki visi dan misi serta tidak jelas apa agenda ICMI yang harus dikerjakan. Gejala sosial negatif banyak dialami setiap organisasi sosial bersifat nirlaba, termasuk di ICMI.
Hal ini bisa dipahami, karena proses rekruitmen keanggotaan dan kepengurusan ICMI hingga kini prakteknya masih sangat longgar, dalam arti “tanpa adanya pola seleksi” yang tegas dan ketat berbasis pada penggunaan standar keragaan indikator (key perfomance indicators) yang terarah, mengikat dan terukur.
Akibatnya di lingkungan sosial atau ekosistem ICMI, masuk diakal bahwa akan dan bahkan sudah terjadi gejala sosial yang kurang baik dan tidak sehat, dimana sejumlah personal kepengurusan ICMI yang begitu banyak jumlahnya (ratusan bahkan di MPP ICMI bisa mendekati seribuan jika dimasukan personal pengurus Batom), tidak menjalankan tugas dan fungsinya sesuai notata kerja (jobdescription) yang disepakati.
Akan tetapi person yang aktif menjalankan kegiatan organisasi ICMI hanya terdapat segelintir orang, istilah nyelenehnya “lu lagi lu lagi”. Hal ini tampak sekali minimnya komitmen, kemauan dan kemampuan untuk bekerja mewujudkan visi, misi, tujuan dan agenda program kerja 5 K ICMI sebagaimana harapan disebutkan diatas. Kiprah ICMI berdasarkan ART ICMI diharapkan berkontribusi pada Public Policy dengan kerja reflektif, dan kerja-kerja pengabdian pemberdayaan masyarakat (social enfowering) melalui kerja dan pendekatan praksis seperti gaya dan gesture LSM/NGO.
Program 5 K ICMI merupakan agenda kerja reflektif dan praksis yang konsen, fokus untuk peningkatan SDM kaum terpelajar dan terdidik kaum muslimin Indonesia menjadi masyarakat kelas menengah (midle class) atas yang bersifat jangka panjang (long march). Kita paham keberadaan midle class di dalam lingkungan sosial-kemasyarakatan menjadi penting dan berperan strategis untuk suatu perubahan sosial dan budaya (social and culture changes) menuju masyarakat berkemajuan dan berperadaban.
ICMI adalah salah elemen kekuatan masyarakat sipil atau madani (civil society). Oleh karenanya orang-orang ICMI wajib peduli dengan nasib rakyat yg miskin dan tertindas, serta mau dan mampu mencari solusinya terhadap permasalahan sosial-budaya tersebut, termasuk aspek lain “Ipoleksosbudhankam” di Republik Indonesia, habitat dan ekosistem, tempat dimana kita hidup dan besar di negeri yang sama-sama kita cintai ini, bernama Indonesia Raya.
Saya AA, salah seorang yang dianggap “cukup dekat” secara pribadi dengan Prof ASA, Ketum MPP ICMI yang terpilih pada forum Muktamar ICMI ke 7 thn 2021 yang lalu di Bandung Jawa Barat, berkewajiban mengingatkan dan memberikan masukan berupa saran dan kritikan yang bersifat konstruktif.
Kita sangat paham bahwa agenda besar ICMI untuk 5 tahun mendatang, memasuki era generasi milineal yang berbasis ITC-digital, penuh tantangan, memunculkan adanya gejala deskrupsi akibat VUCA (violelity, uncertainty, complexity and agility). Hal ini barang tentu mutlak menuntut adanya regenerasi kepemimpinan dilakukan, dengan program kaderasi SDM ICMI agar proses alih generasi kepemimpinan dalam majelis kepengurusan dan tata kelola organisasi berjalan normal, terpelihara dengan baik (good governance).
Kita melihat dinamika internal kepengurusan ICMI pada semua level, keragaan dan kinerjanya belumlah mengembirakan. Dalam arti kata, maaf “masih banyak yang hanya titip nama, tetapi tidak ada kerjaan, di rumah ormas ICMI masih dominan yang berstatus “indekost”, mereka belum menjadi owner dan user” serta bermindset ICMI. Bahkan peserta NLC ICMI angkatan masih didominasi mereka telah berusia tua, person millenial sangat kurang. Hal ini perlu menjadi perhatian NLC selanjutnya.
Sebenarnya mungkin juga diantaranya ada personal majelis pengurus sdh memiliki kemauan untuk berbuat, akan tetapi terkendala faktor “ketidak pahaman visi, misi dan agenda organisasi ICMI”. Hal itu barangtentu, jangan dibiarkan, karena akan membuat kehidupan berorganisasi di ICMI yang tidak sehat. Gejala sosial negatif tersebut perlu diatasi, dicarikan solusi yang relevan dengan potensi dan problem yang dihadapi, atau jika perlu ditata ulang (install) jiwa dan semangat Pengabdian ICMI.
Ingat masyarakat berharap dan sedang menunggu-nunggu peran dan fungsi ICMI dalam ikutaserta membangun Indonesia yang dicita-citakan, bermoral dan berakhlaq, terutama umat islam yang mayoritas, memiliki kewajiban lebih besar untuk memajukan kehidupan negara-bangsa (nation state).
Salah satu cara dan strategi yang dilakukan untuk menghadapi miskin partisipasi Majelis Pengurus ICMI, pilihan yang tepat dengan membuat terobosan baru- inovasi berupa kegiatan seperti “National Leadership Camp /NLC”, yang alhamdulillah, angkatan pertama telah terselenggara dengan baik selama 2 hari kemaren, berlangsung dari tgl 29 sd 30 November 2022, bertempat di gedung DPR-MPR RI, Senayan Jakarta.
Kegiatan NLC pertama tahun 2022 ini berjalan mulus, penuh suasana keakraban, selalu berfhoto bersama narsum dgn para peserta, dan alhamdulillah sukses.
Harapannya nanti bisa berdampak positif terhadap peningkatan kualitas SDM kader ICMI dan kinerja organisasi ICMI pada semua level. Program-program unggulan.ICMI untuk tahun ke 2 bisa dishare ke Orwil dan Orda, bahkan Orsat-orsat, karena MPP ICMI akan menerapkan kebijakan desentralisasi, orwil dan orda ICMI diupayakan diberdayakan, diberi mainan berupa program seperti pertanian dalam menciptakan ketahanan pangan dll, agar ICMI dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, rakyat di daerah-daerah dan pelosok negeri ini. InsyaAllah.
Hadir peserta cukup besar ada sebanyak lk 270 orang, yang terdiri dari unsur pengurus ICMI Pusat (Orpus), wilayah (orwil), Daerah (Orda) dan Badan Otonom (Batom) ICMI dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah para senior dan tokoh ICMI seperti Prof Jimly Assidiqie (Ketua Wanhat ICMI Pusat, anggota DPD RI) berbicara mendalam tentang Dinamika Sejarah dan Khittah ICMI, Dr H Ilham Akbar Habibie (Ketua Wankar ICMI Pusat) berbicara tentang peran strategis Iptek dalam mensejahterakan Rakyat, dan 5 (lima) orang Menteri Kabinet Jokowi juga hadir sebagai pemateri yakni Dr Zulkifli Hasan (Mendag RI, juga selaku Ketua Wantim ICMI Pusat), ErickTohir Sudabutar/Menteri BUMN RI yang cukup memukau atas kemajuan kinerja dan laba BUMN yang telah memberikan kontribusi kepada negara yang meningkat karena ekosistem lingkungan bisnis BUMN yang kian membaik, Prof Syahrul Yasin Limpo (Mentan RI) didampingi para Dirjen, Dr. Suharso Monoarfa (Meneg PPN/Kepala Bappenas RI), Bahlil Lahadalia (Meninves RI/Kepala BKPM Pusat), vigur ini sangat baik dengan, beliau berdonasi untuk merenovasi gedung sekretariat “Graha ICMI” semakin cantik dan modern, terima kasih Menteri Bahlil.
Sedangkan acara pembukaan NLC pertama thn 2022 diisi laporan pelaksanaan dari Ketua Panitia Pelaksana (OC) NLC yang juga OC Silaknas ICMI thn 2022, Dr.Doni Yusri (Wasekjen MPP ICMI). Kemudian ada sambutan dan arahan dari Ketua Umum MPP ICMI, Prof Arif Satria (ASA) yang menyampaikan seputar materinya tentang Watak Suritauladan Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW, yakni siddiq, amanah, fathonah dan tablig yang dinarasikan dengan runtut, berbobot sungguh menarik, logik, dan menambah wawasan pikiran (mindset) serta menyentuh hati (qalbunsalim) dari segenap peserta NCL yang hadir memenuhi ruang Nusantara V Gedung DPR-MPR RI di Senayan Jakarta tersebut
Demikian yang saya dengar dan tangkap informasinya dari para hadirin. Acara pembukaan NLC pertama ini yang memberi sambutan selaku tuan rumah Ketua MPR RI, Dr Bambang Susatyo (Waketum DPP Partai Golkar, dan sebelumnya pernah menjadi Ketua DPR RI).
