SURIAH (LEAD.co.id) – Pemimpin ISIS, Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi dilaporkan tewas saat serangan pasukan Amerika Serikat (AS) di Suriah, pada Kamis (3/2/2022). Qurayshi meledakan diri saat pasukan AS mengepung tempat persembunyiannya.
Sumber-sumber lokal yang dikutip BBC mengatakan, pasukan khusus AS mendapatkan perlawanan sengit di lapangan. Mereka ditembaki dengan senjata anti-pesawat yang dipasang di atas kendaraan.
Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan, pasukan AS berhasil mengevakuasi 10 orang dari rumah itu, termasuk delapan anak.
Mereka yang tewas dalam serangan termasuk salah satu deputi Qurayshi dan istrinya. Keduanya sempat menembaki pasukan AS.
Selain itu, Kirby mengatakan bahwa, pasukan AS berhadapan dengan sekelompok orang yang mendekati area itu selama misi berlangsung dan “dianggap sebagai musuh”, yang berujung pada tewasnya dua orang dari mereka.
Ketika diserbu, Qurayshi meledakkan sebuah alat peledak di lantai tiga rumah, yang menewaskan dirinya sendiri beserta istri dan dua anaknya.
Qurayshi kemudian diidentifikasi “melalui sidik jari dan analisis DNA”, kata Kirby.
Operasi itu menargetkan sebuah bangunan perumahan tiga lantai di pinggiran Kota Atmeh, Provinsi Idlib Utara, Suriah. Presiden AS, Joe Biden mengatakan, tewasnya Qurayshi itu menghapus ancaman teroris besar bagi dunia
Wilayah tersebut adalah kantong kekuatan kubu milisi yang merupakan rival sengit ISIS, serta faksi pemberontak yang memerangi pemerintah Suriah dengan dukungan dari Turki.
Berdasarkan laporan intelijen, Qurayshi tinggal bersama keluarganya di lantai dua sebuah bangunan perumahan di Atmeh. Dari situ, ia menjalankan ISIS dengan menggunakan kurir untuk menyampaikan perintahnya di Suriah dan di tempat-tempat lain.
Qurayshi yang juga menggunakan nama alias Hajji Abdullah, Amir Mohammed Said Abdul Rahman al-Mawla, dan Abdullah Qardash itu menjadi pemimpin ISIS pada 2019, menyusul kematian pendahulunya Abu Bakr al-Baghdadi. Ia adalah seorang jihadis veteran yang lahir di Mosul.
Meski kelompok teror itu mengumumkan pengangkatannya sebagai pemimpin empat hari setelah kematian al-Baghdadi Oktober lalu, Qurayshi diyakini sudah lama dipersiapkan untuk peran tersebut dan sengaja dijauhkan dari medan perang untuk mengantisipasi jika ia perlu mengambil alih kepemimpinan.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: BBC News

