Site icon LEAD.co.id

Ayah Hebat dalam Rangka Hari Anak Nasional

Ayah Hebat, Hari Anak Nasional, Apendi Aesyad

Oleh: Apendi Arsyad

Topik webinar yang digelar pada malam ini (Jumat, 29 Juli 2022) oleh MPP ICMI Pusat bidang VI yang dikoordinasikan Waketum MPP ICMI, ibu Prof Riri Fitri Sari, dengan topik Talk Show “Ayah Hebat Lindungi Anak Indonesia”, bagus sekali ini. Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, yang jatuh Senin 1 Agustus 2022, 3 hari yang akan datang.

Saya AA sangat mengapresiasi forum Webinar ini, kumpulan para cendekiawan muslim (ICMI) untuk berdiskusi, dan saya sangat tertarik untuk ikut serta nimbrung, paling tidak menyimak pemikiran dan pesan-peserta moral dan etik dalam wacana “ayah hebat” tersebut.

Apalagi narasumber yang diundang bicara adalah orang-orang hebat seperti Prof Arif Satria, Rektor IPB University, yang juga Ketua Umum MPP ICMI, dan Gubernur Jawa Barat Kang Dr M Ridwan Kamil atau yang mewakilinya, dan Dr Priyo Budi Santoso Waketum MPP ICMI dan mantan Wakil Ketua DPR RI, politisi Cendekiawan muslim yang memiliki jam terbang cukup lama.

Ketiganya orang tokoh nasional ini adalah manusia sukses dalam karier kepemimpinannya yang berbasis memadukan imtaq dan ipteks, memiliki kemampuan penalaran saintifik yang mendalam dan sekaligus berakhlaq mulia. Patut disuri-tauladani, terutama dalam soal mendidik anak-anaknya di rumah tangga (informal education), itu pandangan selintas saya.

Artinya mereka memiliki pemahaman, penguasaan dan pengamalan iman, ilmu dan amal secara holistik, sistematis dan terintegrasi, atau dengan ungkapan populer lainnya “berilmu amaliah dan beramal ilmiah”.

Oleh karena itu, forum diskusi malam ini semakin menarik untuk disimak dari ketiga tokoh ini agar kita bisa menggali berbagai pemahaman konsep dan mengambil pelajaran dari pengalaman (lesson learn), yang sukses dalam mendidik anak-anaknya dalam kehidupan berkeluarga.

Kita paham bahwa dimana ayah berperan penting dan strategis dalam proses pembentukan watak (karakter) anak-anaknya. Selain ibunya anak-anak merupakan madrasyah pertama dan utama bagi pemenuhan kebutuhan material dan spiritual anak-anak dalam kehidupan rumah tangga yang berpendidikan sukses.

Banyak para ilmuwan, akademisi dan pakar pendidikan berpendapat, bahwa ayah adalah sosok atau vigur terdekat, yang menjadi “panutan dan idola” keluarga, orang yang diguguh dan ditiru segala ucapan dan perbuatannya (human behavior) yang baik-baik dari anak keturunannya.

Begitu pun sebaliknya, jika seorang ayah tidak bisa atau mampu menjadi suri-tauladan kepada anak-anaknya, maka anggota keluarga berpeluang besar mengalami kegagalan dalam menghasilkan anak yang terdidik dan terpelajar.

Kita sangat paham bahwa keberhasilan mendidik anak adalah salah satu kunci pokok, bisa terbangunnya keluarga yang berbahagia, keluarga yang berkasih sayang (sakinah mawaddah warohmah), yang menjadi idaman dan dambaan semua orang.

Ingat saja, ketika ada surat undangan acara pernikahan dan resepsi (walimaan), dari keluarga mempelai kepada kita, sudah bisa dipastikan mereka pihak keluarga untuk memohon didoakan, agar sepasang pengantin tersebut, dianugerahi Allah SWT menjadi keluarga “sakinah mawaddah warrohmah”.

Begitu pun, selama hidup di dunia ini, kita mendambakan zuriath yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga anak-anak sholeh/sholehah yang kita bisa mendoakan keselamatan untuk kedua orangtuanya yang telah berada di alam baqa (akhirats).

Keluarga Sakinah “mawaddah warrohmah” adalah salah satu misi ICMI dengan program 5 K (kualitas) yang terus kita perjuangkan dalam masyarakat dan keluarga Indonesia, sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yakni manusia yg Indonesia Seutuhnya.

