BOGOR (Lead.co.id) – Kearifan lokal masyarakat sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu hingga saat ini. Salah satu contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia ialah tradisi Ngabungbang yang terletak di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Tradisi leluhur itu rutin dilaksanakan setiap tanggal 12 Robiul Awal atau bulan Maulid.
Kearifan lokal merupakan perilaku manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat yang akan berkembang secara turun-temurun.
Secara terminologi, Ngabungbang berasal dari dua kata, yakni “Nga” yang berarti menyatukan sedangkan kata “Bungbang” berarti membuang. Sementara secara etimologi, upacara Ngabungbang diartikan sebagai mandi suci dengan mempersatukan cipta, rasa dan karsa untuk membuang atau membersihkan seluruh-seluruh sifat buruk dalam diri manusia, baik itu sifat lahir maupun batin
Acara Ngabungbang Cimande, bukan sekedar adat budaya leluhur atau Kasepuhannya. Namun, helaran acara bertujuan untuk bermunajat kepada Allah untuk memohon ampunan dan bertobat dari segala kesalahan yang telah diperbuat, karena acara dibarengkan dengan gelaran peringatan maulid nabi.
Tradisi tersebut juga bertujuan memohon kekuatan untuk kebaikan dalam mencapai segala cita-cita hingga mendapatkan peningkatan kualitas pribadi dalam kehidupan.
Tradisi Ngabungbang di Desa Cimande diawali dengan ziarah makam ke makam-makam para leluhur antara lain Makam Eyang Somad, Makam Abah Khair, Makam Eyang Rangga, dan Makam Abah Buyut. Setelah melaksanakan ziarah makam, warga kemudian melanjutkan upacara dengan melakukan pembersihan pusaka-pusaka, salah satu pusaka yang paling penting adalah Gobang Karancang.
Prosesi Ngabungbang oleh Kasepuhan Cimand
Sebelum mengikuti tradisi Ngabungbang pada tanggal 12,13 dan 14 Maulid, para keturunan Kasepuhan Cimande melakukan puasa selama 7 hari. Puasa ini dilakukan bertujuan untuk melatih diri dan mengendalikan diri dari segala hawa nafsu.
Pada malam 14 Maulid keturunan Kasepuhan Cimande memandikan benda-benda pusaka yang diturunkan dari sesepuhnya. Kegiatan ini dinamakan “Cuci Pusaka”. Benda- benda pusaka tersebut tidak hanya dicuci melainkan direndam juga yang dilakukan di rumah masing-masing. Air yang digunakan untuk mencuci dan merendam benda-benda pusaka itu ialah “Cai Cikamalayan” (Air kemuliaan) yng diambil dari mata air Cimande.
Para keturunan Kasepuhan Cimande melakukan Ziarah kubur ke makam-makam Kasepuhan Cimande, seperti makam Mbah Laseha yang biasa disebut dengan panggilan Eyang Ace dan makam Mbah Abdul Somad yang biasa disebut dengan panggilan Ayah Ocod.
Prosesi Ngabungbang oleh Muhibbin
Para murid (muhibbin) terlebih dahulu harus melakukan kegiatan dipupuh matanya dengan daun sirih yang dicampur dengan Cai Kamalayan (Air Kemuliaan). Lalu, air tersebut juga diminum dan dioleskan ke bagian-bagin tubuh yang wajib disucikan saat berwudhu.
Saat dipupuh para murid sambil dibacakan sholawat Nabi dan biasanya kegiatan dipupuh ini dilakukan di tempat khusus atau kamar khusus. Setelah proses pembersihan diri selesai para murid diperbolehkan untuk berziarah ke makam-makam kasepuhan Cimande. Saat berziarah yang dilakukan diantaranya, membaca Al-Hadiah kepada ahli kubur, membaca sholawat dan berdoa.
Prosesi Ngabungbang oleh Masyarakat
Untuk masyarakat umum yang ingin mengikuti tradisi Ngabungbang, hanya tinggal datang dalam keadaan bersih (suci) lalu melakukan ziarah.Selain kegiatan ziarah kubur ada juga kegiatan duduk ngaji yang bisa diikuti oleh siapapun yang sedang berziarah atau mengikuti tradisi Ngabungbang.
Penulis: Erlangga, Denis, Abiyyu, Yoga, Salma, Khairunissa, Rosa, Figo





