Media di Indonesia terasa seperti menjadi lebih praktis seiring perkembangan teknologi ini. Kemajuan ini pula yang mendorong dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bukan saja halnya untuk bertukar informasi pribadi namun media menjadi sarana untuk mengkritik dan mengeluarkan opini.
Misalnya komika asal Indonesia, Kiky Saputri yang melakukan kritik kepada pemerintah lewat lagu Welcome To Indonesia. Dimana liriknya diubah sesuai dengan kondisi Indonesia sekarang. Lewat kritikkannya Kiky menganggap bahwa apa yang dilakukannya tidak begitu parah. (Detikcom 14/07/2021)
Sebelum adanya media sosial dan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, televisi menjadi salah satu saluran utama untuk mengkritik pemerintah. Masyarakat dapat menggunakan siaran berita sebagai platform untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Beberapa saluran televisi memiliki program diskusi atau wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang dapat digunakan untuk mengungkapkan pendapat dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Seperti program Mata Najwa yang tayang setiap Rabu malam di Trans7. Mata najwa merupakan program gelar wicana dipandu oleh seorang jurnalis senior Najwa Shihab. Acara tersebut dikenal sebagai acara untuk merespons jika terdapat suatu isu atau fenomena. Program Mata Najwa juga sering kali menjadi acara untuk mengutarakan suara rakyat yang jarang didengar oleh pemerintah.
Banyak saluran televisi memiliki segmen atau program di mana masyarakat dapat mengirimkan surat pembaca atau melalui telepon untuk menyampaikan pendapat dan kritik mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mengkritik pemerintah melalui saluran televisi. Misalnya seperti satu acara televisi dengan judul warkop DKI yang banyak menampilkan adegan serta dialog komedi yang menyelipkan sindiran sindiran untuk pemerintah di masa itu.
Perkembangan teknologi di zaman sekarang sudah sangat pesat. Dimana semakin berkembangnya zaman maka teknologi juga semakin canggih. Pengguna internet dari tahun ke tahun pun semakin meningkat. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023.
Kitapun sudah hidup di era digital yang perubahannya sangat cepat terjadi bahkan perubahannya tanpa kita sadari. Media sosial menjadi salah satu bukti, nyatanya jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 191 juta orang pada Januari 2022 (DataIndonesiaId).
Membahas mengenai media sosial, salah satu media sosial yang sedang menjadi tren saat ini adalah TikTok. Tiktok telah mengalahkan aplikasi besar lainnya seperti facebook dan instagram (Ferdiansyah, 2020).
Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite, aplikasi video pendek ini memiliki 1,05 miliar pengguna di seluruh dunia pada Januari 2023. Hal tersebut terjadi lantaran penggunanya terus meningkat, di Indonesia sendiri sebanyak 109,9 juta pengguna.
TikTok sendiri merupakan salah satu platform media sosial yang telah mengalami perkembangan pesat sejak diluncurkan pada tahun 2016. Kehadirannya di Indonesia mampu mencuri perhatian masyarakat khususnya kalangan anak muda untuk menuangkan imajinasi dan mengekspresikan kreativitas mereka dalam membuat video hiburan berdurasi singkat dengan berbagai tema mulai dari komedi, membuat makanan, make up, horor dan sebagainya.
Meskipun TikTok lebih dikenal dengan konten-konten yang bersifat hiburan, beberapa pengguna aktif memanfaatkan platform ini untuk menyampaikan pendapat politik mereka.
Baru-baru, pemilik akun TikTok @awbimaxreborn atau nama asli Bima Yudho Saputro seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Australia menjadi viral usai membuat konten berjudul “Alasan Kenapa Lampung Gak Maju-Maju”.
Dalam konten itu, Bima menyindir kondisi sejumlah sektor di Provinsi Lampung. Di antaranya mengenai infrastruktur, proyek Kota Baru, pendidikan, tata kelola birokrasi, dan pertanian. Bima juga menyebut infrastruktur seperti jalanan di Lampung banyak yang rusak, lalu proyek Kota Baru juga disebut mangkrak sejak lama.
Selain itu, Bima menyoroti masalah pendidikan di Lampung yang tidak merata, hingga ketergantungan akan pertanian, tapi tidak mampu mengontrol harga di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, Bima juga sempat menyebut dirinya berasal dari Provinsi ‘Dajjal’ sembari menunjuk slide Provinsi Lampung.
