Susahnya Menjadi Perempuan

oleh -734 views
Najwa Shihab, Perempuan

Narasi TV merupakan media yang hadir sebagai ruang bagi kaum muda untuk bertukar ide dan beradu gagasan melalui program-programnya. Selain menyuguhkan berbagai program, Narasi TV juga menyajikan berita dan informasi berupa teks dan visual melalui infografis dan video di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan YouTube.

Narasi TV merupakan bagian dari perusahaan PT Narasi Citra Sahwahita yang beroperasi di Jakarta Pusat. Narasi TV merupakan media digital yang dirintis oleh seorang jurnalis wanita bernama Najwa Shihab, dan kedua rekannya, Catharina Davy dan Dahlia Citra, ini sudah beroperasi sebagai sebuah media sejak tahun 2018.

Narasi TV dikenal karena pemberitaannya yang mendalam dan berimbang. Mereka mengutamakan fakta, wawancara, dan analisis yang mendalam dalam menyajikan berita kepada pemirsa. Kemudian Narasi TV mencakup berbagai isu penting, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan yang mendorong keterlibatan pemirsa dengan menyediakan platform interaktif, pada Narasi TV juga memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam penyampaian berita.

Mereka menggunakan platform digital dan media sosial seperti website dan YouTube untuk mencapai audiens yang lebih luas yang membuat kontribusi terhadap Jurnalisme Independen pada Narasi TV memiliki peran penting dalam memperkuat jurnalisme independen di Indonesia.

Najwa Shihab yang merupakan salah satu pendirinya, sudah memiliki nama yang mampu dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia sejak 17 tahun lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan terjun menjadi seorang jurnalis.

Kepopuleran Najwa Shihab semakin dikenal sebagai presenter yang sangat independent dan kritis yang berpihak kepada rakyat kecil dan mendapatkan beberapa penghargaan yaitu The Influential Woman of The Year dari Elle Magazine (2015), National Award for Journalistic Contribution to Democracy (2019), Insan Pertelevisian Terbaik dalam ajang Panasonic Gobel Awards (2015).

Sebelum di Narasi Tv, Najwa shihab sempat merintis karier sebagai wartawan magang di RCTI. Kemudian pada tahun 2000 dia memilih bergabung dengan Metro TV lalu membawakan acara yaitu program Mata Najwa di stasiun televisi nasional Metro TV. Mata Najwa sendiri adalah salah satu program wawancara politik yang sangat kritis.

Baca :  Pileg 2024, Aprilda Ajak Perempuan Jadi Pemilih Cerdas

Pada dua part yang tersedia di narasi tv mengundang para artis dan para ahli yang diundang untuk mengetahui pendapat dari sisi para laki-laki kepada perempuan yang terjadi pada saat ini. Pada part satu narasi tv ini dibintangi tamu oleh ; Tompi, Nadiem Makariem, Arie Kriting, Reza Rahadian sedangkan part yang kedua diisi oleh bintang tamu yakni Onadio, Anang Hermansyah, Denny Sumargo, dan juga Rocky gerung.

Pada topik pertama yaitu menurut analisa kami menemukan beberapa topik yang dibahas dalam video tersebut yang dimana pertama membahas seperti apa pandangan terhadap keseteraan gender, standar kecantikan, dan pelecehan seksual yang terjadi kepada perempuan?. Terdapat dua jawaban yang dapat disimpulkan yakni, Pro dan Kontra.

PRO : Dalam topik dimana Nadiem Makariem dan Arie Kriting berpendapat bahwa referensi no 1 bagimana kita memandang gender yang berbeda itu datang dari orang tua kita dan perempuan dan lelaki itu setara karena bisa saling dalam segala hal yang seharusnya perempuan yang kerjakan tetapi lelaki juga bisa mengerjakannya begitu pun sebaliknya.

Riset dari UNESA juga mensurvei 300 Mahasiswi di seluruh Indonesia 40% dari mereka pernah mengalami pelecehan/kekerasan seksual dan itu terjadi di kampus. Sekarang Kemendikbud menjalani sistem independent di kampus yang mempunya data line Kemendikbud karena tidak semua bisa lewat jalur pidana dan harus persatuan yang digerakkan oleh dosen dan mahasiswa bersama yang dinamakan victim blaiming.

Lalu hasil survei membuktikan pelecehan seksual lebih banyak dilakukan diruang terbuka,disiang hari,dan yang menjadi target adalah perempuan yang berpakaian tertutup seperti celana panjang,jilbab,baju panjang.

