Refleksi Akhir Tahun: Potret Sirkulasi Demokrasi dan Nomokrasi di Bangkalan

oleh -289 views
Ketua PBNU, PBNU, HMI, Mahmudi
Mahmudi, Instruktur Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan

Oleh: Mahmudi

Di penghujung tahun 2021, tahun yang penuh dengan kenangan pahit manis sudah tertoreh dalam lembaran kisah tahun ini, khususnya bulan ini, Desember. Setelah peristiwa Erupsi beberapa bulan lalu, sederetan aksi mewarnai list dan daftar mines Polres Bangkalan, juga perihal kasus Sertifikat Tanah beberapa bulan lalu yang dirasa tidak elok jika dilupakan.

Masyarakat dan mahasiswa agaknya sudah terangsang untuk membangunkan Polres Bangkalan, yang terlihat tidak begitu banyak berperan menstabilkan keamanan kabupaten. Pasalnya, masih marak pencurian motor, sabung ayam, bahkan sabu-sabu pun sudah dengan mudah menyelinap masuk kepedesaan.

Ketika melihat ulang sejarah, yang konon katanya latar belakang Bangkalan menjadi daerah yang berkembang diawali sejarah perkembangan Islam pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur, anak dari seorang raja di Arosbaya, raja Pragalba.

Baca :  Bangkalan Zona Merah Covid-19, Pilkades hingga Pasar Rakyat Jadi Sorotan

Lemah Dhuwur, menurut cerita rakyat dikisahkan, jauh sebelum dia dinobatkan sebagai seorang raja untuk menggantikan ayahnya yang wafat, diceritakan ia pernah bermimpi dikunjungi oleh orang-orang yang mendesaknya untuk masuk Islam, yang akhirnya kejadian ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian meminta Empu Bageno seorang yang dipercaya kerajaan untuk mempelajari Islam di Kudus.

Permintaan ini diselesaikan dengan baik sesuai yang diharapkan, Empu Bageno masuk Islam atas bimbingan Sunan Kudus. Dia kembali ke Arosbaya dengan membawa informasi dan wawasan keislaman, Empu Begono mengenalkan dan mengajarkan agama Islam tersebut kepada Pangeran Pratanu, namun ia pun marah setelah mengetahui bahwa Bageno pindah ke Islam, mendahului dia.

Baca :  Mahasiswa Ingatkan Prabowo: Demokrasi Mati Jika TNI Intervensi Sipil

Akan tetapi Empu Begono, kemudian menjelaskan bahwa Sunan Kudus mengharuskan dia untuk masuk Islam sebelum memperdalamnya sehingga tidak ada alasan untuk Empu Begono untuk menolaknya, yang penjelasan tersebut diterima oleh Pratanu. Kemudian dia sendiri memeluk Islam dan banyak belajar dari Empu Bageno, yang dari sini pula asal muasal dia nantinya menyebarkan agama itu ke setiap orang di Arosbaya.

Dari penggalan cerita ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Bangkalan adalah sebuah daerah yang sebab berkembangnya dikarenakan agama Islam, sehingga seharusnya sangat disayangkan jika nilai-nilai ke-Islaman sedikit demi sedikit harus dilunturkan atau tercemar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Terlebih sangat menjadi PR besar jika ketertiban dan kemaslahatan masyarakat terus menjadi pertanyaan, entah disebabkan kepemimpinan yang tidak kondusif atau karna terlalu banyak penjegalan keindipendenan dari pihak-pihak yang di gelari Bajingan?.

Baca :  Demokrasi Bungkus Syahwat Kekuasaan oleh Orang-orang yang Gagal Paham

Terlepas dari itu semua, sudah selayaknya dan menjadi tanggung jawab bersama seharusnya. Melihat banyak gapura-gapura desa yang bertuliskan Desa Dzikir & Sholawat, namun miris ketika banyak begal-begal hak rakyat, carut-marut sistem pendidikan bahkan pemuda-pemuda terlantar sebab ditinggal orang tuanya merantau, hingga akhirnya salah pergaulan dan memilih jalan yang tidak benar, dengan mengkonsumsi narkotika, dugem dan lain sebagainya.

Sehingga, sejatinya hal ini harus ada perhatian lebih, baik oleh pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait, dengan segala upaya sebisa mungkin, dengan membangun SDM misalnya, memberikan penyuluhan tentang bahaya narkotika, dan upaya-upaya lainnya.

 

Penulis adalah Mahasiswa STIU Darussalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *