Hidup Beragama Tetapi Tidak Bertuhan

0
Apendi Arsyad, Budaya, Islam, Melayu
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr Ir. H. Apendi Arsyad MSi

Terima kasih atas kirim postingannya tentang narasi singkat riwayat perilaku Presiden Afrika Selatan (Afsel) Nelson Mandela (NM). Simpulan saya setelah membaca ceritanya begitu mengesankan kekuatan kepribadian seorang Presiden Mandela, pantas banyak dikagumi oleh masyarakat dunia.

Luar biasa mulianya pola berperilaku- akhlaqnya bapak Nelson Mandela, orangnya tidak pendendam dan bersedia berdamai dengan siapapun orang2 yang pernah memusuhinya dan bahkan menzhominya dan menyiksa beliau bertahun-tahun lamanya dalam penjara. Alm. Nelson Mandela dengan tegar dan sabar menggunakan sebagian besar umurnya untuk memperjuangkan kebebasan kaumnya orang2 kulit hitam yang ditindas lama oleh kaum kulit putih.

Pemerintahan kaum kulit putih yang berkuasa berabad-abad lamanya telah memperlakukan secara semena-mena kaum hitam (negro) secara diskriminatif dalam sejumlah aspek kehidupan ipolsekbudhamkam dari mereka, terutama hak2 politik dan pemerintahan warga hitam dirampas, dijajah oleh kaum kulit putih di tanah leluhurnya sendiri, negara Afsel

Menurut pendapat saya tabiat berperilaku almarhum (alm) NM, walaupun beliau bukan seorang Muslim, namun tata berperilaku tokoh legendaris Afsel ini telah mengamalkan aturan2 berperilaku mulia (akhlaqul- karimah) sebagaimana digariskan dan dijelaskan dalam sejumlah ayat di dalam kitab suci Islam Al Quranul Karim. Salah satu Kitab suci yg diwahyukan Allah SWT sebagai pedoman hidup manusia (hudallinnas) di dunia fana ini.

Lantas apakah ada tokoh2 nasional Indonesia yang muslim menjalankan isi kandungan Al Quran sebagaiman diperintahkan Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT ?

Untuk hal ini, izinkan saya berpendapat dan memberanikan diri untuk menjawabnya, berdasarkan apa yang kita lihat, dengar dan pelajari sejarah dinamika kehidupan bangsa, kelihatannya masih “..jauh panggang dari pada apa”. Amat jarang dalam praktek berperilaku politik di tanah air, terlebih regim penguasa belakangan ini, belum menerapkan tata berperilaku akhlaq mulia baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan maupun bernegara, sebagaimana telah dicontohkan oleh seorang pemimpin besar Nelson Mandela. Dapat kita katakan, kaum politisi dan para pejabat negara di negara kita ini, pada umumnya mereka masih mengaku penganut agama Islam (muslim) dan agama lainnya, akan tetapi dalam kenyataan kesehariannya, para tokoh politik bangsa dan para petinggi negara kita ini pada umumnya masih kita temukan, bahwa mereka itu “beragama tetapi mereka kebanyakan tidak berTuhan”, meminjam istilah ulama host NU almukarrom KH A. Mustofa Bisri pada salah satu puisinya dimuat dalam bukunya “Pesan Islam Sehari-hari: Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. 336 hal, Diva Press Yogjakarta (2018)

Baca :  Mengapa Warisan Budaya Melayu-Islam-Nusantara Termarginalkan ?

Jika kita kembali menelisik kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Indonesia ini, sikap mulia yang hebat dari seorang tokoh Nelson Mandela dalam perspektif sejarah perjuangan bangsa sulit diamalkan. Bahwa perbuatan mulia tersebut nampaknya hanyalah sebuah “utopia” sesuatu yang tidak mungkin bisa dijalankan dan diamalkan, kata orang awam sesuatu yg “mengawang-awang”, dan tidak mungkin terjadi.