KONTRA : Dalam topik dimana Dr. Tompi sebagai ahli bedah plastik berpendapat, bagi perempuan sudah seharusnya percaya diri dengan dirinya apa adanya tanpa diubah seperti ingin memutihkan muka. Menurutnya, memutihkan muka dalam dunia kecantikan itu tidak ada bahkan tidak boleh karena membahayakan kulit.

Baca :  Gandeng HMI Rembang, Women’s Care Bahas Perempuan Inspiratif

Kemudian dilanjut oleh Nadiem Makariem, dengan adanya filter pada sosial media menjadikan seseorang tumbuh sebagai digital natif yang dimana keinginan seseorang pada filter ingin terjadi pada kehidupan nyata tetapi itu tidak mungkin terjadi oleh karena itu filter yang ada pada sosial media membuat seseorang jadi insecure image. Harus mengedukasi perempuan dan laki-laki bahwa itu bukan realita supaya mereka mencintai diri mereka apa adanya.

Kemudian, pada part dua Narasi TV ini dibintangi tamu oleh ; Onadio, Anang Hermansyah, Denny Sumargo, Rocky gerung. Pada topik kedua menurut analisa kami menemukan beberapa topik yang dibahas dalam video tersebut yang dimana pertama membahas seperti bagaimana pendapat anda tentang streotipe bahwa perempuan dilihat dari penampilan bukan dari valuenya yang membuat sebagian perempuan menunda pernikahannya? Jawaban ini pun sama dengan yang diatas yakni ada pro dan kontranya.

PRO : Dalam topik dimana Rocky Gerung dan Denny Sumargo berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan perbedaan yang disodorkan, perempuan dianggap lemah dan laki laki kuat akan tetapi sebenarnya perempuan lebih kuat dari pada laki laki, salah satu contohnya seperti pada saat menstruasi dan melahirkan, laki-laki yang tidak dirancang untuk menahan sakit tetapi peradaban ingin perempuan lebih lemah daripada laki laki, lalu munculah stereotype, yang kemudian munculah perubahan terjadi terhadap cara pandang kita terhadap relasi berubah, yang membuat perempuan tidak menikah pada usia yang seharusnya adalah cara pandang patriarki dan tidak fair bahwa perempuan yang sudah berusia dan belum menikah menjadi suatu hal yg negatif, ada banyak faktor seperti trauma, fokus karir, belum ketemu yang cocok.

KONTRA : Dalam topik dimana Anang Hermansyah dan Onadio berpendapat bahwa mungkin perempuan sedang asik dengan dirinya sendiri punya sesuatu yang harus dilakukan, layaknya laki-laki juga melakukan hal yang sama. Dan pendewasaan ini tidak seperti di film Hollywood karena ternyata nikah itu seperti tiap hari kerja yang mengharuskan untuk komunikasi dan pengertian.

Baca :  Kohati FKIC: Perempuan Harus Bangkit, Bukan Pasrah

Dalam topik ini ada beberapa pendapat para ahli. Konselor Perempuan Indonesia (KPI) mengartikan kekerasan seksual sebagai segala bentuk perlakuan yang tidak diinginkan, paksaan, atau pemaksaan dalam hal seksual yang merugikan seseorang secara fisik, psikologis, dan sosial. Sedangkan menurut Evi Narti Zain seorang aktivis dan peneliti gender, menyatakan bahwa, kesetaraan gender adalah upaya untuk menciptakan kondisi di mana pria dan wanita memiliki akses yang sama terhadap sumber daya dan peluang, serta memiliki peran yang setara dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan politik.

Berdasarkan paparan di atas, program Narasi TV mengangkat topik pembicaraan “Susahnya Jadi Perempuan” yang berisikan tentang isu-isu perempuan yang ramai diperbincangkan saat ini. Program tersebut juga mengambil pendapat dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan juga mendapatkan berbagai tanggapan baik pro maupun kontra terhadap beberapa pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Najwa Shihab.

Program ini juga dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas lagi kepada masyarakat karena, berisikan berbagai macam pikiran dari masing-masing narasumber yang juga mempunyai berbagai macam keadaan dan pandanganya masing-masing terhadap beberapa pertanyaan yang dilontarkan.

Kita juga harus mengakui bahwa perjuangan perempuan dalam menghadapi tantangan yang dihadapinya tidaklah mudah. Namun, dengan adanya episode seperti yang ada di channel Nazwa Shihab, kita mampu melihat bahwa ada harapan dan kemajuan yang dapat dicapai.

Melalui pengetahuan, kesadaran, dan tindakan. Kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan setara bagi semua individu, tidak peduli jenis kelamin mereka.

Penulis:
Nadia Agustina (044121311)
Wynne Ririmasse (044121312)
Khansa Aulia Rahmah (044121293)