Ketua MPR RI berpesan dan berharap adanya peningkatan peran dan fungsi ICMI dalam berkontribusi terhadap penyempurnaan dan penyusunan berbagai regulasi dan kebijakan publik (public policy) yang sdh ada atau belum ada di negeri ini. Selanjutnya ICMI bisa berperan dalam menjembatani berbagai aspirasi dan kepentingan umat Islam Indonesia dengan Pemerintah, sehingga persatuan dan kesatuan (ukhuwah) bangsa terus terwujud yang semakin berkualitas.
Menurut pendapat saya, sambutan dan harapan Ketua MPR RI tersebut perlu diperhatikan/disambut dengan baik, dan ini sangat relevan dengan lingkup (rana) pengabdian ICMI yang bersifat reflektif (konsepsi) dan praksis mampu menghasilkan kebijakan publik (public policy) dan program aksi pemberdayaan masyarakat, yang baik dan berkualitas dalam upaya memperkokoh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebab, kita paham bahwa kualitas public policy yang terjamin kualitasnya, apabila didukung dan ditopang oleh keterlibatan dari kaum terpelajar dan terdidik yaitu Cendekiawan Muslim Indonesia, yang terus peduli, berpikir dan bersuara ke publik apa dan bagaimana seharusnya dikerjakan Pemerintah dan para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya. Kita sangat paham kekuatan pemikiran (Intelectual power) yang pada umumnya mendahului dan menggerakan perubahan sosial dan budaya.
Keterlibatan atau keikutsertaan kaum cendekiawan (intelektual) dalam proses dan dinamika pembangunan nasional, regional dan daerah serta lokal merupakan suatu keharusan (keniscayaan), jika bangsa dan negara/NKRI ini berkemajuan dan berperadaban. Negara yg sukses adalah pemerintahannya berhasil melindungi, memajukan dan mencerdaskan kehidupan rakyat dan bangsanya, serta ikut aktif dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian abadi sebagaimana amanah Pembukaan UUD 1945.
ICMI adalah salah satu Organisasi Kemasyarakat Islam yang berwatak Keislaman/beriman-bertaqwa, Keindonesiaan/kebangsaan dan Kecendekiawanan (akademisi dan pakar) hendaknya adalah menjadi mitra sejati, berkalaborasi dengan Pemerintahan RI untuk mensukseskan pembangunan nasional, kawasan dan daerah di seluruh Indonesia guna memasuki usia 100 tahun Kemerdekaan RI pada tahun emas 2045 yang akan datang.
Salah satu ajakan dan tantangan dari beliau, Dr Suharso Monoarfa/ Menteri PPN/Kepala Bappenas RI adalah agar ICMI bisa mengkaji stategi dan taktis, pendekatan pengembangan SDM berkualitas dalam memanfaatkan bonus demografi Indonesia.
Saya AA juga menyimak dari konten atau pesan (massages) sambutan 5 (lima) orang Menteri RI dalam event NLC, narasi ceramahnya juga hampir atau relatif sama pesannya yaitu mengajak ICMI bersinergi-berkalaborasi dalam membantu penyelesaian tugas pembangunan nasional.
Bahkan Mentan RI, Prof Syahrul Yasin Limpo mengajak untuk menandatangani perjanjian (MoU) antara ICMI di Pusat dan Daerah dengan Kementan RI dan Dinas Pertanian yg ada di daerah-daerah bekerjasama dalam implementasi program ketahanan pangan, terutama di era krisis dan resesi ekonomi yg diprediksi akan muncul thn depan 2023.
Selain itu, mereka yakni para penyelenggara negara dan pemerintahan tersebut, juga menyampaikan informasi optimis dgn narasi beberapa “success story” berdasarkan data yang mereka miliki dan sajikan dalam slide power point (ppt) berupa “info grafis” di layar.
Alhamdulillah para peserta NLC ICMI 2022 angkatan pertama cukup ramai dan antusias, berebut ingin bertanya ditujukan kepada narasumber atau pembicara.
Acara dialog dan diskusinya sangat berbobot, apalagi nara sumbernya para elite politik dan para Menteri dan Pimpinan K/L negara (the ruling party). Saya mendapat informasi dari Ketua OC NLC pertama Dr Doni, memang katanya arahan dari Ketum MPP ICMI, panitia hanya menerima Menteri saja.
