Oleh: Dr. Bambang Wahyu
Alkisah seorang laki-laki bersama anak laki-lakinya pergi ke pasar hendak menjual keledai mereka. Laki-laki itu menyuruh anaknya menaiki keledai. Tak lama mereka berpapasan dengan laki-laki muda, yang berjalan sambil ngomel, “Dasar anak durhaka… bapaknya disuruh berjalan, dia malah enak-enak naik keledai!!…” .
Mendengar omelan itu, sang anak menyuruh ayahnya menunggang keledai, ia sendiri berjalan di depannya. Kemudian mereka berpapasan dengan perempuan setengah baya. Dengan kesalnya, perempuan itu mengumpat, “Bapak tak tahu diri… anaknya malah disuruh berjalan kaki!!”.
Mendengar umpatan itu, akhirnya mereka berdua berjalan kaki sambil menuntun keledainya ke pasar. Dan lagi-lagi mereka berjumpa dengan kakek renta yang berjalan dengan tongkat. Kakek itu tersenyum sinis sambil berkata, “Bapak dan anak kok sama bodohnya… punya keledai bukan ditunggangi malah dituntun…!!”.
Dari cerita ini, kebenaran ternyata bergantung dari pengamatan saat itu, hic et nunc tanpa melihat kejadian-kejadian sebelumnya.
Bagi positivisme logis, kebenaran sains diperoleh melalui pengalaman empiris (laki-laki muda, perempuan setengah baya, dan kakek). Apa yang dilihat dan dialami itulah kebenaran. Ada garis demarkasi yang rigid antara kejadian faktual dan kejadian sebelumnya. Yang meaningful adalah kejadian faktual. Yang sebelumnya meaningless .
Berdasarkan konteks itu, sains membangun fondasi epistemologinya. Sains harus berangkat dari realitas objektif apa adanya. Perilaku ilmiah ini yang mengarah pada over-determinasi kebenaran sebagai saintisme.
Kita dapat mengkonstruk-nya melalui pertanyaan: “Apakah ada sehelai daun yang jatuh dari pohon yang tidak diketahui manusia?”.
Pertanyaan ini cukup pelik. Jika menjawab “ya” konsekuensinya ada realitas mandiri tanpa intervensi manusia. Dengan teori posibilitas, ada dedaunan yang berguguran dari pohon. Tapi itu adalah hipotesa yang evidensinya harus dibuktikan dengan pengamatan langsung. Hipotesa adalah kesimpulan sementara yang bersifat prediktif.
Jika jawabannya “tidak” berarti pengamatan empiris tidak melihat atau mengalami kejadian daun yang jatuh tadi. Evidensi pengetahuan bergantung dari subjektivisme yang mengalaminya. Kebenaran bergantung pada pengalaman subjektif masing-masing sehingga bersifat relatif.
Permasalahannya adalah: Pertama, jika pengetahuan dikembalikan pada subjektivisme maka kebenaran sains adalah konstruksi manusia dengan parameter yang beragam. Banyak ilmuwan yang tidak setuju karena mengarah pada pseudo-science.
Kedua, objektivisme pun hanya sebagai hipotesa, bukan kebenaran faktual. Jika mengalami proses falsifikasi Karl Popper, dan ternyata salah, kebenarannya akan runtuh.
Untuk itu, kebenaran ilmiah tidak boleh mengklaim sebagai satu-satunya nilai kehidupan. Principle of tenacity akan membuatnya lebih adekuat.
Saintisme: Kebenaran Yang Mana? [Philosophy Corner by BW]