Kita ingat pula, bahwa keluarga merupakan tiang (pilar) utama untuk kokoh dan utuhnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara NKRI.

Keluarga merupakan juga unit terkecil dalam sistem sosial yang sangat menentukan kemajuan masyarakat yang beradab dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Presentasi Prof Arif Satria pada malam ini, saya simak, sangatlah menarik menjelaskan pengalaman mengasuh anak di rumah, terutama romantika mendidik anaknya yang berkebutuhan “khusus”.

Sungguh menarik beliau jelaskan, menggunakan konsep sains pendekatan “Grit”, yang mengaitkan “parenting” dengan variabel “interest”, “hope”, etc ..etc, and “best practice” yang memunculkan “grit culture”, dengan pergeseran “mindset” yang maju dan baik.

Maaf, saya tak sempat mengurai lengkap dan mendalam dalam tulisan ini. Saran saya lebih baik dan bijak, bisa membaca langsung materi Pptnya.

Dengan dibahasnya topik “Ayah Hebat” pada webinar ICMI malam ini dalam rangka memperingati Hari Anak Indonesia thn 2022, maka pikiran saya menerawang ke waktu yang lalu, ketika saya menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor tahun 2013-2019.

Pada tahun 2016, saya pernah mengundang Wali Kota Bogor bapak Dr. H. Bima Arya Sugiarto di Sekretariat Wandik, untuk berbicara topik “Ayah Hebat” di media “forum focus group discussion” (FGD) yang dihadiri para pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan Kota Bogor.

Munculnya gagasan diskusi “ayah hebat” di Wandik Kota Bogor, diperoleh ilhamnya dari pidato bapak Dr. Bima Arya, Wali Kota Bogor di beberapa forum guru/PGRI di Kota Bogor.

Ketika itu, saya pernah membaca pula di mass media, dan mendapat informasi tentang peran dan fungsi ayah dalam pendidikan anak-anak dalam keluarga, yang dideklarasikan Mendiknas RI bapak Dr Anis Baswedan.

Salah satu issu strategis yang menonjol dalam konsep pengembangan “Ayah Hebat” dalam prakteknya adalah mengantar anak ke sekolah, menghadiri acara di sekolah diantaranya di saat mengambil raport nilai mata pelajaran anak kita, dan konsultasi soal perkembangan pembelajaran anak didik dengan guru wali kelas dan atau guru bimbingan konseling, juga ayah adalah tempat curhat anak-anaknya, sediakan waktu santai buat anak-anak di rumah maupun luar rumah (makan di resto dan atau bertamasya keluarga) dll.

Bahkan, Mendiknas RI, bapak Dr. Anis Baswedan, yang kini Gubernur DKI Jakarta, memberikan tauladan, mengantar anaknya ke sekolah dengan kendaraan jenis Vespa, sebagaimana gambarnya dimuat di beberapa koran nasional, media cetak, yang patut disuri-tauladani oleh para ayah, yang sibuk bekerja dan padat acara.

Walaupun sesungguhnya, atau barang-tentu gambaran bagaimana praktek “Ayah Hebat” tidak sesederhana itu permodelannya. Sifatnya demikian komplek, karena menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar anak manusia (basic human needs), dan ditambah lagi permasalahan pendidikan keluarga (informal education), yang harus dipenuhi dan dipecahkannya oleh kepala keluarga yakni “ayah hebat”.

Pengalaman mendidik anak dalam keluarga: mengapa, apa dan bagaimana yang dinarasikan mas Prof Arif Satria, Ketum ICMI Pusat; wakil bapak Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat, salah seorang pejabat Pemprov. Jabar; dan mas Dr Priyo Budi Santoso – Waketum MPP ICMI, sangatlah menarik untuk kita simak dan renungkan bersama selaku ayah di rumah tangga, dan izinkan saya menyimpulkan narasi yang mereka presentasikan.

Bahwa mereka, narasi para nara sumber telah menjawab dengan cerdas tentang kebutuhan dan permasalahan berdasarkan sistem nilai dan norma (value and norms system), dan pola budaya yang berbasis Dinnulislam (QnS) dan didukung konsep saintifik, paham teori, konsep dan prakteknya dalam mendidik anak- keturunannya (zuriath).

