Oleh: Muhammad Azrin
Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik dunia yang semakin mendekati Perang Dunia Ke 3, arah ekonomi nasional kini bergeser menjadi sebuah strategi pertahanan hidup yang radikal. Konsep ekonomi yang dikenal sebagai “Prabowonomics” tidak lagi sekadar menjadi instrumen pertumbuhan, melainkan sebuah siasat bertahan hidup (survival strategy) bagi bangsa Indonesia. Kebijakan ini menekankan bahwa di dunia yang kian tidak stabil, kemandirian mutlak atas sumber daya dasar adalah satu-satunya pelindung nyata dari badai konflik global yang bisa pecah kapan saja.
Ketakutan akan perang nuklir bukan lagi sekadar narasi fiksi, mengingat risiko konfrontasi langsung antar-kekuatan besar kian terbuka. Dampak tidak langsung dari konflik tersebut, seperti fenomena Musim Dingin Nuklir (Nuclear Winter), diprediksi akan menghancurkan sistem agrikultur global secara serentak. Dalam kondisi ini, Prabowonomics memandang pangan bukan lagi komoditas dagang, melainkan amunisi strategis. Bangsa yang masih bergantung pada impor untuk mengisi piring rakyatnya akan menjadi bangsa yang paling rentan tersungkur saat jalur logistik dunia terputus oleh peperangan.
Kemandirian pangan diposisikan sebagai fondasi utama dalam arsitektur ekonomi mode perang ini. Melalui penguatan lumbung pangan nasional dan optimalisasi lahan produktif di berbagai wilayah, pemerintah berupaya menciptakan sistem imunitas yang memungkinkan Indonesia untuk tetap bernapas meski dunia sedang lumpuh. Strategi ini mengharuskan Indonesia lepas dari ketergantungan benih dan pupuk asing, memastikan bahwa setiap bulir pangan yang dihasilkan adalah murni produk kedaulatan tanah air yang tidak bisa disandera oleh embargo negara mana pun.
Namun, kedaulatan ini mustahil tercapai tanpa adanya regenerasi di garis depan pertanian. Prabowonomics mengirimkan sinyal kuat kepada anak muda dan masyarakat perkotaan bahwa sektor agraria adalah medan pengabdian baru. Anak muda didorong untuk memimpin revolusi pertanian modern dengan bantuan teknologi, mengubah citra petani dari sekadar profesi tradisional menjadi “penjaga gerbang terakhir” ketahanan bangsa. Keterlibatan generasi digital dalam mengolah bumi adalah kunci untuk memastikan stok pangan nasional tetap terjaga di tengah ancaman krisis tenaga kerja.
Gerakan ini juga merambah ke tingkat akar rumput melalui ajakan bagi setiap rumah tangga untuk mulai bertani dan berkebun secara mandiri. Pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lumbung kecil adalah siasat cerdik untuk mendesentralisasi ketahanan pangan.
Dengan menanam sendiri kebutuhan pokok secara mikro, masyarakat secara kolektif mengurangi kerentanan nasional terhadap gejolak harga pangan dunia. Semakin banyak rakyat yang mampu memberi makan dirinya sendiri, semakin kokoh pula pertahanan negara dalam menghadapi tekanan ekonomi luar.
Sejarah mengajarkan bahwa dalam masa perang, sistem keuangan bisa runtuh dan nilai mata uang bisa menguap, namun tanah yang subur dan air yang bersih akan selalu menjadi aset paling berharga. Prabowonomics mengarahkan investasi nasional pada sektor-sektor riil yang mendukung kelangsungan hidup manusia. Ini adalah bentuk ekonomi yang membumi, di mana kesuksesan tidak hanya diukur dari angka di bursa saham, tetapi dari ketersediaan pangan di setiap meja makan rakyat, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun.
Siasat bertahan hidup ini juga mencakup ketahanan energi yang bersumber dari kekayaan alam domestik. Transisi menuju energi mandiri dilakukan agar mesin ekonomi dan militer tetap bergerak tanpa harus menunggu pasokan minyak dari zona konflik.
Dengan menyatukan kedaulatan pangan dan energi, Indonesia sedang membangun benteng pertahanan non-militer yang sulit ditembus, memberikan jaminan keamanan bagi 280 juta rakyatnya dari ancaman kelaparan dan kegelapan akibat krisis global.
Prabowonomics adalah sebuah peringatan sekaligus peta jalan bagi seluruh elemen bangsa untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk di tahun 2030 dan seterusnya. Kemerdekaan yang sejati di masa perang adalah kemerdekaan untuk tidak bergantung pada belas kasihan negara lain untuk bertahan hidup.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah yang tegas dan kemandirian rakyat dalam bertani, Indonesia optimis dapat menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian ini sebagai bangsa yang berdaulat dan tangguh.

