Oleh: Romadhon Jasn
Kepemimpinan sejati tidak lahir dari sorotan kamera, melainkan dari kerja diam-diam yang mengguncang arah sejarah. Letnan Jendral (Letjen) TNI Novi Helmy Prasetya, yang menjabat sebagai Direktur Utama Perum BULOG dari 7 Februari hingga 30 Juni 2025, membuktikan hal ini. Dalam lima bulan, ia menggerakkan serapan setara 1,7 juta ton beras hingga 28 April 2025—mencapai 56,09% dari target nasional sebesar 3 juta ton. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi simbol keberpihakan pada petani dan fondasi ketahanan pangan nasional.
Sebelum kehadiran Novi Helmy, BULOG menghadapi tantangan serius. Pada 2024, di bawah kepemimpinan Wahyu Suparyono, total serapan hanya 1,26 juta ton, terdiri dari 831 ribu ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 434 ribu ton beras komersial. Sementara itu, produksi nasional mencapai 31 juta ton. Ini mencerminkan BULOG belum optimal menjalankan mandatnya sebagai penyangga hasil petani. Sebaliknya, distribusi bantuan pangan sebesar 1,96 juta ton lebih mendominasi, memperlihatkan penekanan pada penyaluran daripada penyerapan.
Novi Helmy mengubah arah. Saat ia mulai bertugas, serapan Februari hanya 190 ribu ton atau 6,3% dari target tahunan. Namun, hingga 28 April 2025, BULOG mencatatkan serapan 2.058.472 ton gabah kering panen dan 563.518 ton beras, setara 1.682.909 ton beras. Ini menjadi capaian tertinggi sejak BULOG berdiri pada 1967. Data historis menunjukkan bahwa periode Januari–April 2024 hanya mencatat 259.976 ton; pada 2021, hanya 572.889 ton. Lonjakan serapan di bawah Novi melampaui catatan enam tahun terakhir, melibatkan 25.679 petani dari gabungan kelompok tani serta 1.667 mitra penggilingan.
Gaya kepemimpinan Novi Helmy mencerminkan disiplin prajurit. Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR pada 29 April 2025, ia menegaskan, “Saya bilang ke anak-anak, tidak ada alasan. Kita serap gabah.” Pernyataan sederhana ini mencerminkan arah kerja yang konkret dan tegas: membangun cadangan pangan, bukan sekadar membangun citra.
Tantangan logistik tidak kecil. Kapasitas gudang BULOG hanya 4,9 juta ton, nyaris penuh, sehingga harus menyewa tambahan hingga 1,1 juta ton. Namun di balik tumpukan beras itu, ada nyawa petani yang terselamatkan. Ia memastikan kualitas terjaga, distribusi berjalan, dan tak segan bekerja sama dengan BUMN lain untuk mendukung pengamanan stok nasional.
Stok nasional melonjak tajam. Dari 1,7 juta ton pada Januari 2025, CBP mencapai 3,3 juta ton pada akhir April 2025, dengan Jawa Timur menyumbang 734.520 ton. Ini menjadi rekor terbaik dalam 10 tahun terakhir, menopang kebutuhan selama Ramadan tanpa perlu impor beras medium.
Meski begitu, masa tugas Novi Helmy tak lepas dari kritik. Beberapa kalangan masyarakat sipil, seperti YLBHI dan Amnesty International, menyoroti status aktifnya sebagai anggota TNI yang dianggap melanggar UU No. 3 Tahun 2025 tentang TNI. Namun, polemik ini bersifat administratif, bukan menyangkut integritas operasional. Novi Helmy justru memilih kembali ke institusi asalnya, TNI, dengan sikap hormat terhadap aturan dan tanggung jawabnya.
Apresiasi mengalir dari banyak pihak. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut stok 4,2 juta ton per 1 Juli 2025 sebagai yang tertinggi dalam satu dekade. Komisi IV DPR pun memuji terobosan serapan Novi Helmy. Pihak internal BULOG sendiri mengakui, landasan ketahanan pangan nasional hari ini tak lepas dari kepemimpinannya.
Penerusnya, Mayjen TNI (Purn) Ahmad Rizal, kini mewarisi fondasi kuat. Hingga 10 Mei 2025, serapan telah menembus 2,02 juta ton, dan stok CBP menyentuh 3,6 juta ton—rekor tertinggi dalam sejarah BULOG. Tugas ke depan adalah memperluas jangkauan serapan ke wilayah timur Indonesia, mempercepat distribusi, dan menjaga mutu secara konsisten.
Legacy Novi Helmy bukan hanya angka, melainkan etos kerja diam-diam yang menciptakan lompatan besar. Di era ketika para pejabat sibuk memburu eksistensi di media sosial, Novi Helmy memilih bekerja senyap dan membangun kedaulatan pangan dari bawah. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak selalu perlu sorotan, cukup keberanian untuk bertindak dan keteguhan dalam prinsip.
Kini estafet telah bergulir. Mari kawal kelanjutannya. Karena di balik kerja yang sunyi, Novi Helmy telah menggetarkan struktur lama BULOG dan menanam benih kemandirian pangan Indonesia.
Penulis adalah Direktur Gagas Nusantara