Mereka telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi generasi penerus yang baik, insyaAllah menjadi generasi muda berwatak kuat dan cerdas, yang pantas disuri-tauladani dalam berkehidupan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Ingat generasi muda yang berwatak baik menjadi tumpuan harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang kokoh dan kuat.

Dalam soal konsep “Ayah Hebat” ini, saya sendiri juga terus belajar dan belajar, tiada hentinya untuk mendidik anak-anakku di rumah.

Saya mempunyai anak 3 orang putri dan 1 istri, yang cantik, sehat dalam pandangan mataku. InsyaAllah juga mereka anak-anakku, alhamdulillah cerdas dan berprestasi di sekolah dan lingkungan masyarakat bahkan si sulungku, Annisa Hasanah, SP, MSi, kini mahasiswa program Doktor di Kyoto University, Japan, sponsorship Monbusho Pemerintah Jepang.

Anakku pernah meraih beberapa penghargaan nasional dan internasional dengan karya inovasinya bernama “Ecofunopoly”: Learning Green by Playing: papan permainan (board game) edukatif berbasis lingkungan, meningkatkan pengetahuan pemain (9 thn +) seputar lingkungan hidup dan pemanasan global.

Subhanallah, walhamdulillah karya inovatif anakku, telah mendapat pengakuan dan appresiasi Lembaga Internasional seperti United Nation (PBB) dan World Bank: salah seorang the winner dari 6 wanita di dunia dalam program Her SDGs 2021; Best Project Danamon Young Leaders Award, Japan Enivironmental Education Forum, UNEP- BAYER Young Environmental Envoy Germany, Ashoka Young Changemaker-Japan, Creativity in the Study Award Germany, Wildlife Conservation Society, Indonesia Sociopreuner Challenge (ISoC): Technopreunuership Surya University, YSEALI Future Seeds Grant from USA, Impact ASEAN Youth Innovation Challange in Bangkok-Thailand, Australia ASEAN Emerging Leaders in Australia, etc, etc yang telah menglobal.

Hal-hal yang disebutkan itu, barang tentu sangat membanggakan kami selaku ayah dan mamanya. Alhamdulillah, saya dan istriku ada sedikit punya pengalaman belajar (lesson learned) mengenai apa dan bagaimana kiat-kiat menjadi seorang ayah yang terus belajar berperan, berfungsi dan bertanggungjawab dalam pendidikan anak di lingkungan keluargaku. Maaf saya pun agak sulit menarasikan secara rinci, panjang lebar uraiannya dalam tulisan ini.

Maksudnya, saya bernarasi singkat ini, bukan “membangga-banggakan” tetapi hanya sekedar ingin berbagi pengalaman “experience sharing” semata, mana tahu ada manfaatnya bagi para pembaca sekalian.

Sebenarnya pengalaman mendidik anak itu, begitu kompleknya dan tidak linear sifatnya. Sistem nilai dan norma serta kaidah-kaidah sosial-budaya begitu rumit (komplek) dan sifat kontingensi, tergantung situasi-kondisi yang mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak dalam rumah tangga kita, apabila kita lihat dan analisa dari beberapa perspektif sainteks.

Untuk narasi pengalaman saya AA selaku ayah (parent) mendidik keluargaku, berlatih mengaplikasikan konsep “Ayah Hebat”, paling tidak mengantar anak-anak ke sekolahnya seperti yang disuritauladani bapak Dr Anis R Baswedan dan dianjurkan bapak Wali Kota Bogor, yang saya narasikan di atas.

Bisa dibaca beberapa artikel saya pernah saya tulis, yang sudah dishare di medsos Lead.co.id, diantaranya “Sweet-seventeen si Bungsuku“, etc. Hal itu untuk hanya sekedar berbagi pengalaman yang baik dan bermanfaat serta meningkatkan kualitas literasi, maaf tidak untuk hal yang lain.

Selamat dan sukses bagi rekan-rekan MPP ICMI yang telah berhasil membahas issu strategis “parenting” bagi keberhasilan mendidik anak-anak dalam keluarganya, dan terima kasih kepada narasumber yang telah menginspirasi dan mencerahkan kita. Syukron barakallah, Aamiin YRA.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Pegiat dan Pengamat Sosial, serta Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor

Exit mobile version