Bagaimanakah Bank Syariah Mendapatkan Keuntungan Tanpa Riba?

0

Oleh : Sovia Agustina

 

Menurut undang-undang No 23 Tahun 2008 Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Bentuk badan hukumnya adalah Perseroan Terbatas.

 

Bank Syariah muncul pertama kali dan diakui oleh undang-undang pada tahun 1992 yaitu Bank Mummalat. Pada saat itu Bank Mummalat merupakan satu-satunya bank yang berdiri berdasarkan prinsip syariah. Bank Syariah dibentuk karena kesadaran masyarakat akan bahaya dan kerugian yang timbul dari riba atau biasa disebut bunga.

Baca :  Bank Syariah Atau Bank Islam?

 

Riba merupakan tambahan tanpa adanya kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan tambahan tersebut. Dalam bank konvensional sistem bunga sudah lama diterapkan. Contoh jika seorang nasabah yang ingin ‘menabung’ dengan giro atau deposito akan mendapatkan tambahan dari uang yang diputar oleh bank atau yang biasa disebut bunga, tanpa dia harus mengeluarkan keringat dan menanggung kerugian atas uang yang diputar oleh bank itu  kepada peminjam.

 

Di dalam ajaran islam, manusia bisa mendapatkan keuntungan dari praktik jual beli dimana kedua belah pihak saling mendapatkan timbal balik akan suatu barang atau jasa atas dasar suka sama suka yang didalamnya terdapat pengorbanan harta, tenaga dan tanggungan atas kerugian. Pada praktik perbankan syariah diterapkan pada pembiayaan murabahah yang berarti jual beli dengan memberitahukan harga pokok dan keuntungan yang didapatkan. Sistem murabahah yaitu bank membeli barang yang diinginkan oleh nasabah secara tunai sehingga bank memiliki barang tersebut secara penuh lalu menjual kepada nasabah yang disebut dengan jual beli. Bank mendapatkan keuntungan dari jual beli tersebut dengan menyebutkan keuntungan yang akan bank terima secara gamblang.

Baca :  Etika Bisnis dalam Islam

 

Selain itu pendapatan terbesar bank berasal dari mudharabah yang berarti kerjasama antar bank selaku pemilik dana dengan nasabah selaku mudharib yang memiliki keahlian untuk mengelola suatu usaha yang produktif dan halal. Keuntungan bank berasal dari keuntungan investasi yang dibagi dengan nasabah berdasarkan nisbah yang disepakati. Kedua belah pihak sama-sama menanggung untung dan ruginya. Apabila nasabah mendapatkan keuntungan, maka bank juga akan mendapatkan keuntungan. Jika nasabah mengalami kerugian, maka bank juga merasakan kerugian, dan bank syariah tidak selalu mendapatkan keuntungan seperti halnya bank konvensional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here