Sentra Ikan Hias Akan Digusur, Pemkot Bogor Tidak Konsisten

0
ikan hias, Kota Bogor
Depo pemasaran ikan hias, jalan Binamarga, Kota Bogor. (Foto: Bogor Lovely)

LEAD.co.id | Anggota Komisi IV DPR RI, Budhy Setiawan meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendukung para pedagang ikan hias yang berlokasi di depo pemasaran jalan Binamarga, Kota Bogor. Hal itu merespon aduan dari Paguyuban Ikan Hias kepada Rumah Aspirasi Budhy Setiawan, terkait rencana relokasi oleh Pemkot Bogor.

Merespon aduan tersebut, Budhy mengaku akan memfasilitasi pihak paguyuban ikan hias dengan Pemkot Bogor. Karenanya, lanjut dia, pedagang ikan hias kota Bogor telah memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), sehingga Pemkot Bogor seharusnya membantu meningkatkan budidaya maupun pemasarannya.

“Depo atau sentra ikan hias itu telah memberikan kontribusi PAD, sudah selayaknya Pemkot mestinya berupaya meningkatkan budidaya dan pemasarannya bukan malah sebaliknya,” ujar Budhy seperti dikutip jurnal inspirasi, Senin (22/6/2020).

Menurut dia, Kota Bogor hanya memiliki satu tempat sentra ikan hias di Jalan Binamarga, jika direlokasi ke Pasar Gembrong Sukasari harus memperhatikan keinginan paguyuban ikan hias. Pasalnya, ikan hias itu telah ekspor.

“Ikan hias Bogor itu dari dulu udah dikenal. Nah, kalau Pemkot peduli ini kan UMKM yang mestinya didukung bukan malah digusur,” keluh Budhy.

Sebelumnya, pihak paguyuban ikan hias menyampaikan keluhan Rumah Aspirasi Budhy Setiawan karena Pemkot Bogor tak lagi menerima sewa tempat di depo ikan Jalan Binamarga. Rencananya, Pemkot Bogor akan merelokasi 22 kios ikan hias tersebut ke Pasar Gembrong, namun tak ada sosialisasi dan surat resmi.

Alasan Pemkot merelokasi sentra ikan hias, karena tempat itu merupakan kawasan lindung, sebagai kawasan sempadan infrastruktur. Padahal, sesuai Perda Nomor 8 Tahun 2011, tempat tersebut adalah kawasan perdagangan dan jasa.

Karenanya, dengan fakta seperti itu, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Eka Wardhana menilai Pemkot Bogor tidak konsisten menerapkan kebijakan, sehingga menjadi preseden buruk.

“Tidak asal relokasi. Perlu kehati-hatian jangan ujug-ujug. Mestinya buat kajian dulu dan libatkan mastarakat. Perhatikan tempat relokasi yang baru infrastruktur dan sosialisasinya bagaimana. Masyarakat jangan dibuat kebingungan,” kata dia.

Reporter: Sally Sumeke
Editor: Rieke Ferra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here