63 Tahun Usiaku di Tahun 2022

oleh -585 views
Apendi Arsyad, ICMI, Koperasi, Koperasi ICMI
Dr Apendi Arsyad

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Bismillahir Rahmanir Rahiem. Alhamdulillah pada hari ini Sabtu 8 Oktober 2022, usiaku genap menjadi 63 tahun. Aku dilahirkan, kata ayah dan ibuku tepatnya pada hari Jumat siang menjelang waktu azan Sholat Jumat tgl 8 Oktober 1959, kondisi bayinya subhanallah sehat dan timbangan beratnya melebihi angka berat normal.

Kata ibuku, saya AA agak “gemukan”, gembrot, ketika masa usia balita sehat, lucu dan gemuk serta berkulit agak terang “kuning langsat” agak sedikit berbeda dgn saudara-2ku 9 orang yang lain, itu kata ibuku.

Aku anak ke 8 dari 10 orang bersaudara anak ibuku Hj Darana Djamin (berpulang usia 106 thn, tgl 23 Pebruari 2021, setahun lalu). Ayahku bernama Hj Arsyad bin Kahar, sdh almarhum ketika aku masih kecil, kelas 2 SDN No.1 Cerenti pada tahun 1971, tepatnya ayah berpulang kerahmatullah Selasa 23 Maret 1971 di Desa Kampung Baru Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi (dahulu sebelum pemekaran thn 1999, termasuk wilayah Kabupaten Inderagiri Hulu, Rengat, Provinsi Riau).

Aku di masa kecilku, sangat disayangi dan bahkan “dimanja” oleh kedua orangtuaku, ayah dan ibu memberikan perhatian yang agak “berlebihan” kepadaku.

Semasa kecil, aku masih ingat ayah dan ibu membawa “toering” ke kota Rengat, ibu Kota Kab.Inderagiri Hulu, berlibur sambil ayah berdagang. Ayah mengajak menonton film Kingkong, yang seru, memukau dan membuat aku terkesima menontonnya. Sampai sekarang cerita film Kingkong, makhluk raksasa itu masih ingat dalam memoriku.

Ayah begitu sayang kepadaku, dan beliau sering membelikan mainan anak-2 spt boneka, mobil-2an buatku, jika beliau pulang berdagang dari kota besar.
Perjalanan dari Kampungku tempat keluarga tinggal, menuju kota Rengat, di masa itu perjalanan sungguh “mewah”. Belum ada kenderaan transportasi kenderaan jalan darat, tidak seperti sekarang sangat ramai.

Pada tahun 1969-1970, seingatku sarana transportasi yang ramai naik “kapal motor-berbelungkang” melalui jalur Daerah aliran sungai (DAS) Kuantan, yang ketika itu masih dalam, tidak dangkal seperti kondisi DAS Kuantan.zaman Now. Akibat kegiatan pengeksploitasian kayu hutan tropis, “legallogging” dan kebakaran ekosistem hutan tropis Riau besar besaran di era Orde Baru dan diperparah lagi eksploitasi tambang emas illegal (illegal mining), maraknya foton2-PETI di DAS Kuantan di masa reformasi hingga kini masih berlangsung. Dampaknya selain pencemaran air yang membahayakan nyawa penduduk lokal; juga akibat buruknya sarana transportasi sungai/DAS Kuantan, akhirnya menghilang dan punah.

Kini perjalanan tamasya (toering) aku-usia balita bersama keluarga yakni ayah dan ibu beserta 1 org adikku Latifah di Kota Rengat, tinggallah cerita masa lalu, dan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.

Singkat cerita, sekembalinya kami dari berlibur (toering) di Kota Rengat, setibanya di kampung Desa Kp Baru Cerenti, beberapa bulan kemudian ayahku H. Arsyad Kahar pun jatuh sakit, sakit pencernaan di ususnya, ayahku menderita sakit beberapa bulan, dan pada tanggal 23 Maret 1971 ayahku berpulang ke rahmatullah, wafat di usia lk 60 tahun, dan aku sangat kehilangan sosok ayah yang aku sayangi dan cintai. Dengan kepergian ayah, aku sempat jatuh sakit lk 3 bulan, alhamdulillah bisa sembuh, karena waktu itu aku sangat sedih mengingat almarhum ayah yang memanjakanku semasa aku di usia balita dan sedang tumbuh remaja.

Baca :  Pendapat, Kesan dan Pesan pada HUT 80 Tahun Usia Ongaku Edward Arfa

Akupun sejak kelas 2 Sekolah Dasar Negeri (SDN) menjadi anak yatim bersama kakak-kakakku dan 2 orang adikku yakni Latifah Arsyad, SSos. (mantan Camat Cerenti) dan Arslan Arda.SE (pegawai perusahaan swasta bidang jasa kontruksi di Jakarta).

Konsekwensinya dengan kepergian ayahku selama-lamanya, kondisi hidup keluarga menjadi sulit dan susah, elit alias “ekonomi sulit”, tidak terelakan, hidup penuh keprihatinan dan kesabaran.

Alhamdulillah, kami memiliki ibu selaku “single parent” yang rajin beribadah-dekat dengan Allah SWT, ibuku orangnya tegar, sabar, pekerja keras, pendidik dan pencari nafkah yang luar biasa sebagai pelaku usaha ekonomi mikro di kampung, berjualan di pasar Cerenti, dan 1-2 kali sebulan berdagang barang-barang hasil alam dibawa ke kota besar naik bis penumpang mini seperti ke Rengat, Pekanbaru, Bukit Tinggi dan bahkan sampai ke Kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Ibuku sekembali dari kota besar membawa barang kelontong dan sayur-mayur untuk dijual di kampungku, pasar Cerenti. Aku pun terkadang membantu ibuku berjualan di pasar, jika libur sekolah. Begitulah keuletannya ibuku, berjuang untuk menafkahi anak-anaknya dan juga membiayai sekolah kami anak-anaknya yang cukup banyak.

Alhamdulillah berkat usaha keras, tekat dan kemauan kuat dari ibuku kami bisa bersekolah semua, tidak ada yang putus sekolah dan hidup terlantar. Alhamdulillah berkat usaha ibulah kami bisa mengenyam pendidikan yang baik, kami anak-anaknya bisa tamat SMA, PGAN dan bahkan lulusan sarjana dan pascasarjana IPB seperti aku, dan juga adik-adikku lulus sarjana, sehingga berkarier sbg guru, dosen, pejabat dan konsultan serta beberapa orang menjadi pedagang (saudagar) usaha kecil mikro/UKM di kampung Cerenti, Riau.

Alhamdulillah berkat usaha ibuku, hidup kami tidak susah dan sulit seperti masa balita dan remaja tempo doeloe yang hidup prihatin yang menuntut kesabaran tingkat tinggi dalam berjuang memperbaiki nasib agar menjadi manusia berguna bagi keluarga, agama, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yg kita cintai.

Kini usiaku sdh 63 tahun, alhamdulillah mempunyai istri yang rupawan dimataku, pintar dan pekerja keras berprofesi sama dgnku sbg dosen FE UNIDA. Aku pun dosen Faperta UNIDA Bgr sejak 1987, dan sejak Mei tahun 1986 aku terlibat sbg sekretaris Tim utk tugas menyiapkan berdirinya Universitas Djuanda (UNIDA) berdiri kampusnya di Ciawi Kab.Bogor. Juga aku mempunyai anak 3 orang putri yang cantik-cantik di mataku, anakku pintar dan cerdas, umumya berprestasi di sekolah dan di kuliah dan lulus di Universitas terkemuka dalam (2 org mahasiswi lulusan IPB University) dan luar negeri si sulungku Annisa, CEO/Founder Ecofunopoly yg sering mendapat penghargaan nasional dan global, pernah studi pasca sarjana di Jerman (Gottingen University) dan kini sedang kuliah pada program doktor di Jepang, Kyoto University atas sponsor Monbhuso Japan,

Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan rezeki dan nikmatNya yang banyak kepadaku, menurut ukuranku. Sebagaimana firman Allah:
“NikmatKu yang manakah, yang kamu akan dustakan”?, itu bunyi surat Ar Rahman dalam Al Quran dan Assunah (QnS), insyaAllah aku senantiasa berupaya ingat akan pesan mulia ayat-ayat Al Quran dalam hidup keseharianku bersama keluargaku, agar kami tidak sombong, angkuh, bakhil, serakah, penipu, pembohong, mencuri/ maling, korupsi dll sifat-sifat berperilaku jahat, syaitan lainnya, yang dilaknat Allah SWT.