Video tersebut kemudian viral hingga sampai ke salah satu advokat Lampung sekaligus pegawai Gubernur Lampung bernama Ghinda Ansori Wayka. Ghinda pun menyebut opini Bima tidak berdasar dan tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya. Karena itu, ia segera melaporkan Bima ke polisi dengan tuduhan ujaran kebencian.
Selanjutnya laporan telah diterima oleh pihak kepolisian pada 13 April 2023 lalu. Kepala Bidang Humas Polda Lampung, Komisaris Besar (Kombes) Zahwani Pandra Arsyad menyebut pelaporan tersebut terkait dugaan pelanggaran terhadap UU ITE.
Dilansir dari Manadonesia, mendengar kabar ini Presiden Jokowi pun menugaskan Tito Karnavian untuk memanggil Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi yang merupakan kader dari partai Golkar (Golongan Karya) karena kinerja Gubernur tidak sejalan dengan program pembangunan infrstruktur yang telah direncanakan Presiden.
Berita ini pun mendapat banyak atensi dan kometar dari para warganet yang ikut geram pada pemerintah Lampung karena tak terima dengan kritikan Bima. Beragam sekali komentar yang ada mulai dari dukungan untuk Bima hingga komentar yang mengandung sarkasme dan blak- blakan untuk pemerintah Lampung.
Tiktok memiliki power sebagai salah satu media untuk mengkritik pemerintah, seperti kasus serupa yang terjadi di Aceh. Seorang wanita bernama Rahma pemilik akun tiktok @rahma_11.11 juga pernah menjadi sorotan usai mengkritik Pemerintah Acah.
Dalam videonya, Rahma mengungkapkan soal keluhannya terhadap Pemerintah Aceh soal infrastruktur yang ada di wilayah tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga mengkritik Pemerintah Aceh karena banyak akses jalannya yang rusak. Menurutnya hal itu terjadi karena banyaknya pejabat daerah di wilayah Aceh yang diduga korupsi.
The ABC (2011) – Media sosial membungkus perangkat digital yang memungkinkan terjadinya kegiatan komunikasi dan berbagi melintasi jaringan. Media sosial digunakan secara produktif oleh seluruh ranah masyarakat, bisnis, politik, media, periklanan, polisi, dan layanan gawat darurat. Media sosial telah menjadi kunci untuk memprovokasi pemikiran, dialog, dan tindakan seputar isu-isu sosial.
Media sosial secara umum terus mengalami pertumbuhan pengguna. Banyak orang dari berbagai kelompok usia dan latar belakang bergabung dengan platform-media sosial, termasuk TikTok. TikTok telah memberikan platform bagi pengguna untuk mengungkapkan kritik terhadap pemerintah dengan menggunakan video pendek. Melalui efektivitas algoritma TikTok, konten yang mengkritik pemerintah dapat dengan cepat menyebar dan mencapai audiens yang lebih luas.
Pengguna TikTok menggunakan platform tersebut untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkaitan dengan tindakan pemerintah. Konten kritik terhadap pemerintah yang diunggah di TikTok dapat memicu diskusi dan debat yang lebih luas di masyarakat. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan platform TikTok untuk mengakses hal-hal positif yang bermanfaat dan menambah wawasan.
Seperti isu diatas, Fenomena ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Semenjak era media sosial, masyarakat bisa berpendapat bebas di internet tentang segala hal termasuk mengkritik pemerintah. Selain kasus jalanan rusak di Lampung viral dan pemerintah daerah turun tangan, ada beberapa kasus lainnya yang bisa dijadikan sebuah “bukti” bahwa benar pemerintah baru bergerak jika sudah viral.
Tak hanya perkara infrastruktur, mereka juga lambat dalam menjamin fasilitas kesehatan. Kasus ini sangat mendukung opini kami bahwa pemerintah bekerja dengan lambat, selalu mengesampingkan kewajiban mereka untuk melayani kebutuhan rakyat demi kepentingan pribadi.
Pemerintah seharusnya menjalankan tugasnya tanpa harus menunggu aduan dan kritikan dari masyarakat di media sosial. Dan jika pemerintah membatasi kebebasan berpendapat tersebut maka Indonesia akan mengalami kemunduran.
Penulis: Raia Destara M, Silvi Khairunisa, Queeny Adinda