Faktanya ingat kilas balik sejarah Indonesia, dimana para tokoh2 politik nasional kita “saling baku hantam”, berkonflik yang antar dalam antar mereka para elite, dan bahkan saling “mematikan”, ketika mereka mendapat kekuasaan politik, misalnya sebut saja ketika bung Karno menjadi Presiden RI pertama berapa banyak tokoh politik dan ulama yg berbeda pandangan dan sikap politik, beliau penjarakan tanpa proses hukum yang legal dan syah.

Berlanjut ketika pak Harto berkuasa menjadi Presiden RI kedua berapa banyak pula para tokoh politik dan ulama yang tidak sealiran paham politik, yang dia penjarakan, termasuk Bung Karno mantan atasannya, juga di rumah tahanan “penjara” di Wisma Yaso Jkt sampai beliau meninggal dunia. Nasib pemimpin besar Revolusi dan Proklamator RI itu begitu tragis diakhir hayatnya. Istilah pendapat sekarang tindakan itu banyak terjadi pelanggaran HAM.

Alhamdulillah masa Presiden ke 3 Bpk Prof.BJ Habibie (BJH) agak mendingan dimasa transisi reformasi pasca Orde Baru yg berkuasa selama 32 tahun, di masa kekuasaan dan kepemimpinan BJH yg singkat tidak ada satupun tokoh politik nasional yg ditangkap dan dipenjarakan beliau. Bahkan alm Bpk BJH melepaskan para tahanan politik antara seperi tokoh kritis bpk Dr. Sri Bintang Pamungkas, Agus Pakpahan, dll yg sempat mendekam di penjara akhirnya dikeluarkan dari penjara.

Simpulan saya, BJH selagi berkuasa telah menunjukkan mirip pola kekuasaan Presiden Nelson Mandela, orangnya memiliki ahlaq yang mulia. Sepengatahuan kita kehidupan Prof.BJH kita kenal taat menjalankan syariat agama Islam, sehingga semasa almarhum mendapat amanah menjadi Ketua Umum/Pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI) kita sering mendengar isi pidatonya yaitu..”.. dalam kehidupan seorang manusia dan hidup bermasyarakat yg sukses harus, mereka harus mau dan mampu memadukan (mengtegrasikan) antara kualitas imtaq dan ipteks dalam setiap pribadi manusia Indonesia. Padahal alm Prof. BJH pada saat itu menghadapi masalah pelik, turbulensi politik nasional yg cukup keras dan dalam situasi krisis ekonomi dan krisis politik dan pemerintahan. Tapi alhamdulillah berkat keteguhan imtaq dan kemampuan ipteks almarhum BJH, NKRI berhasil terhindar dari perpecahan bangsa, kehidupan ekonomi pulih kembali dengan nilai rupiah yang tadinya terpuruk di kurs dollar USA berubah dalam waktu singkat nilai tukarnya menjadi kuat.
Begitu pun iklim demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era kepemimpinan semakin berkembang dengan baik, yang sebelumnya dimasa Orde Baru selama 32 tahun kehidupan politik nasional dikelola secara sentralistik dan otoriter. Juga ruang kebebasan berpendapat rakyat yang yang tadi amat terbatas dan dibatasi kini kebebasan berperndapat dan berserikat terbuka lebar, antara seperti iklim pers nasional, orpol2 dan ormas2 berkembang sesuai kehidupan alam demokrasi. Tapi sayang, BJH dizholimi bangsa dan temannya sendiri, dimana laporan pertanggungjawaban (lpj) sebagai salah satu tugas konstitusional ditolak oleh MPR RI. Padahal prestasi BJH dalam kepemimpinannya sebagai Presiden RI ketiga di masa krisis ekonomi dan politik telah berhasilkan menyelamatkan nasib bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Alm Prof.Dr.BJH adalah seorang beragama Islam (Muslim yg taat) dan sekaligus meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT (hidupnya beragama dan bertuhan, atas landasan Tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila pertama Pancasila).

Baca :  Senibudaya Tradisional Anak Tiri di Negeri ini?

Lantas bagaimana dengan pola perilaku dan akhlaq kepemimpinan Presiden RI berikutnya Presiden ke 4 (Gusdur); ke 5 (ibu Megawati), ke 6 (bpk SBY) dan dilanjutkan Presiden sekarang (bpk Jokowi), apa prestasi yang telah dicapai ? Bagaiman pola relasi antar sesama para pemimpin dan politisi negeri saat ini? Silakan diberikan penilaian dan opini secara fair.!

Bisa tidak ditiru, akhlaq mulia Presiden RI Afsel, Nelson Mandela seorang pejuang HAM/anti diskriminasi suku bangsa (kulit putih vs kulit hitam)/Aperhait, beliau telah berhasil berkuasa menjadi Presiden Afsel selama mengemban amanah kekuasaa politik merangkal “musuh2nya” untuk menciptakan perdamain dan kesejahteraan bagi rakyatnya.  Nelson Mandela walaupun telah dipenjara dan disiksa selama di dalam sel tahanan berpuluhan tahun lamanya. Alm. NM tidak menaruh dendam kesumat untuk balik membalasnya terhadap orang2 jahat yang pernah menzholiminya.

Adanya postingan di WAG ini tentanng cerita alm Nelson Mandela cukup menarik dan layak ditauladani. Begini narasinya, ketika Nelson Mandela sebagai Presiden Afsel pernah mengajak seorang tamu restoran yang secara kebetulan bertemu di sebuah restoran yang beliau kunjungi bersama para ajudannya, untuk makan siang setelah berkeliling menjambangi rakyatnya. Pada saat itu, tamu restoran itu sedang duduk di kursi pojok ruang restoran, kemudian Sang Presiden yang didampingi para ajudannya secara kebetulan melihat orang itu, dan lantas mengajaknya untuk bergabung makan siang bersamanya dalam satu meja. Seseorang itu pun bersedia mendekat dan duduk disisi Sang Presiden di restoran itu. Lantas apa yang terjadi, seseorang tersebut tidak sanggup menyantap makan hidangan yang tersedia di meja bersama Nelson Mandela, dan orang itu diminta kesediaannya duduk disampingnya, orang itu hanya bisa makan roti seadanya, kehilangan selera, dan orang itu pun berkeringat begitu derasnya, serta tubuhnya gemetar disisi Nelson Mandela. Akhirnya oleh sang Presiden Nelson Mandela pun menyuruh seseorang itu kembali ke tempat duduknya semula di restoran itu.

Baca :  Aku Bangga Sebagai Alumni SMPPN No.49 Kota Pekanbaru

Para ajudan Presiden yang berada mengelilingi dan mengamankan Nelson Mandela merasa penasaran atas kejadian aneh tsb, kemudian mereka pun bertanya kepada Presidennya ..”siapa gerangan orang yang tidak mau makan bersama kita tadi itu.. bapak Presiden?..”

Presiden Nelson Mandela pun menjawab dengan tenangnya ..”..dia yang barusan saya ajak duduk disampingku untuk makan bersama adalah seorang Sipir penjara yang pernah menyiksa aku dengan menyiram air panas ke kepalaku berkali-kali..” demikian jawab singkat dan tenang dari seorang Presiden yg berakhlaq mulia itu, negarawan sejati dan pejuang HAM-Anti Aparheit yang legendaris bapak Nelson Mandela.

Narasi singkat tersebut adalah sebuah peristiwa sejarah yang pernah terjadi di negara Afrika Selatan yang pantas untuk kita suritauladani terutama oleh para tokoh politik nasional dan para politisi di daerah yang tengah berkuasa.. Akhlaq mulia tersebut (tidak dendam) sangat baik untuk kita amalkan, dan ini merupakan prasyarat mutlak untuk bisa meraih kemajuan bangsa dan kejayaan NKRI yang kita cita-citakan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sekian, sukron perhatiannya dan barakallah. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi rahmat, karunia dan hidayahNya kepada kita sekalian Amin3 YRA..

Wabillahit taufiq walhidayah. wr wb

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here