Baca :  Tebing Longsor, Bukti Bobroknya Pemerintah

Kini aku menjalani profesiku sebagai pengajar dan pengampu beberapa 8-10 matakuliah, pangkat akademikku Lektor Kepala/ atau Assosiate Professor sejak thn 2000. Aku menikmati betul profesi dosen ini, aku bisa belajar dan mengajar, dan bisa berbagi (sharing) ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada siapa pun, terutama kaum muda, mahasiswa sbg calon pemimpin masa depan, dan warga masyarakat yang mengundangku untuk berceramah dan berdiskusi serta curah pendapat (braind storming) spt Raker, FGD, seminar dan simposium, Aku juga membimbing skripsi, praktek lapang dan kuliah kerja nyata mahasiswa bimbinganku utk tugas kesarjanaan mereka. Juga terkadang aku terlibat dalam pekerjaan profesional dalam jasa konsultansi untuk pekerjaan Kementerian dan Lembaga (K/L) negara dengan berbagai judul riset kebijakan, kajian potensi SDAL, pemberdayaan masyarakat/community development, dan terkadang juga undangan dari perusahaan swasta. Dengan profesi konsultan tersebut aku kini, sedikit mengetahui potensi, issu-issu strategis regional-nasional dan permasalahan Indonesia dan umat Islam Indonesia dalam perspektif kebangsaan yang berkemajuan dan berperadaban.

Terakhir ini, terutama era pandemi Covid 19 aku banyak merenung dan menulis di medsos mengenai aneka topik dan judul berkaitan dengan kondisi “ipoleksusbudhankam” spt isu-isu korupsi, perbuatan kriminal-amoral dan nonetik, public policy yang keliru yang sesat-menyesatkan, membingungkan, irrasional, dsb.

Aku mulai berani beropini di arena publik, terutama melalui media sosial, niatku hanya berbagi pengetahuan antar sesama, penyadaran publik (public awareness) akan persoalan dan permasalahan kritis/gawat (issu-issu strategis dan krisis) yang tengah berlangsung di masyarakat, umat dan bangsa dipandang secara kritis, analitik, dan solutif untuk penyelamatan nasib bangsa dan keberlanjutan NKRI. Walaupun aku menyadari ilmuku belum seberapa, tapi niatku hanya ingin beramal ibadah, semoga Allah SWT memberikan ganjarannya, insyaAllah berupa pahala bekal hidupku diakhirat kelak, dan bisa diterima dan dimasukan ke golongan orang-orang sholeh di SurgaNya Allah SWT, Ya Allah kabulkanlah doaku dan keluargaku serta para Sahabatku,..ya Allah,…Aamiin-3 YRA.

Aku sejak muda gemar (hobby) bermasyarakat dan berorganisasi di sekolah Dikdasmen, Perguruan Tinggi dan Keormasan, hingga sekarang masih aktif dan tercantum sbg kepanitiaan, pemain, pengurus, dewan pakar, pertimbangan dan penasehat organisasi. Aku merasakan banyak manfaatnya ikut aktif berorganisasi di beberapa lingkungan sosial, selain wadah belajar, juga sebagai sarana pengabdian sosial agar hidup ini bermanfaat buat orang lain dan antar sesama. Dengan berorganisasi, aku bisa banyak bersilaturrahmi antar sesama teman dan sahabat, aku bisa mengaktualisasikan diri, sehingga bisa membawa rezeki dan hidup sehat, terhibur-tidak kesepian-banyak teman/sahabat, dan katanya bisa memanjangkan umur, insyaAllah. Gemar bersilaturrahmi itu, fadhillahnya adalah “murah rezeki dan panjang umurnya”, insyaAllah itu menurut keyakinan agamaku, itu benar adanya.

Dengan terlibatnya aku di sejumlah aktivitas dan berorganisasi kemasyarakatan spt Pramuka, Osis, Pemain/vokalis-gataris Band Pelajar SMPN Cerenti, Grup Paduan Suara SMA, Senat/BEM, UKM (Sekum BKI IPB), Ormas HMI (dari pimpinan Komisariat, sekum Cabang Bogor, sekretaris Badko Jabar dan hingga PB HMI), MD KAHMI, ICMI juga pernah aktif di Ormas KNPI, Dekopinda, Kadinda, Wandik, Gema MKGR, PPM, IKC se Jabodetabek, IKPMR Bogor, dan bahkan di Parpol (PG) sebagai sekretaris satu pernah menjadi Caleg DPRD dan DPR RI, dll. Kini aktif membina 2 Yayasan sosial (nirlaba) di Bogor (Yayasan Pengembangan Insancita/YAPIC Bogor) dan di kampung halamanku Cerenti (Yayasan Arsyada Cerenti N
Madani/YACM) sebagai wadah berbuat kebajikan dan kemaslahatan.

Baca :  Mengenang 40 hari wafatnya Ibuku, Hj. Daranah Djamin Tercinta

Aku pun senang, berbahagia dan sangat bersyukur di usia 63 tahun ini, masih diikut sertakan untuk terlibat dalam kerja-kerja pengabdian sosial-kemasyarakatan dan kemanusiaan. Jika orang bertanya tentang pekerjaan dan profesiku pada usia lansia 63 thn, aku tak ragu menjawabnya bahwa aku kini adalah Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat Sosial dengan segala dinamika suka dan dukanya.

Aku selalu berdoa kepada Allah SWT agar aku diberikan hidayahNya, Rah atNya, dan KaruniaNya.

Di masa hidup lansia memasuki usia 63 thn ini, insyaAllah tetap sehat walaffiat, senang berbahagia bersama.keluargadan kerabat, hidup bermanfaat buat keluarga, masyarakat, bangsa dan orang lain yang membutuhkannya.Setiap saat, kehidupan sehari-hariku, setelah sholat fardhu dan sunnah, aku menyempatkan diri membaca firman2 Allah dalam Al Quranul Kariem, dan pahami maknanya setiap ayat yang dibaca dengan khusuk dan tawadduk.

Alhamdulillah, aku sedikit paham bahwa untuk meraih kehidupan akhirats, berada di SurgaNya Allah tidak cukup hanya beriman dan bertaqwa kepada Nya spt rajin shalat dgn jidat menjadi “hitam”, berpuasa berlapar dan dahaga, berzakat yang banyak, berhajji berkali-kali dll, akan tetapi Allah SWT juga memerintah kita hambaNya, orang-orang beriman untuk berbuat kebajikan dan kemaslahatan di lingkungan sosial mana pun di dunia, banyak-banyaklah berbuat baik, sehingga hidup ini menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan saja bagi makhluk manusia tetapi makhluk lainnya dilarang dirusak, dan kita wajib juga merawat dan mengamankan kelestariannya (konservasi) sumberdaya alam (biotik: flora dan fauna, abiotik lainnya) dan ekosistem lingkungan, serta alam jagat raya (bumi dan langit beserta isinya).

Janganlah kita berbuat ketidakadilan (zholim) antar sesama dan merusak ekosistem alam di dunia, dan berikhtiar serta hiduplah pada jalan yang lurus (sirotol mustaqiem) yang diridhoi Allah agar menjadi mukmin sejati, dan hindari menjadi orang yang sesat dan menyesatkan, temannya iblis dan syaitan seperti orang-orang kafir, munafik, fasik dan musrik, sebagaimana janji Allah, mereka termasuk golongan kiri, penghuni neraka. Nau’zubillahi minzaliq.

Hidupku diusia ke 63 thn, aku terus belajar dan belajar, berlatih (learning by doing) dan mengamalkan firman-firman Allah SWT dalam QnS untuk meraih keseimbangan hidup dalam pemenuhan ekonomi, pelestarian ekosistem (ekologi, conservation) dan ekososial (social equity) dalam makna hidup yg luas dan berkelanjutan baik di dunia yang pana (limited), yg berusaha husnul khotimah, maupun kehidupan akhirats yang kekal abadi (unlimited) insyaAllah, Allah menempat aku dan kita di Surgajannatunnaim, Amiin-3 YRA.

Aku memohon maaf, apabila ada bahasaku, tutur kata dan kalimat dalam tulisan “refleksi” perjalanan hidupku 63 thn, thn 2022 ini, kurang berkenan di hati para pembaca sekalian. Ini hanya sekedar niat berbagi sekelumit pengalaman, silakan ambil yang baik-baiknya, lupakan yang buruk-buruknya. “Tiada gading yang tak retak”.

Bogor City, 8 Oktober 2022

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L, Pegiat dan Pengamat Sosial, mukim di Ciawi Bogor