Oleh: Dr. Apendi Arsyad
Tadi pagi saya berangkat ke kampus Universitas Djuanda Bogor, tempat saya mengabdi lk 34 thn, tahun 1986 saya ikut serta mendirikannya sebagai Sekretaris Tim Persiapan Pendirian UNIDA yg diterbitkan SKnya oleh BHP Yayasan Pusat Studi dan Pengembangan Islam (YPSPI). Pagi Jumat tadi saya ada tugas akademik untuk menguji mahasiswa praktek kerja lapang (pkl) bimbingan saya, berangkat ke kampus dan dijalan terkena macet di lokasi perapatan Ciawi Bogor, dekat rumahku. Lalu lintas (lalin) sangat padat dgn aneka kenderaan mobil dan sepeda motor, jalan padat merayab dan kenderaan lebih lama berhenti ketimbang berjalan pelan. Akhirnya ujian mahasiswaku terpaksa molor waktunya.
Ow …. ternyata ini faktor penyebabnya arus lalin terganggu, jika menonton postingan video kerumunan yang padat menyambut kedatangan HRS untuk sebuah acara keagamaan Islam di kawasan Puncak Bogor. Ummat begitu banyak memadati jalan, dan ada juga mendekat ke mobil HRS, subhanallah… mbuludaknya ummat Islam menyambut ustadz HRS. Hal ini mengindikasikan ada sebuah fenomena baru dan amat langka, ternyata begitu meluap-luapnya rasa kerinduan sebagian besar ummat akan lahirnya seorang sosok pemimpin baru di Indonesia, yg diharaokan bisa membawa harapan baru bagi kemajuan ummat, rakyat, bangsa dan negara Indonesia, sebagaimana yang dicita-cita the founding fathers negeri ini.
Kita memang melihat sebuah fenomena sosial belakangan ini sikap dan watak kenegarawanan para pendiri bangsa, antara lain seperti alm Bung Hatta, mulai banyak dilupakan para pemimpin dan elite politik (the ruling party) di era millenial zaman Now.
Sikap dan akhlaq Sang Proklamator kita Allahyarham alm. Dr. Mohammad Hatta salah seorang protipe pemimpin ideal yg pernah dimiliki NKRI, seharusnya dicontoh. Almarhum bapak bangsa Dr. Mohammad Hatta, bapak Koperasi Indonesia, orangnya cerdas, rela berkorban demi bangsa Merdeka (salah satu sikap yg menarik ngak kawin sebelum Indonesia merdeka dari penjajahan), nasionalis-religius, taat beribadah kepada Allah SWT sejak belia, manusia jujur (berintegritas tinggi), demokrat sejati dan teguh pendirian/istiqomah (berbeda sikap politik dengan Presiden Soekarno mundur sebagai Wapres RI, memberikan kesempatan berkuasa dan “jalan” kepada Presiden Ir.Soekarno yg akhirnya “bad ending”, karena Nasakom dan “bermesraan”dengan PKI), dan terakhir watak Bung Hatta yang paling sulit untuk ditiru generasi pemimpin zaman Now adalah kesederhanaannya, hidup hemat dan tidak hedonis (hidup bermewah-mewahan) serta korupsi/ KKN. Untuk jelasnya baca tulisan saya topik “Mesium Bung Hatta dan Nasib Ekonomi Indonesia“.
Jadi, persoalan sesungguhnya bangsa ini adalah inkonsistensi penyelenggaraan negara yg tidak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945, khusus pasal 33 mengenai Kesejahteraan Sosial. Faktanya kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang amat menggangu persatuan dan kesatuan adalah ketidakadilan sosial bagi sebagian besar orang, terlebih untuk kaum muslimin Indonesia. Adanya ketidakadilan tersebut mengakselerasi muncul kepemimpinan baru yg diperankan HRS. Ditambah lagi akibat disorientasi lembaga perwakilan rakyat (DPRD dan DPR RI) akhir-2 ini gusture semakin menjauh dari aspirasi ummat dan bangsa.
Adanya femomena sosial penyambutan Ustadz HRS di bandara Sutta beberapa hari lalu, dan juga tadi pagi di kawasan puncak Bogor pada hari Jumat ini, dimana tampak jutaan ummat berdiri “numplek” di jalan raya. Ini membuktikan bahwa kerinduan akan hadir seorang tokoh ulama HRS yg bisa mewarnai kehidupan sosial politik untuk memantapkan kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan tidak meninggalkan nilai dan norma keimanan dan ketataqwaan kepada Allah SWT. Dengan kata lain bangsa ini harus bermimoral dan berakhlaq, makanya diperlukan “revolusi akhlaq” (sedang bahasa Presiden RI bapak Jokowi disebut “revolusi mental” yg belum juga kelihatan-2).
Yang jelas fenomena sosial “mbuludaknya” massa ummat Islam tadi pagi, ini sebuah pemandangan yg langka dan menarik untuk diteliti ke arah mana perubahan sosial itu akan terjadi. Permainan belum selesai ? Kita berharap bandul yg bergerak tetap dalam keseimbangan yang tetap menjadi.win-win solution, bukan win-lose solution, apalagi lose-lose solution. Dua terakhir ini harus kita cegah dan hindari.
Ini kehidupan sosial politik, memang sulit ditebak arahnya kemana bandul itu bergerak. Ibarat permainan sepak bola, bolanya yg disepak bentuknya bunder, bola bisa mengelinding kemana-mana tergantung yg membawa (mengarak dan menendang) bola ke gawang.
Kita berharap dan berdoa, semoga Allah SWT tetap menjaga ummat dan bangsa ini tetap bersatu, rukun dan damai, serta segeralah kita bisa meraih hidup yang sejahtera, adil dan makmur dalam wadah NKRI yg beradab dan berdaulat, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Salah satu yg bisa mendorong ke arah kemajuan itu adalah para pemimpin Indonesia zaman ini mau dan mampu (berkomitmen) tinggi untuk menjadikan Badan Usaha Koperasi Indonesia menjadikan soko guru perekonomian nasional sebagaimana amanat konstitusi (UUD 1945), yang dirumuskan dan diputuskan Bung Hatta dkk pada thn 1945, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud dalam waktu tidak terlalu lama….Amin3 YRA.
Kita yakin akan hal itu, insyaAllah terwujud.
Sukron barakallah. Amin3 YRA.
Wabillahit taufik walhidayah wr wb. Wassalam.
Penulis adalah Dosen, Konsultah, dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Khusus Bogor serta Pemerhati Sosial. Saat ini penulis bermukim di Ciawi, Bogor.

