Oleh: Rd. Ace Sumanta
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) semakin redup. Terlebih Indonesia dan hampir 102 negara di dunia dilanda Pandemi Covid 19. Kini Covid-19 semakin landai, namun tetap bangsa Indonesia belum bisa bangkit dari keterpurukan. Hal itu karena sekolah baru dibuka pada awal tahun 2022, walaupun belum bisa pulih 100 persen, belum lagi beberapa kendala teknis.
Gerakan literasi tidak bisa dihambat semestinya harus berjalan. Sebelum tahun 2019 atau sebelum Pandemi Covid-19, sekolah masih bisa melakukan gerakan membaca 15 menit sebelum masuk. Siswa diharuskan membaca buku bukan pelajaran, melainkan buku bersifat umum dan boleh juga membaca buku fiksi dan kearifan lokal.
Guru-guru terasa akrab dengan istilah GLS (Gerakan Litetasi Sekolah) dan WJLRC (West Java Leader Reading Challange) hingga GLN (Gerakan Literasi Nasional). Tentu saja hingga ke pelosok pedesaan.
Begitu juga saya sebagai sastrawan dan budayawan turut berkampanye hingga membuat Rumah Baca untuk turut serta mendorong dan melakukan gerakan yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat baca, terutama di kalangan pelajar dan remaja.
Sangat bermanfaat tentunya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) tidak hanya mengimplementasikan Permendikbud RI Nomor 23 tahun 2015 tentang Penyembuhan Budi Pekerti juga membiasakan anak-anak dan remaja membaca buku.
Oleh karena itu, pepatah mengatakan “Buku adalah Gudang Ilmu”, dan “Dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia”. Sungguh mulia tentunya cita-cita tersebut, kini telah redup dan mati suri.
Sekarang apa yang berkaitan dengan judul di atas bahwa “Sedekah Buku untuk Kemajuan Bangsa”. Tentunya sangat mulia gerakan sedekah buku. Tentu harus ada yang menampungnya.
Tentu saja, kami dari Yayasan Satya Citra Indonesia non-komersial bahkan lembaga peduli sosial siap menampung buku-buku sumbangan dari siapapun baik perorangan, lembaga dan penerbit bisa dialamatkan ke: Rumah Baca Ace Sumanta, alamat Kampung Nagrak RT. 02 RW. 05 Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor 16630, telp/WA: 085714737637.
Tentu saja kami berharap bisa didirikan perpustakaan di setiap desa, di mesjid, di cafe-cafe hingga di pangkalan ojeg. Jika gerakan ini sudah masif dan menjadi kebutuhan niscaya kecerdasan bangsa akan semakin teruji dan terukur. Banyak manfaat lainnya selain menghilangkan pengangguran dan mengikis waktu dikorupsi dengan sia-sia.
Jujur saja setelah penulis banyak keliling ke daerah dan ke kantor-kantor sangat sedikit yang memiliki pojok baca dan lemari buku yang bisa dibaca secara umum.
Hal tersebut adalah tantangan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah. Perlu diberdayakan ruang-ruang umum bersifat fasilitas publik. Taman-taman perlu dihiasi dengan taman bacaan. Pohon literasi yang disebut Pohon Gelis (Pohon Gerakan Lieterasi) harus ada dimana-mana.
Seiring dengan kebijakan itu, patut diimbangi dengan memperbanyak para penulis dari berbagai bidang dan latarbelakang belakang. Karya-karyanya dapat dicetak dengan gratis malah mendapatkan honor dan royalti akan banyak peminat. Kepedulian pemerintah sangat diharapkan jika anak bangsa ingin tumbuh dan dewasa serta berjiwa cerdas dan kreatif-inovatif.
Mari kita bangun generasi cerdas yang berkarakter. Manusia unggul yang mampu berjiwa yang jujur dan handal Sumber Daya Manusia (SDM)
Penulis adalah Budayawan dan penulis lepas; Penggerak Literasi, Ketua Umum Yayasan Budaya Hanjuang Bodas sekaligus Pengurus ICMI Orwilsus Bogor

