BOGOR (Lead.co.id) – Biskita Trans Pakuan adalah layanan Bus Rapid di Kota Bogor yang dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Perumda Trans Pakuan, sebelumnya bernama Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT).
Bus kota ini sangat mirip dengan Transjakarta, hanya berhenti di halte tertentu saja. Rute dan jadwal keberangkatan bus tersebut dapat dilihat melalui aplikasi BisKita. Sehingga penumpang memanfaatkan hal itu dan menjadikan kelebihan bagi transportasi ini.
Namun, meski dengan banyaknya manfaat dan kelebihan yang didapatkan penumpang, menjadikan adanya pihak yang dirugikan, seperti beberapa sopir angkot yang rutenya sejalur dengan rute BisKita.
Kehadiran BisKita Trans Pakuan merupakan bagian dari penataan angkutan perkotaan di kawasan Jabodetabek yang belum memiliki layanan angkutan umum dengan sistem BRT yang merata.
Dengan adanya BisKita tidak hanya memberi dampak positif, tetapi juga menjadikan timbulnya masalah di masyarakat, mulai dari keterbatasan penumpang yang ingin menggunakan BisKita, namun mereka tidak memiliki E-money sebagai syarat utama menaiki BisKita.
Selain itu, tidak semua halte memiliki kamar mandi menjadi keluhan para penumpang. Dengan penumpang yang melebihi kursi yang tersedia juga menjadi keluhan.
Beberapa sopir angkot dari rute tertentu juga beralih menjadi supir BisKita karena penghasilan yang didapat dari bekerja menjadi supir angkot tidak mencukupi kehidupannya. Sopir angkot juga mengalami keluhan akibat adanya BisKita yang gratis.
“BisKita kan gratis, penumpang otomatis naik yang gratis, itulah keluhan yang selalu kita alami,” kata sopir angkot 01 saat diwawancarai.
Sopir angkot mempermasalahkan adanya BisKita yang mana merupakan kebijakan dari pemerintah karena pendapatan yang didapat sopir angkot menjadi sangat berkurang dan kebutuhan keluarganya tidak tercukupi.
Mereka merasakan ketidakadilan karena sopir BisKita mendapatkan pendapatan yang tetap dari pemerintah, sedangkan sopir angkot pendapatannya yang selalu berubah-ubah disetiap harinya. Hal ini menimbulkan potensi supir angkot berdemo karena rutenya sejalur dengan BisKita.
Namun potensi ini bergantung pada koordinator pusat angkot. Oleh karena itu para sopir angkot sering mengeluhkan kondisi mereka terhadap strata sosial yang ada.
Menurut sopir angkot, seharusnya dana pemerintahan kota bogor tidak dialihkan untuk adanya Biskita, seharusnya dana tersebut dialihkan ke hal-hal yang tidak merugikan satu sama lain. Atau jika memang akan terus diadakan BisKita ini mungkin jadwal operasinya bisa diubah dan dibatasi agar supir angkot juga mendapatkan jatah penumpang.
BisKita ini adalah alat transportasi yang sudah mengikuti perkembangan teknologi seperti pembayaran melalui e-money. Tetapi sebisa mungkin dengan adanya BisKita juga tidak seharusnya merugikan orang lain/pekerja alat trasnportasi lainnya.





