PAMEKASAN (LEAD.co.id ) – Ketua Pengurus Wilayah Perkumpulan Guru Madrasah Nasional Indonesia (PW PGMNI) Moh Ali Muhsin mengatakan, MTQ harusnya menjadi momentum silaturahmi dan silatul afkar bagi masing-masing kafilah dari berbagai kabupaten/kota di Jatim.
Menurutnya, bertemunya para pecinta Al-qur’an di kota gerbang salam ini harus menjadi motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kecintaanya terhadap al quran. Yaitu dengan rajin mambaca dan mengamalkan pesan yang terkandung dalam ayat-ayatnya.
“Melaui MTQ ini kita harus mengajak dan mengampanyekan cinta al quran kepada anak muda. Kalau rasa cinta sudah tumbuh dalam diri mereka maka mereka pasti mengamalkan ayat ayat yang terkandung didalamnya,” katanya, Kamis (15/10/2021).
Di lapangan, kata Ali Muhsin, MTQ seakan-akan hanya menjadi ajang persaingan semata. Dampaknya hubungan silaturahmi antar kafilah kurang terjalin dengan baik. Nah, hal-hal seperti itu justru keluar dari maksud dan tujuan MTQ digelar.
Sebab itu, pria yang juga pernah menjadi peserta MTQ JATIM di Blitar ini berharap MTQ jangan hanya dijadikan ajang persaingan. Tapi harus dijadikan momentum untuk saling sharing bagaimana antar peserta bisa membumikan al quran.
“MTQ bertujuan untuk mendorong umat Islam mempelajari kitab suci Alquran sebagai pedoman hidup dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sebaliknya, menjadi ajang persaingan di antara kafilah yang sedang bertanding,” ungkapnya.
Bagi pria kelahira Sumenep ini, MTQ jangan hanya sekedar melahirkan juara-juara. Tapi juga bagaimana mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi yang bisa direalisasikan oleh masyarakat atau pemerintah.
“Saya berpikir andai dalam setiap MTQ ada rekomendasi khusus (dari masing-masing kabupaten) yang diberikan kepada pemerintah setempat khsuusnya dalam upaya peningkatan keagamaan itu lebih keren kayaknya,” katanya.
Karena itulah, lanjut mantan aktivis HMI ini mengatakan, tujuan MTQ yang sudah digelar sejak tahun 1968 ini dapat dikembalikan seperti semula. Di antara kafilah dapat terjalin silaturahmi yang baik dan saling tukar menukar pemikiran selama terlaksananya musabaqah.
Seperti yang tertuang dalam Pertimbangan Permenag 15 tahun 2019 tentang MTQ dan STQ.
“Tujuanya untuk memelihara, mengembangkan, dan atau meningkatkan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan, dan/atau penyebarluasan al-qur’an,” tukasnya.
Kendati demikian, MTQ menurutnya bukan menjadi satu-satunya cara agar generasi muda atau masyarakat bisa mencintai dan mengamalkan ayat al-qur’an. Tapi, banyak cara yang bisa dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh guru ngaji dan guru-guru Madrasah.
“Kami sampaikan terimakasih kepada guru ngaji atau guru Madrasah yang dengan semangat mengajari anak-anak bisa membaca dan mengamalkan ayat al qur’an,” tandasnya.
Reporter: Kholisin Susanto
Editor: Moh Hasanuddin





