Site icon LEAD.co.id

Pengembangan Seni-budaya Generasi Muda Kuansing Riau

Caleg DPR RI, Pemilu, Apendi Arsyad, Masa Lalu

Dr Apendi Arsyad

Oleh: Apendi Arsyad

Beberapa hari lalu, saya sudah memposting berita buruk (bad news) dimana Kuansing sedang mengalami “gawat darurat” penyalahgunaan Narkoba, terutama disinyalir pemakainya para generasi muda. Jika demikian faktanya, maka sekolah-sekolah Dikdasmen di daerah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) lebih tertantang untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, terutama dalam hal pembinaan watak, karakter atau akhlaq mulia dari para murid, pelajar dan siswanya.

Salah satu pendekatan dan intrumen pendidikan karakter di sekolah adalah pengembangan pembinaan pendidikan Seni-Budaya, seperti seni suara (vocal dan paduan suara), band pelajar, seni tari, seni melukis, pementasan seni drama, dll.

Alhamdulillah, saya pernah melihat aneka gambar postingan atraksi Seni Teater / drama, Tari, Bernyanyi / olah Vokal dan puisi dari Siswa-Siswi SMAN Cerenti pada acara perpisahan sekolah tahun 2021 yang sangat menarik dan menghibur. Kegiatan pentas seni-budaya di SMAN Cerenti diposting di medsos via WAG IKKS oleh adinda Yusrizal, guru kesenian SMAN Cerenti, dan anak muda Cerenti yang sangat produktif berkarya.

Oleh karena itu, saya berpendapat bagus ini untuk dikembangkan minat dan bakat seni drama (teater) Generasi Muda Cerenti hingga tuntas. Artinya anak-anak Cerenti yang berbakat kita didik dengan baik, sehingga bisa menjadi pemain dan pekerja seni-budaya kreatif yang profesional, yang bisa mendatangkan penghasilan dan pendapatan untuk bekal hidupnya.

Selain itu, dengan berkembangnya industri kraetif melalui kegiatan pertunjukan seni-budaya, sekaligus dapat mencegah terjadinya perbuatan kriminal seperti pencandu narkoba yang kini mulai marak di daerah Kuansing.

Mari kita hantarkan mereka, anak didik kita, yang belajar di sekolah, menjadi pelaku seni-budaya kreatif, inovatif dan profesional, yang suatu ketika nanti bisa mendukung industri kreatif di daerah Rantau Kuansing Provinsi Riau.

Harapannya bisa dalam jangka panjang berperan dan akan berkontribusi dalam pengembangan ekonomi daerah berbasis budaya kearifan lokal-tradisional (local wisdoms) dari nagori Kuansing yang berkemajuan hebat dan bermartabat yang menjaga marwah nagori Rantau Kuansing.

Langkah pembinaan dan pengembangan seni budaya teater, seni lukis, seni suara dll, jika dilakukan Pemkab Kuansing
sejak dini, maka kita akan bisa memetik hasilnya beberapa dasa warsa mendatang. Proses pembinaan seni budaya banyak hal yang dilakukan seperti pembentukan dan pembinaan sanggar Seni-Budaya di setiap Kecamatan dan atau Desa, penyediaan sarana-prasarana peralatan seni-budaya, pelatihan tenaga ahli dan para pelaku seni dan budayawan, sasaran didik yang diambil pelajar dan siswa berbakat menonjol dari Generasi Muda.

Selanjutnya buat agenda program dan kegiatan pementasan, penyelenggaran event-event perlombaan seni-budaya dalam rangka pembinaan kader dan pementasan hiburan seni-budaya rakyat yang berbayar (sediakan panggung). Kemudian usaha promosi melalui program wisata dan mega event Pacu Jalur misalnya perlu dimanfaatkan sebagai media.

Semua rangkaian kegiatan pembinaan seni budaya lokal-tradisional, jika ingin maju dan berkembang memerlukan sinergi-kalaborasi dari berbagai pihak (multi stakeholders) dan dukungan pendanaan APBD untuk pembiayaannya, dibawa kendali pimpinan daerah.

Arena-arena pementasan Seni budaya Teater (drama) dan sanggar-sanggar seni-budaya lainnya sebenarnya sudah sejak lama ada di Desa-desa di Rantau Kuansing. Sebut saja diantaranya adalah komunitas seni Randai, seni drama/teater, seni olah vokal (bernyanyi pop), komunitas seni Dzikir Badontuang, komunitas seni tari tradisional, komunitas Rabbana ibu-2 majelis Taklim, dan yang terkenal Seni Tari/Pencak Silat Pangean dll.

Berbagai jenis seni-budaya tradisional tersebut sudah tumbuh dan berkembang, hidup dalam masyarakat kita. Walaupun kondisi keberadaannya, meminjam istilah orang kampuang masih jalannya “terseok-seok” (tertatih-tatih). Atau dengan kata lain, sanggar Seni-Budaya lokal “hidup enggan mati tidak mau”, akibat kurangnya perhatian dan lemahnya pembinaan. Kasihan jika kita memperhatikan keadaannya di kampung-kampung belakang ini.

Selama ini saya mendapat informasi, jika tak keliru, memang belum mendapat perhatian Pemerintah baik dari bantuan dana pusat APBN, maupun APBD daerah. Mereka komunitas-komunitas seni-budaya yang dilakoni warga masyarakat lokal tersebut masih tumbuh secara alamiah saja atas kekuatan swadaya masyarakat itu sendiri, seperti Sangar Seni yang dibuat bang Syafrizal di Desa Kampung Baru Kecamatan Cerenti, Kuansing.

Ke depan hendaknya, dalam rangka membangun masyarakat Kuansing yang berbudaya-maju dan berperadaban, maka seharusnyalah sudah menjadi perhatian Pemkab Kuansing cq Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Industri Kreatif Kabupaten Kuantan Singingi.

Harapannya, pihak Dinas-dinas atau OPD/SKPD terkait melakukan pembinaan dan memberikan bantuan sapras seni budaya ke masyarakat komunitas seni tersebut, terutama komunitas seni di kecamatan yang sudah ada sanggarnya dan berpotensi untuk dimajukan (scaling-up, menjadi industri kreatif), jika dana APBD Kuansing masih minim dan tidak mencukupi, maka bisa diusulkan dana pembinaan seni-budaya yang bersumber dari APBN tentu ditempuh jalur melalui Ditjen Kebudayaan Kemenparbud RI Jakarta.

Soal dana pembinaan dan pembinaan kebudayaan ini, saya pernah mendapat informasi melalui webinar IKKS se Indonesia dari Kepala Dinas Pariwisata Riau abang Yose Rizal dan abang Dr.Indra/Kadisbudpar Kuansing, bahwa jika tak salah saya mengutip, kata bang Yoserizal, bahwa sebenarnya banyak dana-dana APBN tersedia untuk pembinaan dan pengembangan kebudayaan tradisional daerah, akan tetapi selama ini usulan (proposal) program dan kegiatan seni budaya dari daerah Kabupaten yang masih sangat kurang, diterima oleh pihak Kementerian terkait.

Jadi persoalan kita saat ini adalah perlu adanya tenaga ahli sumberdaya manusia-birokrat dibantu tenaga pendamping konsultan bekerjasama dengan Toko masyarakat (Tokmas) / Budayawan untuk merancang proposal “desain program dan kegiatan seni dan budaya lokal- tradisional”, yang akan diwujudkan dalam bentuk sebuah proposal “Pembinaan minat-bakat Seni-budaya Generasi muda Kuansing” yang objektif dan rasional sesuai kebutuhan, yang selanjutnya proposal bisa diajukan komunitas masyarakat Seni-Budaya tersebut ke Pemerintah Pusat melalui Disparbud Kuansing dan Provinsi Riau.

Tokmas budayawan atau seniman, seperti yang sudah ada di Cerenti yang bisa diajak berunding oleh pejabat Dinas, tokmas budayawan Cerenti diantaranya adalah abang H. Syafrizal bin Syafii, adinda Yusrizal bin Rajinan, Rose binti Syafrizal dkk untuk mewujudkan gagasan pembinaan dan pengembangan Seni-Budaya daerah ini.

Gagasan pengembangan Sanggar Seni Teater dan Lukis pernah saya sampaikan kepada bang Syafrizal Syaf beberapa tahun lalu, ketika saya pulang ke Cerenti, akan tetapi hingga sekarang belum ada sentuhan Pemkab Kuansing sama sekali terhadap usaha-usaha yang dikerjakan adinda Yusrizal dan abang Syafrizal Syaf dengan Sanggar Seni-Sastra “Studio 16 YSR’ yang kini sdh bermilad ke 25 thn di Cerenti.

Mereka ini membina kader-kader muda sastrawan Melayu Cerenti, dan giat melakukan atraksi seni-budaya, menekuni pengembangan sastra daerah, tspi masih dalam skala kecil, terbatas dan atas swadaya, modal dan biayanya sendiri.

Padahal Sanggar Seni Lukis dan Drama (Teater) dan Seni suara (olah vokal) yang telah dilakoni para seniman Cerenti seperti bang Syafrizal Syaf (pensiunan guru PNS) dan adinda Yulizar AMd (guru kesenian SMAN Cerenti) telah melahirkan banyak karya lukisan, puisi, kader-kader seniman muda, rekaman video dengan para penyanyi anak-anak muda Melayu yang berminat dan berbakat.

Alhamdulillah itu semua mereka sudah laksanakan dgn baik dan sangat hasilnya yang bagus, dan video rekaman sudah menghiasi banyak media sosial di negeri ini.

Saya mengusulkan untuk pengembangan SDM seni budaya bagi generasi muda Kuansing baik kini dan masa depan perlu ada perhatian Pemerintah dan tokoh masyarakatnya. Saya melihat memang, negara belum hadir di Kuansing khususnya di Kecamatan Cerenti untuk pelaksanaan diklat-diklat seni budaya bagi para pemuda desanya.

Marilah kita renungkan bersama dan bertindaklah proaktif, kreatif dan inovatif untuk memajukan kebudayaan negeri kita Kuansing Riau dgn banyak cara dan jalur aksesnya.

Sesungguhnya peluang-peluang untuk dana hibah yang bersumber dari APBN untuk pembinaan dan pengembangan Kebudayaan Daerah/Lokal- Tradisional cukup besar, anggaran Triliyunan rupiah secara nasional.

Saya tahu informasi ini dari teman saya Ketua Dewan Kebudayaan dan Kesenian Kota Bogor, asal Tokmas (budayawan / seniman) didukung Pemerintahan setempat mau dan siap membuat proposal pembinaan “Seni Budaya” sesuai format yang ada dan ditujukan ke Ditjen Kebudayaan Kemenbudpar RI Jakarta. Informasi dana hibah ini bisa diakses melalui internet-geogle (website Kemenbudpar).

Jadi tugas sekarang agar kita mendapat fasilitas berupa sarana kesenian harus rajin berkomunikasi baik secara horisontal antar sesama budayawan, dan secara vertikal Tokmas dengan pihak Pemerintah baik di pusat maupun Daerah / Dinas Kebudayaan setempat. Dengan bahasa Cerenti yang lainnya… “ilmu caro-2 manjuluak” (loby-loby) wajib dipelajari dan dikuasai.

Inilah salah satu kelemahan kita selama di Pemkab Kuansing Riau, yang sebaiknya dibenahi oleh seorang vigur Pemimpin Daerah yang visioner dan gesit dalam membangun jejaringan dengan key person di Pemerintahan Pusat di Kementerian dan Lembaga Negara (K/L), dalam hal ini aktornya tentunya adalah Bupati dan Wabup Kuansing.

Semoga Nagori Rantau Kuansing kita berbudaya, bermarwah yang sejajar taraf hidup dan tingkat kemajuannya dgn negeri/daerah lainnya yg telah maju dan berperadaban yang dibanggakan warganya.

Ingat moto Kuansing “Basatu Nagori Maju..tigo tali sapilin.” Salam kayuah-Kuyuang/Jalur. Go a head !

Penulis adalah Orang asli Cerenti kini mukim di Ciawi Bogor, berprofesi sebagai Dosen, Konsultan K/L negara dan Pegiat serta pemerhati Sosial, serta Pendiri-Ketua Dewan Pembina Yayasan Arsyada Cerenti Madani

Exit mobile version