Workshop Angklung Gubrag Dog Dog Lojor: Perkuat Pelestarian Seni Tradisi

oleh -131 views

BOGOR – Upaya pelestarian dan regenerasi seni tradisi Angklung Gubrag terus diperkuat melalui Workshop Angklung Gubrag Dog Dog Lojor yang digelar di kawasan Goa Gudawang, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Seni Berbagi Indonesia (SEBA) ini menjadi momentum penting untuk membangun komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan salah satu warisan budaya khas Kabupaten Bogor yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Angklung Gubrag merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kampung Cipining, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg. Kesenian yang lahir dari tradisi agraris masyarakat Sunda tersebut diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini tetap dijaga keberadaannya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Workshop yang berlangsung di kawasan wisata Goa Gudawang menghadirkan suasana yang unik. Di satu sisi terdapat Goa Gudawang yang diperkirakan telah berusia jutaan tahun sebagai saksi perjalanan sejarah alam, sementara di sisi lain bergema bunyi ritmis Angklung Gubrag yang telah hidup selama lebih dari enam abad di tengah masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, seniman, pelajar, dan masyarakat umum. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan lembaga pendidikan dalam membangun ekosistem pelindungan kebudayaan yang berkelanjutan.

Baca :  IPSI Gelar Bogor Pencak Silat Seni Tradisi seri ke-2

Bagi masyarakat Cipining, Angklung Gubrag bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan tuntunan hidup yang sarat nilai budaya dan spiritual. Pelestari Angklung Gubrag generasi ke-12, Ki Jawir atau Ariansyah, menjadi simbol ketahanan budaya yang tetap teguh menjaga pakem kesenian tradisi di tengah derasnya arus modernisasi dan disrupsi digital.

“Angklung Gubrag bukan hanya alat musik, tetapi bagian dari perjalanan hidup masyarakat yang harus terus diwariskan,” ungkap Ki Jawir dalam sesi diskusi.

Workshop ini juga menjadi ruang dialog antara pelestari tradisi dan para inovator budaya. Salah satu narasumber, Ade Suarsa, menyoroti pentingnya menghadirkan inovasi dalam seni tradisi tanpa menghilangkan nilai dasar yang diwariskan leluhur.

“Eksplorasi estetika diperbolehkan untuk kebutuhan panggung di luar ranah ritual, namun tidak boleh menabrak esensi dasar dari seni tradisi leluhur,” kata Ade Suarsa.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah regenerasi. Generasi muda cenderung lebih dekat dengan budaya populer global dibandingkan budaya tradisional yang hidup di lingkungan mereka sendiri. Karena itu, seni tradisi perlu dikemas secara menarik agar memiliki nilai kebanggaan dan daya tarik yang tinggi di mata generasi muda.

Selama workshop, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah Angklung Gubrag, fungsi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Sunda, filosofi yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan, hingga teknik dasar memainkan instrumen tersebut. Peserta juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan para pelaku budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.

Baca :  Melestarikan Alat Musik Angklung di Kalangan Perguruan Tinggi

Ketua pelaksana kegiatan dari Komunitas SEBA, Jurasep, menegaskan bahwa pelestarian budaya memerlukan kerja sama semua pihak. “Melalui workshop ini kami ingin menunjukkan bahwa Angklung Gubrag memiliki nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Apalagi di tanah kelahirannya terdapat Goa Gudawang yang memiliki potensi besar sebagai ruang kolaborasi budaya sekaligus destinasi wisata edukatif,” ujarnya.

Selain menjadi sarana transfer pengetahuan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat posisi Angklung Gubrag sebagai aset budaya daerah yang dapat mendukung sektor pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata Kabupaten Bogor.
Dengan pengelolaan yang tepat, Angklung Gubrag diyakini mampu menjadi daya tarik wisata berbasis budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

Dari hasil diskusi workshop, para peserta merumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk mendukung program rejuvenasi Angklung Gubrag. Di bidang pendidikan, diusulkan agar Angklung Gubrag masuk dalam kurikulum muatan lokal sekolah-sekolah di wilayah Desa Argapura sebagai daerah asal kesenian tersebut.

Di sektor pariwisata, muncul gagasan untuk mendorong kunjungan rutin sekolah-sekolah di Kabupaten Bogor ke Goa Gudawang melalui sistem rotasi terjadwal sepanjang tahun. Program ini diharapkan mampu memperkenalkan seni budaya lokal kepada pelajar sekaligus menghidupkan kembali potensi wisata Goa Gudawang.

Baca :  Cerita Menarik Angklung Gubrag Asli Cipining Bogor Barat

Sementara bagi para seniman tradisi, disarankan adanya pelibatan seniman lokal secara bergiliran sebagai mentor dan pengisi kegiatan seni budaya di kawasan wisata Goa Gudawang. Langkah ini diyakini dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Workshop juga merekomendasikan adanya nota kesepahaman (MoU) antara komunitas budaya, seniman tradisi, dan sekolah-sekolah di wilayah Cigudeg untuk memastikan proses regenerasi Angklung Gubrag berlangsung secara berkelanjutan.

Suasana optimistis terlihat pada sesi penutup saat para siswa SMP Pelita Cendikia mengikuti latihan singkat memainkan instrumen Angklung Gubrag. Momen tersebut menjadi simbol harapan lahirnya generasi baru yang akan melanjutkan estafet pelestarian budaya leluhur.

Melalui kegiatan ini, para peserta sepakat bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menyiapkan fondasi masa depan yang berakar kuat pada identitas bangsa. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi berbagai pihak, Angklung Gubrag diharapkan terus bergema sebagai kebanggaan masyarakat Bogor sekaligus menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.