Wali Kota Bogor Resmikan Nama Jalan Tirto Adhi Soerjo

oleh -583 views
Wali Kota Bogor, Nama Jalan, Tirto Adhi Soerjo

BOGOR (LEAD.co.id) – Wali Kota Bogor Bima Arya meresmikan nama Jalan RM Tirto Adhi Soerjo di Tanah Sareal, Kota Bogor, pada Rabu, (10/11/2021). Jalan ini menggantikan nama sebelumnya, yakni Jalan Kesehatan yang berada dekat GOR Pajajaran.

Dalam peresmian ini, Bima Arya bersama Dewi Yull yang merupakan perwakilan dari keluarga RM Tirto Adhi Soerjo. Ia adalah cicit dari pahlawan nasional sekaligus tokoh pers Tanah Air tersebut.

Uniknya, para tamu yang hadir mengenakan busana khas priyayi, termasuk Bima Arya dan wakilnya Dedie A Rachim. Busana ini identik dengan RM Tirto Adhi Soerjo. Meski Tirto lahir dari kelas sosial dalam golongan bangsawan, namun selalu membela kepentingan rakyat Indonesia ketika itu.

“Kota Bogor hari ini bangga. Karena orang besar republik ini diabadikan menjadi nama jalan di Pusat Kota Bogor, tidak jauh dari markas teman-teman wartawan (Sekretariat PWI Kota Bogor),” kata Bima Arya.

Dia mengungkapkan, Kota Bogor sedang membangun city library dan city gallery yang akan menampilkan pojok Tirto Adhi Soerjo. Dalam satu pojok itu, anak-anak muda bisa belajar tentang jurnalisme kritis, idealisme wartawan, dan tentang kebangsaan dari RM Tirto Adhi Soerjo.

Sementara itu, Dewi Yull sebagai cicit RM Tirto Adhi Soerjo tersebut mengaku bangga dan apresiasi kepada pemerintah Kota Bogor yang telah mengabadikan nama kakek buyutnya sebagai nama jalan.

Baca :  Mie Jebew Mr Ato Hadir di Jalan Tirto Kota Bogor

“Saya mengucapkan terimakasih, karena sebagai pahlawan nasional, baru pertama kali di Indonesia nama RM Tirto Adhi Soerjo diabadikan sebagai nama jalan. Kebetulan beliau juga dimakamkan di Bogor, banyak berkiprah di Jawa Barat juga,” ungkap Dewi Yull.

“Buat kami keluarga bukan sekedar menerima penghargaan ini sesaat tapi ini akan menjadi energi bagi keluarga besar dan masyarakat bisa mengetahui jejak langkah RM Tirto sehingga tumbuh kecintaan, kebangsaan dan nasionalisme yang beliau sebarkan dan tebarkan melalui tulisan,” bebernya.

Dewi Yull juga mengatakan, sebelum mendapatkan gelar pahlawan pada 2006, Tirto Adhi Soerjo pernah mendapatkan gelar kehormatan sebagai perintis pers nasional pada tahun 70-an dari pemerintah Republik Indonesia.a

Namun demikian, kondisi pada saat itu seperti terlupakan. Sampai akhirnya Pramoedya Ananta Toer penulis novel membuka bagaimana karya-karyanya RM Tirto Adhi Soerjo dibukukan dalam “Bumi Manusia”.

“Sekarang Alhamdulillah berkat Pak Wali Kota Bogor Bima Arya juga dijadikan nama jalan,” ungkapnya bersyukur.

Menurut Bima, Indonesia memiliki banyak orang-orang besar yang pemikiran dan peninggalannya sangat berpengaruh, namun terlupakan. Hal itu karena keterbatasan catatan sejarah, atau karena politik dari rezim yang berkuasa, sehingga menjadi tidak terlalu dikenal dan minim pengetahuan bagi generasi muda.

Baca :  Sopir Ngantuk, Mobil Calya Nyungsep di Jalan Tirto

Dalam pandangan Bima Arya, RM Tirto Adhi Soerjo adalah sosok besar yang hebat, meninggalkan banyak sekali warisan berharga yang menentukan bagi perjalanan bangsa Indonesia. Tirto bisa dikatakan sebagai sosok yang paling awal berpikir dan membayangkan tentang Indonesia.

“RM Tirto Adhi Soerjo adalah pendiri dari Sarekat Priyayi, pendiri Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi cikal bakal Sarekat Islam, yang menjadi cikal bakal gerakan nasionalisme yang melahirkan tidak saja tokoh-tokoh nasionalis, tapi tokoh-tokoh gerakan Islam pada masa-masa perjuangan mendirikan Indonesia,” ujar Bima.

Pahlawan nasional yang dimakamkan di TPU Blender, kecamatan Tanah Sareal ini juga dikenal sebagai jurnalis yang sangat kritis dan selalu membela kepentingan warga pribumi ketika zaman penjajahan. Ketika RM Tirto Adhi Soerjo wafat pada 1918, kata Bima, Bung Karno masih muda belia, berusia 17 tahun.

“Jadi tidak salah kalau banyak sejarawan yang bahkan menempatkan RM Tirto Adhi Soerjo sebagai cikal bakal, sebagai pendahulu, sebagai orang yang memulai gerakan-gerakan kemerdekaan Indonesia,” kata dia.

Bima Arya juga menyimpulkan tiga hal yang luar biasa dari sosok RM Tirto Adhi Soerjo. Yang pertama, RM Tirto Adhi Soerjo mengajarkan kepada kita ketika jurnalisme bisa menjadi senjata yang paling tajam untuk melawan ketidakadilan dan penjajahan.

“Artinya, teman-teman jurnalis saat ini bisa menjadikan sosok Tirto sebagai legenda yang pemikirannya, keberaniannya selalu menginspirasi. Tidak takut pada kekuatan yang memaksa. Tidak tergoda pada uang atau kekayaan. Dan bahkan berani untuk mengorbankan kehidupan pribadinya,” imbuhnya.

Baca :  Bedah Profil Tirto: Mengingat Sang Pemula, Melestarikan Seni dan Budaya

Yang kedua, RM Tirto Adhi Soerjo adalah seorang nasionalis. Jadi, kalau hari ini nasionalisme Indonesia diuji, ditarik ke kanan ke kiri, kita harus kembali lagi kepada pemikiran dan ajaran RM Tirto Adhi Soerjo.

“Bahwa nasionalisme indonesia dipersatukan, bukan karena kesamaan agama, bukan karena kesamaan etnis saja, tapi sama nasib sebagai orang-orang yang terjajah dan terperintah,” jelasnya.

Yang ketiga, Tirto mengingatkan bahwa republik ini dibangun, didirikan, dipikirkan, dibayangkan dan diperjuangkan oleh kaum terdidik. “Hari ini, kita sebagian besar dari kita mengenakan pakaian priyayi pada masa itu, kalangan menengah pada masa itu, kalangan terdidik pada masa itu. Yang rela untuk mengesampingkan materi atau kekuasaan, mengejar cita-citanya mendirikan Indonesia dan membela pribumi,” terangnya.

“Ini adalah peringatan bagi doktor, profesor, bagi kelas menengah di Indonesia hari ini supaya tidak asik sendiri, supaya tidak hanya memikirkan kampusnya saja, bisnisnya saja, keluarganya saja tapi kalangan terdidik Indonesia harus serius memikirkan selalu tentang Indonesia dan masa depan Indonesia,” tambahnya.

 

Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Prokompim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *