BOGOR (LEAD.co.id) – Syarikat Islam (SI) Kota Bogor menggagas Sekolah Saudagar untuk mencetak para saudagar yang tangguh dan mempunyai kemampuan yang mumpuni. Lahirnya Sekolah ini mengembalikan pada spirit perjuangan lahirnya Sarekat Islam.
“Untuk mencetak para saudagar yang tangguh, dibutuhkan skill dan kemampuan yang mumpuni mengingat ekonomi ummat sedang terpuruk pada masa pandemi ini,” kata Ketua SI Kota Bogor, Subhan Murtadla dalam keterangannya, pada Selasa (11/1/2022).
Generasi milenial menjadi fokus pelaksanaan dari Sekolah Saudagar ini. Sehingga, kata Subhan, dapat melahirkan para saudagar muda yang tangguh, menguasai teknologi informasi dan pasar digital.
Sedangkan untuk para pengajar akan melibatkan semua pihak dan instansi pemerintah, berkolaborasi dan bersinergi menjadi mutlak utk membangun SDM yang berkualitas, mampu berdaya saing.
Menurut Subhan, latar belakang berdirinya Sekolah Saudagar SI Kota Bogor itu tidak terlepas dari sejarah lahirnya Sarekat Dagang Islam atau SDI. SDI merupakan sebuah perkumpulan para pedagang yang berganti nama menjadi organisasi pergerakan, Sarekat Islam (SI).
SDI didirikan pada tahun 1905 oleh para saudagar batik asal Surakarta, Jawa Tengah. Tokoh pendiri nya KH Samanhudi. Samanhudi terkenal sebagai tokoh perjuangan yang berjasa besar, menjadi motor pendirian SDI untuk memajukan perekonomian para pedagang Islam di Indonesia.
Berdasarkan anggaran dasar SDI, tujuan organisasi dagang ini adalah untuk mengembangkan jiwa berdagang, memberikan bantuan kepada para anggotanya, memajukan pengajaran dan percepatan kenaikan derajat Bangsa pribumi, dan menggalang persatuan umat Islam khususnya dalam kemajuan agama Islam.
Selaras dengan namanya, anggota SDI hanya terbatas pada pedagang yang beragama Islam. Namun, hal tersebut justru menghalangi SDI untuk mendapatkan anggota yang lebih banyak lagi. Maka dari itu, SDI berubah menjadi organisasi massa yang bernama Sarekat Islam atau SI.
Pada tahun 1912, SDI berubah menjadi Syarikat Islam (SI). Pada saat itu, HOS Tjokroaminoto terpilih menjadi ketuanya menggantikan H. Samanhudi. HOS Tjokroaminoto terkenal sebagai aktivis yang anti penjajah.
Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, SI berkembang menjadi organisasi pergerakan yang ditakuti oleh kolonial Belanda. Aktivitas politiknya sangat menonjol pada waktu itu. Meski demikian, SI masih mengurusi kegiatan ekonomi dan sosial anggotanya seperti tujuan awal berdirinya SDI.
Subhan mengatakan bahwa, banyak kader SI Kota Bogor yang menjabat sebagai Direksi Perumda di Kota Bogor yang akan dilibatkan dalam proses pembelajaran, dengan berbagai pengalaman memimpin perusahaan plat merah.
Di Kota Bogor banyak kampus yang dapat diajak untuk berkolaborasi, bersinergi. Membangun ekonomi ummat tidak bisa berjalan sendiri tanpa bekerja sama dengan berbagai pihak.
“Semoga dengan lahirnya Sekolah Saudagar Syarikat Islam ini, dapat memberikan sebuah solusi dalam membangun kedaulatan ekonomi rakyat, kemandirian ekonomi ummat,” kata Subhan.
Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi

