Oleh: Dr. Apendi Arsyad
Nampaknya abang Syahbandar (Bandar) cukup paham dan peka juga mengamati dinamika “pro dan kontra” (prokon) terhadap artikel2 saya, yang selalu saya share ke WAG IKKS Forkom se Indonesia dan juga WAG sahabat saya lainnya. Maksudnya hanya berbagi ide dan informasi tentang berbagai fenomena sosial. Mana tahu ada manfaatnya untuk mencerahkan mindset kita akan suatu tanggungjawab memajukan negeri.
Setelah saya baca isi pesan japri bang Bandar dan juga beberapa yg sahabat lain seperti abang Marhendri, Irwandi Rustam, Duski Amin, Eddie Yusti, Suryadi Oemar, dll lewat dialog dinamis WAG IKKS. Mereka telah menyemangati saya untuk terus menulis, dan bahkan mereka “membela” isi tulisan saya dari kritikan yang tidak ada argumentasinya. Harusnya memang, kritikan disampaikan berupa tulisan dilakukan dengan karangan opini, sehingga tahu jalan pikiran si pengkritik dan apa substansi dialektika pemikirannya (diskursusnya). Akhirnya yang dikritik paham dimana “benang merahnya” secara intelektual.
Dengan adanya dinamika prokon tersebut, dalam hal ini saya terpaksa membuat klarifikasi dan narasi ini, agar persoalannya bisa lebih jelas, sehingga tidak terjadi misunderstanding yang berlarut-larut Semoga jga adanya manfaatnya bagi semua para sahabat yg terlibat dan persaudaraan tetap terpelihara dengan baik.
InsyaAllah saya paham niat baiknya dari abang2 di IKKS atas responnya yg agak serius, dan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan “pembelaan” terhadap isi pesan “moral force” dari tulisan saya tersebut, berikut saran2 dan nasehatnya untuk terus menulis gagasan2 yang konstruktif. Semuanya pendapat itu betul, tepat dan bijak dari abang Bandar dkk, terutama saran dan nasehatnya dari ungkapan yang mereka utarakan seperti:.. “suai ma toruilah menuli”;…” banyak ma guno manuli bisa dijadikan referensi untuk memahami kondisi nasional akhir2 ini; ..”saya selalu membaca dan menyimak tulisan bapak”… dan tulisannya telah membuka wawasan dan enak dibaca, dll. Begitu komentar2 sebagian sahabat, yang muncul secara spontanitas. Subhanallah walhamdulillah, terus terang saya semakin percaya diri untuk menulis.
Apa yg diungkapkan abang Bandar di WA japri kepada saya. Beliau berpendapat bahwa jangan bosan2 menulis. Melalui tulisan, dengan menggunakan bahasa kampuang kito, kita dapat untuk saling “mangingekan”. ughang yg lupo…”membangunkan” ughang yg tidugh, ….”menyadarkan” ughang yang ndak paduli…..dan hanya itu memang niat awak, ndak ado yang lain lo lai, luruian niat awak tu”, dan tidak usahlah marajuak begitulah kira2 pesannya.
Dalam memahami adanya gejala “prokon” tersebut sebagai materi pembelajaran, saya menjadi taringat cerita mengenai tugas dakwah Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT hanya mengabarkan gembira kepada kaumnya (ada kemaslahatan dan kebajikan, jalan ke surga), dan juga mengingatkan kaumnya (ada kemudaratan dan kemungkaran, jalan ke neraka). Dalam hal ini manusia punya hak bebas memilih (free will).
Siapa yang membolak balik hati seseorang untuk bersikap dan menerima kebenaran (haq) adalah orang2 yang hanya mendapat petunjuk Allah SWT (hudallinmas), jalan lurus (sirotol mustaqiem) sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirats, hanya Tuhan Yang Mahapengasih dan Maha penyayang, Allah SWT yang menganugerahinya.
Berikutnya, saya teringat pula carita dalam sejarah (tarik) Islam, dimana Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW ketika pamannya Abi Thalib dalam kondisi sekarat mau meninggal dunia (sakaratul maut), Nabi membimbing paman untuk mengucapkan kalimah sahadat,.. “..AshaduAllah illah haillallah wa ashadu’anna Muhammadar Rasulullah…. (aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad SAW adalah utusan Allah)
Sebagaimana disebutkan dalam sejarah tersebut, Nabi dan Rasul Muhammad SAW telah berusaha sekuat tenaga, akan tetapi “gagal” menuntun Pamannya agar melapazkan bacaan “kalimah sahadat” (kalimat tauhid) tersebut diatas. Kita mengetahuinya, bahwa Abi Thalib paman Nabi adalah seorang pembela dan pelindung Nabi yang gigih untuk mencegah ancaman kaum kafir Qurais, ketika Nabi menunai tugas dakwah Islam di jazirah Arab di Mekkah semasa itu, di awal-awal masa kenabian dan Rasulullah Muhammad SAW.
