Oleh: Rifky Hamidah
Banjir merupakan musibah yang sering terjadi di Indonesia, menyebabkan kerugian besar dan kesengsaraan bagi penduduk. Masalah ini tidak hanya disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga oleh pengelolaan lingkungan yang buruk, perubahan fungsi lahan yang tak terkendali, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat ekosistem. Dalam situasi rumit ini, mahasiswa memegang posisi penting yang layak diperhatikan.
Mahasiswa merupakan bagian masyarakat yang memiliki akses ke pengetahuan, jaringan sosial, dan sikap kritis yang kuat. Dengan keunggulan ini, mereka bisa bertindak sebagai pelopor perubahan dalam upaya mengatasi banjir. Kontribusi mereka tidak terbatas pada ruang kuliah atau perdebatan akademis, melainkan bisa diimplementasikan melalui kegiatan praktis di masyarakat.
Lewat program pengabdian, mahasiswa mampu memberikan pendidikan kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai, mengelola limbah dengan tepat, dan mengatur lingkungan secara lestari. Pendidikan semacam ini krusial karena banjir sering diperburuk oleh kebiasaan masyarakat yang membuang sampah seenaknya.
Selain itu, mahasiswa bisa berfungsi sebagai sukarelawan saat banjir datang. Berbagai kelompok kampus telah terbukti turun tangan membantu evakuasi korban, membagikan bantuan, dan membersihkan area setelah bencana. Tindakan solidaritas ini menunjukkan bahwa mahasiswa bukan sekadar pengamat, tetapi peserta aktif dalam penanganan musibah. Keberadaan mereka di lokasi memberikan semangat baru bagi masyarakat yang terkena dampak, sekaligus mempertegas nilai kemanusiaan sebagai dasar pendidikan tinggi.
Tak kalah signifikan, mahasiswa memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian dan kreasi. Dengan analisis yang mereka miliki, mereka bisa memetakan zona rentan banjir, menelaah perencanaan kota, dan merancang alat sederhana seperti aplikasi peringatan awal. Kajian mahasiswa juga bisa menjadi sumbangan berharga bagi pemerintah lokal dalam merumuskan aturan lingkungan yang lebih mendukung kelestarian.
Pendapat aktivis lingkungan semakin menegaskan pentingnya peran mahasiswa. Fauzan Rachmansyah, pendiri Green Merah Putih, menyatakan bahwa banjir di Sumatra tak lepas dari masalah ekologi akibat ulah manusia. Ia menyoroti kebutuhan untuk melindungi hutan dan ekosistem sebagai pertahanan alami melawan banjir, serta mendesak kaum muda menjadi penggerak reformasi kebijakan lingkungan. Pandangan ini selaras dengan sikap mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan publik dan berani mengadvokasi kepentingan masyarakat.
Mahasiswa juga bertugas sebagai penghubung kerjasama. Melalui organisasi kampus atau komunitas, mereka bisa menjalin kemitraan antara masyarakat, pemerintah, dan LSM untuk bersama-sama menangani banjir. Kolaborasi antarpihak ini vital karena masalah banjir tak bisa diatasi oleh satu entitas saja. Diperlukan sinergi antara regulasi pemerintah, partisipasi warga, dan kontribusi akademisi agar solusi yang dihasilkan benar-benar efisien.
Akhirnya, partisipasi mahasiswa dalam mengatasi banjir merupakan manifestasi dari semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi: pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan menggabungkan ketiganya, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton bencana, tetapi pemain kunci dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap banjir. Peran ini juga menegaskan bahwa mahasiswa bukan sekadar pewaris generasi, melainkan barisan depan dalam menghadapi krisis lingkungan yang makin rumit.
PenutupBanjir bukanlah sekadar bencana alam, melainkan refleksi dari krisis pengelolaan lingkungan dan kurangnya kesadaran bersama. Di hadapan tantangan ini, mahasiswa muncul bukan hanya sebagai pewaris bangsa, tetapi sebagai garda terdepan yang mampu menyatukan ilmu, tindakan sosial, dan suara etis. Sebagaimana ditegaskan oleh aktivis lingkungan, banjir adalah hasil dari kerusakan ekologi yang harus segera diperbaiki melalui gerakan kolektif.
Dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa bisa menjembatani teori dan praktik, menghubungkan masyarakat dengan kebijakan, serta menghadirkan inovasi yang sesuai. Kontribusi mereka bukan hanya membantu saat bencana terjadi, tetapi juga mendorong transformasi struktural agar banjir tidak lagi menjadi siklus penderitaan rutin.
Pada dasarnya, banjir adalah ujian bagi solidaritas sosial dan kepedulian ekologis kita. Mahasiswa, dengan idealism dan energi muda, memiliki peluang besar untuk mengubah ujian ini menjadi momentum kebangkitan gerakan lingkungan. Jika peran ini dilaksanakan secara konsisten, maka mahasiswa bukan hanya akan diingat sebagai generasi penerus, tetapi sebagai generasi penyelamat yang menegakkan harapan di tengah krisis.
Penulis adalah Mahasiswa Semester 5 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor (IUQI)