Jika diwakilkan lebih baik ditunda saja pertemuan di kemudian hari dengan Menteri yang berhalangan hadir di forum NLC tersebut. Saya senang dan bangga mendengar informasi yg tegas tsb, berarti Pimpinan ICMI memiliki fassion dan marwah (dignity).
Kita dapat simpulkan bahwa event NLC ICMI itu, memang hebat dan mantap betul. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda mulai bangkit kembali ICMI berkiprah di masyarakat, dimana 5 Menteri bisa dihadirkan pada forum.yg sama, yakni National Leadership Camp pertama thn 2022, dalam waktu satu hari, bukan berhari-hari. Sekali lagi, selamat dan sukses berprestasi buat kepemimpinan MPP ICMI.
Alhamdulillah, subhanallah dapat disimpulkan berhasil.
Dengan adanya informasi kemajuan dan permasalahan yang dihadapi itu, tersaji pada presentasi “info grafis” dari para Menteri negara tersebut, maka barangtentu hal tersebut akan mengundang kepedulian kita selaku kaum Cendekiawan terhadap nasib rakyat, sekaligus bisa mempertebal pula semangat kebangsaan (nasionalisme) para fungsionaris dan aktifis ICMI untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada rakyat, umat, bangsa dan negara.
Penyelenggaraan NLC ICMI selama dua hari tersebut, dan baru pertama kali dilakukan, maka jujur saya berkata bahwa kegiatan NLC ini telah sukses meningkatkan wawasan, menyegarkan, menyadarkan dan reorientasi komitmen fungsionaris dan aktivis ICMI menjadi kader umat dan bangsa.
Menurut pendapat saya bahwa, kehadiran forum NLC ini adalah sebuah terobosan-baru (inovasi) yg cerdas dan cemerlang dikerjakan pimpinan MPP ICMI, yang telah mampu menyegarkan pikiran (mindset) dan keteguhan hati para peserta, yang notabenenya adalah jajaran Majelis Pengurus ICMI dalam kontek dan perspektif Khittah, Watak Wawasan dan Lingkup Pengabdian ICMI sebagaimana isi AD dan ART ICMI.
Kegiatan sejenis NLC perlu dilanjutkan, dengan penyempurnaan materi kurikulum dan silabus serta modul materi yang semakin baik, relevan kebutuhan zamannya, terutama fokus pada sistem nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kecendekiawanan.
Indikasi keberhasilan ini tampak dari beberapa komentar, respon dan pertanyaan para peserta NLC pertama dalam sesi hari ke 2 berdiskusi, tanya jawab dengan para nara sumber atau pemateri NLC. Diantaranya terdapat statemen, ungkapan yg tulus diantara peserta jika ada kegiatan NLC seperti ini, diselenggarakan lagi, mereka tertarik akan ikut lagi, dan juga berbagai apresiasi yang muncul dari para narasumber, diantaranya Prof. Din Syamsuddin (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Wantim MUI Pusat, dll), yang berbicara tentang “Strategi pembangunan peradaban Umat Islam Indonesia”.
Beliau menyarankan agar kegiatan “pelatihan kepemimpinan” semacam NLC ini agar terus diperbanyak, sebab membangun.mindset amatlah penting utk mendorong berkalaborasi untuk kemajuan umat dan peradaban bangsa. Bahkan beliau Din menyarankan ditambah materi atau temanya selain “leadership” juga “enterpreunership”.
Demikian pula, sejumlah komentar dan opini yang sama disampaikan Prof Komaruddin Hidayat (Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia) tentang peningkatan kualitas SDM ICMI, dan bpk Dr.Muhammad Qudori (Direktur Lembaga Survey Indobarometer) berbicara yang begitu menarik mengenai “Peta Perpolitikan Indonesia”.
Dengan sajian data yang cukup menarik dari angka-angka hasil Pemilu dimulai sejak 1955 hingga tahun 2019, dimana dinamika perpolitikan nasional dan posisi “Parpol-parpol Islam”, ada gejala kecenderungan mengalami penurunan dalam hal dukungan suara. Faktor penyebabnya apa, ini perlu didalami dan dianalisa oleh para ilmuwan dan pakar ICMI agar tepat merumuskan strategi dan taktis bagaimana memenangkan pemilu atau Pileg, Pilpres dan Pilkada yang menerapkan demokrasi-liberal yang berbiaya tinggi (high cost) di Indonesia saat ini, tetapi produk demokrasinya person penyelenggaranya berkapasitas rendah (low quality of leader).
Sistem nilai demokrasi tidak ada falsafah Pancasila. Hal ini tentu tidak sejalan dengan isi Sila ke 4 Pancasila yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. Menurut pendapat Prof Din Syamsudin, praktek berdemokrasi di Indonesia bertentangan dengan kandungan sistem nilai Sila ke 4 tersebut, akibatnya struktur penyelenggaraan negara dan pemerintahan menjadi rusak dan jika dibiarkan akan mengganggu kultur bangsa Indonesia yang berkeadaban.
Saya AA agak terkesima dan terharu mendengar uraian dan narasi Prof Din Syamsuddin, memang beliau pakarnya dan praktisi/aktivis serta tokoh dunia yang memotori forum-forum dialog “Kerukunan umat beragama dan perdamaian dunia”, dan bpk Prof. Din dikenal luas dan berpengalaman banyak di lingkungan masyarakat internasional di sejumlah negara.
Pokoknya, dapat kita simpulkan bahwa kegiatan NLC ICMI pertama thn 2022 di level Pusat, nasional ini sangatlah bermanfaat. Sepantasnya kita berikan appresiasi kepada MPP ICMI atas kerja-kerja kreatif dan inovatifnya. Mudah-mudahan dilanjutkan di Orwil, Orda dan Orsat, sehingga adanya konsolidasi organisasi, penguatan kelembagaan (kode etik), kepengurusan dan kondisolidasi keanggotaan yang berjenjang, maka kehidupan berorganisasi ICMI semakin kondusif, solid, solutif dan produktif sesuai dengan tageline ICMI: Inspiratif dan Transformatif.
Di penghujung rangkaian atau diakhir acara NLC pertama tahun 2022, Dr H Arie Ginanjar (CEO ESQ), yang terkenal sangat profesional dalam membangkitkan dan menggali sistem nilai (value system) spiritual bagi para peserta NLC, subhanallah beliau berhasil pula membangkitkan alam bawa sadar dengan menyentuh hati (qalbunsalim) para peserta NLC sampai meneteskan air matanya untuk berkomitmen, lebih peduli dan proaktif memperhatikan nasib dan dinamika perjalanan Pemerintahan dan Kehidupan Kenegaraan RI saat ini, perlu upaya-upaya perbaikan (restorasi) moral dan etika (akhlaq) elite kepemimpinan nasional dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang kini cenderung menurun kualitasnya, agak mengkhawatirkan dan membayakan keberlanjutan NKRI.
Hasil pooling elektronik sejumlah peserta NLC ICMI pertama 2022 diperoleh penilaian tipe pemimpin Indonesia masih buruk, masih memikirkan ago-sendiri berada pada level 2 (dari skala 5 level) budaya korupsi masih sangat kuat, belum selesai mengurus diri dan keluarganya.
Harapannya, sehingga memasuki tahun emas 2045, NKRI bisa dipimpin oleh kaum terdidik dan terpelajar (intelektuil), Cendekiawan Muslim Indonesia yang mampu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, berkemajuan dan berperadaban berdasarkan falsafah dan dasar negara Pancasila, serta UUD 1945, yang asli 18 Agustus 1945).
Oleh karena itu, peningkatan kualitas kader-SDM 5-K ICMI melalui gelaran kegiatan NLC menjadi sebuah kebutuhan dan keniscayaan untuk mampu berperan kepemimpinan ICMI, baik kini dan masa depan, masyarakat industri 4.0 dan atan 5.0. InsyaAllah
Akhirnya, kita mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya segenap MPP ICMI dibawa kepemimpinan tokoh milenial mas Prof.Arif Satria, dan juga segenap jajaran Panitia baik OC dan SC Silaknas ICMI thn 2022. Semoga Allah SWT membalas segala usahanya menjadi amal-soleh, diberikan pahala oleh Allah SWT untuk bekal kehidupan akhirats kelak, Aamiin-3 YRA.
Jayalah ICMI kita.
Penulis adalah Pendiri-Ketua Wanhat MPW ICMI Orwilsus Bogor, Wasek Wankar ICMI Pusat, Wakil Ketua SC Silaknas ICMI 2022, Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Pegiat aktif di bebarapa Ormas dan LSM, serta Pengamat Sosial





