Oleh: Dr. Apendi Arsyad
Beberapa hari ini cukup ramai terinformasi di media sosial, viral, kita saksikan kesatriaan seorang Bupati.di Provinsi Riau yakni abang kita Muhammad Adil, Bupati Meranti memprotes perbuatan tidak adil bagi hasil minyak bumi.
Padahal kita tahu bahwa Kabupaten Meranti sebagai daerah sentra produsen minyak terbesar, tetapi dirasakan mendapatkan alokasi dana yg relatif sedikit, akibatnya Pemerintahan daerah Meranti kekurangan dana pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Sudah lama perbuatan tidak adil, semena-mena (abuse of power) terjadi di lingkungan masyarakat Riau. Akan tetapi para Tokoh masyarakat tidak berani bicara lantang, (mereka lebih nyaman berdiam diri) guna memprotes ketidak adilan bagi hasil bumi tersebut.
Kini telah tiba saatnya, muncul tokoh pemberani dan heroik melawan kesewenang-wenangan itu. Ini kabar gembira buat masyarakat Riau yang merindukan hadirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat di lingkungan masyarakat Riau.
Benar kata bak.. petata-petitih Melayu..
Etnis Melayu Riau jika diinjak-injak terus marwahnya (dignity), akan membangkit menimbulkan amarah ke ubun-ubun, dia akan meledak suatu waktu, melawan dengan cara yang dahsyatnya..alias tuntutan Merdeka.
Bagus ini sikap tegas pemberani Bupati Meranti ini yang sdh viral di medsos, agar mereka yg berkuasa di pemerintahan pusat, Jakarta dengan cara dan tindakan berupa regulasi dan kebijakan tidak adil, zholim selama ini, bisa terkoreksi, agar mereka sadar sesadarnya, adanya ketimpangan sosial yang semakin menganga di Riau. Melayu Riau sudah lama memang dizholimi.
Kita sangat paham bahwa daerah ini kaya sumberdaya alam, dibawah minyak Bbm dan diatas minyak, Cpo sawit, yang telah memberikan kontribusi terbesar pada GNP Indonesia. Akan tetapi local community etnis Melayu hidupnya tetap dalam kondisi miskin dan terbelakang.
Muhammad Adil kini Bupati Meranti, sangat sadar akan hal itu, beliau kini merupakan simbol perlawanan masyarakat Melayu Riau untuk merebut haknya atas sumberdaya alam yang dimilikinya. Dengan sikap pemberani abang Muhammad Adil, saya teringat tokoh legendaris, pemberani dan kritis Riau, tempo doeloe, yakni almarhum abang Prof Dr dr H Thabrani Rabb, dengan tulisan dan opini kristis di media massa membela masyarakat Riau.
Salah satu statementnya almarhum Thabrani yang amat terkenal di awal reformasi tuntutan.. “Riau Merdeka”. Akhirnya ketika itu para tokoh Riau tidak lagi disepelekan dan dipandang sebelah mata oleh Pemerintahan Pusat, lahirlah gerakan reformasi, dengan otonomi daerahnya, alokasi bagi hasil minyak pun diperjelas, yang bertujuan mempercepat kesejahteraan rakyat.
Nampaknya agenda dan misi mulia gerakan reformasi tidak berjalan lama dan tidak menjalar ke bumi Lancang Kuning Riau secara adil dan merata.
Faktanya kehidupan masyarakat lokal tetap miskin, terbelakang dan hidup susah, karena akibat ulah dari para elite politik dan birokrasi yg jiwa dan semangat kepemimpinannya menjauh dari aspirasi dan kemauan rakyat. Rakyat dilupakan dan ditinggalkan para elitenya.
Para elite politik, pemimpin Pemerintahan Riau, para Bupatinya sebagian besar terlibat perbuatan tercela, korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebagian yang apes ditangkap KPK, diadili dan masuk penjara. Mereka sehari-hari disibukan dengan berbagai kepentingan jangka pendek dan urusan keluarganya, antara lain membangun dinasti politik dan hidup mewah (hedonistic), yang akhirnya lupa daratan.
Muncul gaya dan gerak-gerik (gusture) kepemimpinan yang melakukan perlawanan dari abang kita, tokoh etnis Melayu, Muhammad Adil ini adalah peristiwa yang teramat langka, dan sesuatu yang dipandang sangat menarik.
Harapan kita hendaknya banyak para tokoh orang Melayu Riau yang berada di balakang barisannya.
Bak peribahasa urang Kuansing:
“Basatu Nagori Maju, Salam Kayuah”
Hidup abang kita Muhammad Adil berjuanglah sampai titik penghabisan, demi menegakkan marwan nagori Meranti yang kaya sumberdaya minyaknya, tetapi rakyatnya tetap miskin. Selamat berjuang, semoga Allah SWT menolong dan melindungimu dari perbuatan zholim.
Penulis adalah Penasehat IKPMR Bogor





