LEAD.co.id | Sebanyak 25 unit rumah warga di wilayah Jawa Timur (Jatim) mengalami rusak berat (RB) akibat gempa M5,9. Ratusan rumah lain mengalami kerusakan dengan tingkat sedang atau rusak sedang (RS) dan rusak ringan (RR) berdasarkan pemutakhiran data dari BPBD terdampak per Senin (24/5), pukul 07.00 WIB.
Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB menerima laporan data total rumah RB berjumlah 25 unit, RS 210 dan RR 692. Tak hanya kerusakan di sektor pemukiman, gempa mengakibatkan fasilitas umum RS sebanyak 50 unit dan RR 9.
Sementara itu, korban luka masih tercatat dengan rincian luka berat 1 orang di Kabupaten Blitar dan luka ringan 2, yang teridentifikasi di Kabupaten Malang dan Pasuruan. Korban luka telah mendapatkan perawatan medis dari fasilitas medis setempat.
Sejumlah rumah warga tersebut mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda akibat gempa M5,9 dengan kedalaman 110 km. Gempa terjadi pada Jumat (21/5), pukul 19.09 WIB berpusat 57 km tenggara Kabupaten Blitar, Jatim.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa merespon cepat bencana ini dengan meninjau beberapa lokasi di Kabupaten Blitar, pada Sabtu (22/5/2021). Dia berharap agar perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa dapat segera dilakukan.
Gubernur juga minta agar BPBD Jatim melakukan mitigasi bencana secara kontinyu dan lebih komprehensif khususnya di wilayah Selatan Jatim.
“Dulu yang sudah diexercise Pacitan dan Banyuwangi, tetapi saat terjadi gempa, yang terdampak justru di Malang, Lumajang dan sebagian Blitar,” katanya.
Selain itu, pembuatan konstruksi bangunan tahan gempa jg harus dioptimalkan di wilayah selatan Jatim, sebab wilayah itu merupakan titik ring of fire pulau Jawa. Saat terjadi gempa, maka resonansinya bisa antar pulau atau antarprovinsi.
Gubernur lalu menjelaskan, salah satu bentuk mitigasi bencana komprehensif yaitu, lewat kehadiran kampung/desa tangguh bencana (Destana) atau kampung siaga bencana.
Kehadiran Desa Tangguh Bencana itu penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kemandirian masyarakat sebagai antisipasi berbagai bencana, seperti, banjir, gempa atau angin puting beliung.
Setiap desa tangguh, nantinya harus ada lumbung sosial. Lumbung sosial ini berbeda di setiap potensi kebencanaan. Misalnya daerah potensi banjir di lumbung sosial disiapkan perahu karet, tali, dll.
“Nanti akan dilakukan pemetaan kembali kampung siaga bencana atau kampung tangguh sesuai dengan potensi resiko bencananya,” ungkapnya.
Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi
Sumber: BNPB & BPBD Jatim





