BOGOR (Lead.co.id) — Forum diskusi kebudayaan Sawala Dasa Wacana kembali digelar di Saung Saidun Hamdanah, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Memasuki edisi ke-8, forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi pelaku seni dan kebudayaan untuk membaca ulang kondisi kesenian Bogor sepanjang 2025 sekaligus menatap arah ke depan di 2026.
Dengan mengusung tema “Menimbang Atmosfer Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026,” diskusi menghadirkan Putra Gara (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor), Aan Handayani (musisi dan pegiat seni Kota Bogor), serta Rahmat Iskandar (pemerhati seni budaya dan sejarah Bogor). Diskusi dipandu oleh Heri Cokro, penggagas sekaligus tuan rumah Sawala Dasa Wacana.
Sekitar 25 peserta dari berbagai komunitas hadir dalam forum tersebut, mulai dari Bogor Wanita Berkebaya (BWB), KPJ Merdeka Bogor, Komunitas 50+ Cabang Bogor, pewarta media, hingga relawan Daya Putra Bangsa. Diskusi berlangsung dalam suasana egaliter dengan format melingkar, menekankan dialog terbuka antar peserta.
Dalam pengantarnya, Heri Cokro menyampaikan bahwa Bogor memiliki modal kultural yang besar sebagai wilayah dengan akar budaya Sunda yang kuat dan dinamika komunitas seni yang terus bergerak. Sepanjang 2025, menurutnya, kreativitas tumbuh dari berbagai inisiatif warga, sanggar, hingga ruang-ruang alternatif. Namun, geliat tersebut belum terhubung dalam satu ekosistem kesenian yang berkelanjutan.
“Masalahnya bukan pada ketiadaan kreativitas, melainkan absennya ekosistem. Ruang temu terbatas, kebijakan belum berpihak, akses pembiayaan sempit, dan regenerasi seniman berjalan lemah,” kata dia, Selasa 13 Januari 2026.
Padahal, di tengah perkembangan teknologi digital, peluang kolaborasi lintas sektor justru semakin terbuka. Putra Gara menilai pertumbuhan kesenian di Bogor saat ini lebih banyak digerakkan oleh inisiatif mandiri komunitas. Ia menyebut semangat kolektif dan keberanian bereksperimen sebagai kekuatan utama. Namun, tanpa dukungan yang konsisten, potensi tersebut rentan padam.
“Kesenian kita sering diposisikan sebagai pengisi acara seremonial. Hadir sesaat, lalu hilang. Tidak ada kesinambungan yang menopang kehidupan para pelaku seni,” kata Putra. Menurutnya, kesenian seharusnya hadir sebagai praktik hidup masyarakat, bukan sekadar dekorasi kegiatan formal.
Diskusi juga mengungkap adanya jarak yang masih lebar antara komunitas seniman dan birokrasi. Hubungan keduanya dinilai belum dibangun di atas kepercayaan. Seniman kerap memandang birokrasi kaku dan tidak peka, sementara birokrasi belum sepenuhnya memahami peta dan dinamika kesenian di wilayahnya.
“Saling curiga ini membuat dialog kebudayaan berhenti di tataran wacana,” ujar Prasetya, salah satu peserta diskusi. Ia menilai kebijakan kebudayaan berisiko tidak menyentuh kebutuhan nyata di lapangan jika lahir tanpa dialog yang setara.
Sementara itu, Aan Handayani mengajak peserta melihat kesenian dari sudut pandang ekonomi dan perubahan zaman. Ia menilai eksistensi karya seni hari ini tidak lagi semata ditentukan oleh idealisme, tetapi juga oleh momentum ekonomi dan industri hiburan, seperti ajang pencarian bakat dan platform digital.
Aan menyoroti kemunculan generasi baru, khususnya Gen Z, yang berkarya tanpa beban romantisme idealisme lama. Mereka hadir sebagai kreator konten, selebgram, hingga tiktokers, yang memperoleh legitimasi seni melalui viralitas.
“Definisi karya seni sedang bergeser. Bentuknya semakin cair dan rujukan estetiknya pun berubah,” ujarnya.
Dari perspektif sejarah dan kebijakan, Rahmat Iskandar menilai sektor kebudayaan masih terpinggirkan sejak tahap paling awal. Profesi seniman, menurutnya, masih kerap diasosiasikan dengan ketidakpastian ekonomi. Pandangan tersebut terbawa hingga ke ranah pemerintahan, menjadikan kebudayaan bukan prioritas pembangunan.
“Selama kebudayaan terus dianggap beban, bukan investasi, maka anggaran dan kebijakan akan selalu setengah hati,” tegas Rahmat.
Meski menyadari diskusi ini belum sepenuhnya merepresentasikan kompleksitas kesenian Bogor, Sawala Dasa Wacana diposisikan sebagai ruang temu untuk membangun kesadaran kolektif. Forum ini mengusung semangat silih asih, silih asah, silih asuh sebagai fondasi dialog kebudayaan.
Diskusi ditutup tanpa rumusan kesimpulan final. Namun satu benang merah mengemuka: keberlanjutan kesenian Bogor hanya mungkin terwujud jika relasi antara seniman, masyarakat, dan birokrasi dibangun di atas dialog yang terbuka, setara, dan saling memperkuat—bukan sekadar saling menduga.

