Sejarah Konflik NU, dari Gegeran ke Ger-Geran

oleh -772 views
Faizal Assegaf, Wiro Sableng, Menakar Persamaan, Perbedaan, Khotimi Bahri
Khotimi Bahri, Wakil Ketua Umum BKN

Oleh: Khotimi Bahri

Artikel ini terinspirasi tulisan KH. Imam Jazuli di TribunNews, 4 Desember 2021. Dari catatan beliau kita bisa napak tilas kembali beberapa moment krusial PBNU.

Sepeninggal Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri, yang wafat pada tanggal 25 April 1980 suasana NU kurang kondusif. Hal ini dilatar-belakangi oleh terpolarisasinya nakhoda NU kedalam dua kelompok. Satu terkenal dengan kubu Cipete dan satunya lagi terkenal dengan kubu Situbondo.

Tidak tanggung-tanggung, kedua kubu didukung oleh tokoh sepuh NU. Kubu Cipete dimotori oleh K.H. Idham Chalid sedangkan kubu Situbondo dimotori oleh K.H. As’ad Syamsul Arifin. Kedua kubu sama-sama bepegang pada keyakinannya. Sehingga sulit untuk dipersatukan. Berbagai upaya dilakukan, bahsul masail digiatkan untuk mencari titik temu tologis dan normatif. Berbagai referensi dihadirkan namun hasilnya tetap tidak menemukan kata sepakat.

Sebagai upaya mencari jalan penyelesaian, kubu Situbondo menggelar Munas dan menunjuk K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Panitia Muktamar. Tak mau kalah, kubu Cipetepun menggelar agenda yang sama dan menunjuk K.H. Chalid Mawardi sebagai Panitia Muktamar.

Baca :  PC NU Kota Bogor Terus Perangi Covid-19

Tentu hal ini semakin menambah keruwetan kedua kubu. Bahkan sebagai upaya mencari dukungan pemerintah orde baru yang sangat represif, kelompok Cipete segera menerima asas tunggal Pancasila mendahului kesepakatan kembalinya NU ke khittah 1926 dari kubu Situbondo yang sekaligus menerima pula Pancasila sebagai asas berbangsa.

Ger-geran ini memakan waktu yang cukup lama yaitu tiga tahun. Artinya selama tiga tahun NU terpolarisasi kedalam kubu Cipete dan kubu Situbondo. Sampai akhirnya beberapa kyai sepuh dan berpengaruh turun gunung menyelesaikan keruwetan ini.

Tepatnya pada tanggal 10 September 1984, berkumpulah para kyai sepuh ini, diikuti kedua kubu yang berseberangan di rumah KH. Hasyim Latief Ketua PWNU Jatim di Sepanjag Sidoarjo. Dalam pertemuan ini disepakatinya sebuah maklumat yang terkenal dengan nama Maklumat Keakraban. Maklumat ini ditanda tangani para kyai sepuh yang turun gunung tadi, yaitu : KH. As’ad Syamsul Arifien, KH.Ali Maksum, KH. Mahrus Aly, KH. Masykur, KH. Saefuddin Zuhri, KH. Ahmad Siddiq, dan KH. Idham Chalid.

Dengan maklumat ini berakhirlah konflik internal NU dan klimaksnya adalah terselenggaranya Muktamar NU ke 27 pada bulan Desember 1984 di Situbondo.
Suasana NU saat ini mirip sekali dengan apa yang terjadi 37 tahun yang silam. Dimana sudah bukan rahasia lagi ada kubu Rais Aam dan Katib Syuriah pada satu sisi. Sedangkan pada sisi yang lain ada kubu Ketua Umum dan Sekjen PBNU. Kubu pertama ingin menggelar Muktamar pada tanggal 17 Desember, sedangkan kubu kedua ingin menggelar Muktamar 31 Januari 2022.

Baca :  Merawat NU Menjaga Bangsa

Semestinya Muktamar digelar tanggal 23-25 Desember 2021 sebagaimana keputusan Munas dan Kombes di Jakarta pada bulan lalu. Namun, mengingat tanggal tersebut pemerintah akan memberlakukan PPKM level 3 secara nasional, maka tentu dampaknya pada rencana Muktamar NU.

Sebenarnya persoalannya sangat simpel dan sederhana, namun entah mengapa menjadi rumit. Apakah benar ini diakibatkan oleh perebutan ketua umum PBNU antara Katib Syuriah dengan ketua tanfidz saat ini. Atau terjadinya pergeseran pandangan teologis dari asy’airah wal maturidiyah ke muktazilah dalam persaingan calon ketua tanfidz sebagaimana disinyalir KH. Imam Jazuli pengasuh pesantren Bina Insan Mulia Cirebon. Wallahu a’lam.

Baca :  Bahtsul Masail NU Digelar di Bogor, Selanjutnya Munas di Sarang-Rembang

Yang pasti, ini daur ulang sejarah masa lalu, 37 tahun yang lalu. Hanya saja sejarah masa lalu berakhir indah dengan turun gunungnya para kyai sepuh dan berpengaruh. Mungkinkah saat ini akan juga berakhir indah?. Lantas siapakah para kyai sepuh yang harus turun gunung mencairkan suasana? Ataukah harus menunggu 3 tahun seperti kisah lama NU? Kita tunggu saja babak-babak berikutnya.

Sebagai santri, kita yakin bahwa NU akan bisa melewati semua persoalan karena pengalaman yang ada sekaligus petuah-petuah ‘langit’ yang akan turun pada saat yang tepat. Dan kitapun, pada akhirnya akan sam’an wa tho’atan.

 

Penulis adalah Wakil Katib PCNU Kota Bogor, Komisi Fatwa MUI Kota Bogor, Pembina PC-LBMNU. Alumni PP Mathlabul Ulum Jambu Sumenep, PP TMI-Al-Amien Prenduan Madura, sekaligus tafaulan mulazamah di beberapa pesatren seperti TQn Kaduparasi Labuan, Az-Zainiyah Sukabumi, Al-Ghazaly Bogor, Raudatul Hikam Cibinong. Alumni Aqidah Filsafat UIN Bandung dan Pascasarjana MPD IPB Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *