Site icon LEAD.co.id

Siapa Sebenarnya Si “Kambing Hitam” itu ? dan Ciri-cirinya

Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19

Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Dr. H. Apendi Arsyad

Bismillahir rahmanir Rahiem

Mencermati postingan Ikhwan kita ini yang mengekspresikan kegemasannya, dan “menggebu-gebu” sambil wajah melotot-menantang lawan ? (dugaan saya beliau adalah mantan aktivis HTI, insyaAllah tidak keliru, mhn maaf jika salah), karena menyebut HTI beberapa kali dalam narasinya di posting tsb.

Saya mengapresiasi semangat perjuangannya membela kebenaran (HTI yg dibubarkan, dituduh radikal), dan menanggapi kondisi muttakhir kehidupan sosial kebangsaan dan kenegaraan NKRI kita.
Beliau telah mengekspresikan kemarahannya yang sudah “keubun-ubun” kata org waras..gemas dan sdh sangat keterlaluan kezholiman regim ini, memfitnah HTI sebagai radikal mengancam NKRI. Padahal perbuatan mereka yg merusak NKRI seperti sederet kasus KPU- Masihu, korupsi BUMN PT jiwasraya, PT. Pertamina, kasus Daging, dana Haji, dana BPJS dll, begitu yang disebutkan beliau itu. Kita salut atas keberanian ikhwan kita itu, semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolongnya serta sehat walaffiat selalu. Amin3 YRA.

Melihat fenomena sosial yg tengah dan kini berlangsung di Tanah Air kita Indonesia, yg amat kita cintai ini, janganlah heran dan kaget atas perbuatan2 penyimpangan dan melawan hukum (law enforcement) tsb. Begitulah cara kerja mereka orang2 munafik yg kini bergentayangan di seputar kekuasaan dan elite parpol serta oligarky. Untuk menutupi kelemahan san kekurangab serta kebobrokan tingkah lakunya, ….Ya begitulah cara bekerjanya gemar dan senang “mencari kambing hitam”..sebab wajahnya saja memang sdh gelap ” hitam”, sehingga mata dan hatinya pun sudah “buta”, ngak mampu melihat yang mana yg benar (hak) dan mana yang salah (batil)..telah sesat dan menyesatkan.
Di akhirat kelak, ketika berbaris menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, mereka2 itu wajah hitam, pucat pasih, saling menyalahkan diantara mereka, penuh penyesalan atas perbuatannya di dunia. Mereka2 ksum kafirun dimasukkan golongan kiri, sebagai penghuni neraka bersama para seitan. Sedangkan golongan kanan wajahnya bersih berseri-seri, senang dan berbahagia sebagai calon penghuni surga. Itulah pelajaran (iktibar) di Al Quranul Karim yg diberitakan khabar gembira kpd kita ummat manusia, dan juga sekaligus peringatan bagi kaum pengikut seitan yg gemar mencari si “Kambing Hitam” berbuat fitnah tsb

Dalam Al Quran disebut manusia yg tidak mendapat cahaya- kebenaran, mereka org2 sesat dan menyesatkan, krn teman akrabnya adalah setan dan iblis (jin2 jahat).

Setan kita tahu spt diungkapkan di Al Quran, setan yg terkutuk itu sudah minta izin kpd Allah SWT ingin.mencari pengikutnya dgn menggoda anak adam/manusia, utk menjadi penghuni neraka. Misi besar hidupnya “kaum seitan” ini di dunia adalah agenda utamanya merusak ekosistem alam dan tatanan kehidupan sosial (bumi, fil ard) dengan membuat manusia menyembah berhala2, bukan menyembah Tuhan Allah SWT. Tuhan mereka berhala dunia berada pada 3 ranah yaitu (1) Tahta (politik sekularisme, ateisme, komunisme, marxisme, leninisme, kapitalisme, liberalisme, otoritarisme/firaunisme, abuse of power, inkonsistensi dalam membuat kebijakan publik, diskriminatif policy, dll; (2) Harta (gemar numpuk2 harta, konglomerat, hidup mewah dan berpoya-poya-boros/hedonisme, senang maling dan korupsi, penyalahgunaan narkoba, etc); dan (3) Wanita (sex bebas, gemar berzina, hobby dan mensupport LGBT, memperjualbelikan nanusia terutama perempuan/ trafiking, etc).

Simpulannya bahwa pekerjaan dan profesi utama mereka kaum munafikun, musyrikun; pasikun dan kapirun adalah “pelanggar Hak2 Azasi Manusia (HAM), dengan taktis strategi: jika bicara suka berbohong, jika berjanji suka ingkar, dan jika diberi amanah berhianat spt PKI lakukan di NKRI.

Demikianlah logikanya kita memahami fenomena sosial yg terjadi belakang ini. Tapi kita yg berimtaq kpd Allah SWT dengan tetap taat menjalankan syariahnya secara baik dan benar, tidak usahlah merasa takut, gentar dan khawatir Allah SWT bersama kita dan sdh menjamin kemenangan akan berada di tangan org2 mukmin. Dalam surat Al Qasas Allah SWT berfirman:
“..Yang hak akan datang, sedangkan yang batil.pasti binasa/lenyap..”

Lihatlah dan pahami sejarah NKRI para ulama dan santri begitu dominan perannya mengusir para penjajah (kolonial Belanda), sementara yg para munafaqun spt org2 PKI tidak ikut berjuang (berperang) dalam merebut kemerdekaan, justru yang mereka lakukan merongrong dan bahkan berkhianat terhadap NKRI yg telah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ingat dinamika sejarah moderen Indonesia di masa Orde Lama (1945-1965), pengawinan ideologi nasionalis, agama dan komunisme (Nasakom ala BK) telah gagal mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, NKRI hampir2 bubar (ambiyar). Oleh karenanya kita harus ingat juga pesan penimpin besar Revolusi BK..iingin menjadi bangsa yang besar jangan lupakan sejarah “jasmerah”, begitu kata BK. “Jasmerah” yang BK sebut, nampaknya tidak sama baju “jas merah” berwarnah merah yang dipakai anak dan cucunya BK..sayang kok sampai makna sangat berbeda dan.melenceng begitu jauh.

Memahami pola berperilaku “menyimpang” ini sesungguh tidak terlalu sulit bagi mereka yang mendapat hidayah Allah SWT.
Pesan Allah SWT dalam Al Quran menyebutkan, dalam menghadapi cobaan ini seperti fitnah ini dari orang2 munafiq, musyrikin dan kafirun, kita kaum mukminin haruslah selalu waspada dan tetap melawan menegakkan “amar makruf nahi mungkar” spt yang dilakukan pahlawan/mujahidin Bung Tomo di Surabaya bertempur melawan penjajah tentera KNIL sehingga Jenderal Malaby mati, dan lain2 perlawanan heroik yg dilaksanakan para mujahit di tanah air.

Kemudian ummat Islam selalu taat menegakan sholat yang khusuk memohon perlindungan san pertolongan Allah SWT dan sabar, serta hindari sikap “amarah” apalagi marah2 (sangat emosional) tak terkontrol itu berbahaya bagi perjuangan, mudah terkena jebakan “badman”. Jadi kita harus berhati-hati dan selalu tetap waspada yang tinggi, termasuk membaca berita2 palsu (hoaks) dari orang2 fasik, yang sifatnya mengadu-domba, sambil mencari “kambing hitam”, sebagai telah disinggung diatas. Faktanya skenario pembakaran bendera “PDIP” di waktu demontrasi besar2 ummat Islam menolak RUU HIP di DPR RI tempo hari eey “ternyata dari mereka sendiri”. Ini menjadi pelajaran yg menarik dan berharga bagi kita.

Sekian dan terima kasih
Wabillahit taufik walhidayah.

Penulis adalah Pendiri-Wakil Ketua ICMI Orwilsus Bogor

Exit mobile version