JAKARTA (LEAD.co.id) – Forum Mahasiswa Aceh Dunia (FORMAD) melaksanakan webinar yang mengangkat tema minyak atsiri di Aceh, pada Jumat (20/8/2021). Kegiatan ini mengkaji tentang peluang dan tantangan usaha Minyak Atsiri.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan elemen dalam bidang minyak atsiri, diantaranya para petani nilam dan pala yang diwakilkan oleh Forum Nilam Aceh dan Forum Pala Aceh, pengusaha nilam dan pedagang nilam, Atsirina, peneliti atau akademisi diwakili oleh PUIPT ARC USK dan stakeholder yang diwakili oleh Gubernur Aceh.
Selain itu, Dewan Perwakilan Aceh, Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT RI), Duta besar Indonesia untuk Perancis serta mahasiswa Aceh yang berada dari berbagai belahan dunia, seperti Malaysia, Thailand, China, Mesir, Belanda, Azerbaijan, Turki, Tunisia dan Amerika Serikat secara online.
Kegiatan dibagi dalam dua sesi yang dipandu moderator Rivan Rinaldi, mahasiswa Aceh yang sedang menempuh Pendidikan master (Starta-II) bidang Plant Sciences (Ilmu tanaman) di Wageningen University and Research Belanda.
Dalam paparnya, Kepala Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr.Ir. Hammam Riza, M.Sc dengan topik minyak atsiri dimata pemerintah Indonesia, menyampaikan, lembaganya sangat mendukung inovasi-inovasi untuk meningkatkan kualitas minyak atsiri.
“Beberapa program pendanaan telah dilakukan oleh lembaga yang dipimpinya dalam peningkatan standar kualitas minyak nilam di Aceh,” sampainya.
Dilanjut oemateri kedua, Dr. Syaifullah, ST., MT sebagai ketua Atsiri research center Universitas Syiah Kuala menjelaskan, potensi dan tantangan minyak nilam di Aceh menyampaikan pihaknya telah melakukan perjalanan yang panjang mengelilingi hampir seluruh kabupaten Aceh untuk mencari permasalahan nilam Aceh.
“Guna merumuskannya dalam dokumen master plan sehingga mengetahui permaslahan yang dialami di sektor ini serta mampu menyusun startegi apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan sektor nilam di wilayah serambi mekkah. Bahwa untuk mewujudkan sektor nilam yang berkelanjutan, perlunya kerjasana antar pihak yang disebutnya dengan istilah Penta-Helix approach yaitu Kerjasama antara pemerintah, universitas, lembaga bisnis, komunitas dan juga media,” jelasnya.
Pemateri yang ketiga, Dr. Mustafril, ST, M.Si sebagai ketua Forpala Aceh membahas informasi tentang potensi dan tantangan pala Aceh mengatakan, pala Aceh merupakan pala terbaik se-Indonesia, karena memiliki kandungan rendamen minyak yang lebih tinggi.
“Untuk menangani permasalahan penyakit pala, seperti jamur akar putih, bibit pala sambutan (sambung pala hutan) yang dilakukan dengan metode grafting (sambung) dapat dijadikan solusi dalam penaganan hama tersebut,” ucapnya.
Pada sesi kedua, giliran Tgk. Amran sebagai Bupati Aceh Selatan dan Ruth J. Samaria perwakilan Duber prancis dari bidang atase perdagangan menyampaikan, Aceh Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan nilam dan juga pala. Namun banyak permasalahan yang dialami oleh masyarakat terkait hama dan penyakit, terutama hama penggerek batang yang saat ini belum ada solusi terhadap permasalahan tersebut.
“Saya sangat berharap para peneliti mampu menemukan solusi untuk permasalahan tersebut, sehingga mampu meningkatkan kembali kejayaan dan kesejahteraan petani pala di wilayah pimpinannya tersebut,” sampai Bupati.
Senada, Ruth J. Samaria sebagai perwakilan Duta Besar Prancis untuk Indonesia menyampaikan, potensi minyak atsiri di pasar Perancis memiliki potensi ekspor minyak atsiri sangat besar ke prancis. Tercatat sekitar 8.300 ton minyak atsiri yang dibutuhkan di negara yang dengan parfume terkenal tersebut.
“Kami pasti bersama untuk membantu para pengusaha-pengusaha Indonesia yang mau melakukan ekspor minyak atsiri di pasar prancis,” jelasnya.
Diakhir, Andri Munazar selaku ketua umum FORMAD menyatakan, diskusi seperti ini sangat perlu dilakukan, tujuannya adalah bagaimana produk lokal bisa sampai ke internasional.
“Oleh sebab itu, dalam memajukan sektor ini tentunya diperlukan peran aktif dari diaspora-diaspora Aceh yang tersebar diseluruh dunia untuk ikut membantu mempromisikan produk-produk lokal sehingga dapat menjanggakau pasar global. Sehingga mampu memajukan perkonomian Aceh kususnya dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya.
Editor : Aru Prayogi