Abi Thalib adalah tokoh kaum Qurais yg sangat berpengaruh, disegani, yang selalu “pasang badan” membela keponakannya itu dari perbuatan kezholiman kafir Qurais dan antek2nya. Tapi apa sesungguhnya yang terjadi, Abi Thalib tidak mau dan mampu berlafaz sahadat mengakui bahwa. “…Allah itu tuhan satu2nya dan Muhammad adalah utusan Allah” di akhir hayatnya dibawah pangkuan Rasullah. Paman nabi menghembuskan napas terakhir “tidak” berada dalam posisi husnul khotimah. Waktu itu Nabi dan Rasul Allah, Muhammad SAW begitu sangat sedihnya, dan menyesal bahwa salah seorang, orang yang dia cintainya gagal masuk Islam. Lantas Allah SWT pun menegur dan mengingatkan Nabi bahwa hidayah itu hanya milikKu…Allah SWT.
Simpulan apa yg bisa kita tarik pelajaran dari peristiwa “gagalnya” Rasullullah Muhammad mengislamkan pamannya. Dan orang yg disayanginya, kenyataannya tidak mendapat petunjuk (hidayah) Allah SWT, karena hidayah itu merupakan kekuasaan dan kewenangan mutlak dariNya.
Apalagi kita sebagai seorang yang berstatus “muslim dan mukmin” (makhluk dan hamda yang dhoif), dan insyaAllah tetap teguh menjadi pengikut Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW, jika kita menyampaikan suatu kebenaran (hak dan batil) kepada orang lain dan atau masyakat dan publik tertentu berupa tulisan, maka janganlah sekali-kali, kita berpretensi bahwa syiar kebaikan yang kita sampaikan kepada teman dan para sahabat kita langsung diterima dan mereka menjadi berubah seketika ke arah yang lebih baik atas keinginan kita
ya ngak lah. Artinya mereka taat beribadah atas dasar keimanan dan ketakwaan serta mau berbuat kebajikan..tentu tidaklah demikian.
Seperti yang telah saya narasikan diatas bahwa itu adalah domain (ruang) kekuasaan dan kewenang Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang… Allah SWT. Kita hanya bisa berharap dengan berdoa kepada Allah SWT, agar orang yang sempat membaca tulisan kita bisa mencerna dengan baik, menggunakan nalar yang cerdas dan hati yg tulus-ikhlas. Selanjutnya sikap kita, semoga doa yang kita sampaikan, didengar dan dikabulkanNya.
Jadi, kita berpikir, beropini menulis artikel menggunakan media sosial seperti WAG etc..niatkan saja kita berdakwah menyampaikan informasi yang haq dan batil, amar makruf nahi mungkar sebagai perintah agama, serta kemudian soal diterima atau ditolaknya, dikritisi, dicibiri, dan bahkan “dicaci maki” kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT.
Tuhan Allah “mboten sarek” (Allah SWT tidak tidur), meminjam istilah almarhumah ibu kandung Presiden RI bpk Jokowi, ketika anaknya “dicaci maki dan difitnah” publik. Allah juga betfirman dalam QS Al Qasas ayat 69..” Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan dalam dadamu dan apa yang kamu nyatakan” (Al Quran terjemahan Depag RI, edisi thn 2002).
Dalam kontek ini, yang penting sikap kita sekali lagi, apabila ada kritikan terhadap tulisan kita “janganlah dimasukan ke dalam hati, itu dijadikan saja sebagai masukan untuk menuju suatu kesempurnaan, alias berlapang dada (legowo dan mawas diri). Dan yang jelas faktanya, kita telah berbuat, berpikir dan meluangkan waktu untuk menulis apa2 yang kita yakini materi-pesannya adalah “benar” (bukan hoaks). Apalagi artikel tsb semata-mata bermaksud untuk berperanserta memajukan negeri, rakyat, bangsa dan negara ini (NKRI) yang kini dirundung sengkarut permasalahan yang multi aspek-dimensi (kompleks) dan ditambah lagi muncul krisis pandemi Covid 19 saat ini, semakin melengkapi penderitaan, yang menimpa rakyat.
Dari sisi lain, adanya artikel yang dibuat dan dimuat di WAG IKKS, itu membuktikan adanya perhatian dan kepedulian terhadap nasib nagori kito Rantau Kuansing yg kini bermilad memasuki usia ke 21 pada thn 2020 ini. Kita tahu dan harus berkata jujur bahwa rakyatnya dan para Dunsanak awak di kampuang (masyarakat lokal dan asli etnis Melayu beragama Islam) hidup dan kehidupannya masih tertinggal atau belum sesuai harapan. Mereka masih banyak yang hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan di daerah perdesaan. Barang tentu ini merupakan suatu tantangan bagi kita bersama untuk mencarikan “best-solusion”, best practices baik secara sains (konsep dan teori serta prakteknya dengan tawaran teknoligi tepat guna) untuk mengatasi berbagai hambatan pembangunan di daerah kita. Hambatan2 pembangunan daerah begitu banyak jika dianalisa berdasarkan issu2 strategisnya antara lain: fenomena sosial dan faktor perilaku amoral korupsi, kolusi dan nepotisme (kekuasan dinasti) yang semakin kuat dan tidak mereda di kalangan elite politik dan para pejabat birokrasi pemerintahan (the ruling party); pencemaran dan rusaknya ekosistem DAS Kuantan dan DAS Singingi akibat penambang liar (Peti) yang sangat merugikan rakyat; perampasan tanah ulayat untuk perluasan kebun sawit milik para oligarki, taipan yg kebetulan berstatus buronan Kejaksaan dan KPK; kebakaran hutan yang mengekspor asap akibatnya banyak penduduk terkena penyakit gangguan pernapasan (ispa); lemahnya penegakkan hukum untuk menertibkan kehidupan masyarakat karena masih kuatnya mafia hukum dan peradilan; belum.optimalnya pengelolaan sumberdaya lahan pertanian sehingga sayur mayur dan buah2an masih didatangkan dari daerah Sumatera Barat; pola budaya masyarakat lokal belum produktif (pemalas) disebabkan rendahnya mutu pendidikan, dll. Dalam hal ini, Pemkab Kuansing belum berhasil bahkan dapat dikatakan “gagal” dalam mengatasinya berbagai problematika sosial yang menghambat kemajuan negeri tersebut.
Oleh karena itu dituntut partisipasi semua pihak pemangku kepentingan (stakeholders) terutama kaum cerdik-pandainya Kuansing, baik yang berada di kampuang maupun yang ada di perantauan (diaspora) agar bisa bersuara “lantang dan kritis” dengan menyumbangkan pemikiran2nya sesuai batas kemampuan dan kompetensinya.
Terus terang, says berkata jujur, bahwa saya menshare tulisan2 saya, dapat diibaratkan, bahwa saya sedang hanya berperan sebagai seorang “muazin” di musholah kecil, namanya “kampung IKKS”. Dan adapun seberapa banyak orang sekitarnya/ anggota jemaah yang datang ke musholah, itu bukan otoritas saya. Itu adalah mutlak kekuasaan dan kewenangan (power and authority) datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang membolak balikkan hati manusia. Ada manusia yang diberi Petunjuk (hudallinnas sebagai mukmin dan mukminat) dan ada juga yang tidak (tetap kuffur nikmat). Semoga kita tergolong manusia yang mendapat petunjuk/ hidayahNya dan selalu bersyukur akan nikmatNya hingga di akhir hayat..Amin YRA.
Sehubungan Milad ke 21 Kabupaten Kuansing, Saya mengucapkan selamat dan sukses bagi para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat yang telah “membangun” masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, yang berkemajuan dan berperadaban/beradat.” Basatu nagori maju”. Salam kayuah… pacu jaluar. Kita juga berharap, semoga Pilkadal-pilbub Kuansing yang akan diselenggarakan pada tgl 9 Desember 2020 mendatang, dianugerahi Allah SWT, dan terpilih oleh rakyat sepasang Pemimpin Kepala Daerah (Bupati dan Wakil Bupati) yang beralhlaq mulia yaitu berwatak siddiq, amanah, fathonah dan tabliq sebagai modal utama dan mutlak untuk memajukan rantau (nagori) kita Kuansing.
Harapan kita semua, dengan Milad ke 21 thn rakyatnya, kaum dunsanak kito di kampuang hidupnya semakin maju, beradat/beradab dan sejahtera Berlandaskan budaya Melayu Islamnya dengan tigo tali sapilin-kearifan lokalnya terwujud Amin3 YRA.
Demikian respon saya atas adanya saran, nasehat dan pendapat untuk saya dari abang Syahbandar (IKKS Batam) dkk lewat WA. Saya yakin mereka bermaksud baik, dengan beberapa pesannya “janganlah baronti manuli,..ambo torui manyimak dan basonyo enak….”suai ma torui ajo manulis” demi untuk kemajuan nagori awak ru.”; dan “jaan loo sampai marajuak pulo… muach”. Begitulah bahaso Caghontinya yang sarat dengan nasehat2 bahasa kebaikan untuk berbuat kebajikan. InsyaAllah, selagi sehat, saya akan terus menulis untuk kemajuan negeri, mohon doanya. Maafkan saya, jika terdapat penggunaan kata2 dan kalimat dalam tulisan ini, yang kurang berkenan di hati. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hambaNya yang soleh, barakallah. Amin3 YRA.
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad, MSi (Penulis adalah Dosen, Konsultan dan Pemerhati Sosial, mukim di Ciawi Bogor sejak 1980 sd. sekarang)





