Oleh: Apendi Arsyad
Alhamdulillah saya masih bisa melihat wajah-2 perkasa, dan manusia ganteng dalam berbagai postingan di WAG medsos FIKCI kita itu. Siapa dia kerabat kita yang satu itu?, yang masih eksis di WAG ini dan sehat walafiat, dan puluhan tahun kami tidak pernah bersua, dunsanakku itu adalah Aznan bin Jaharan, karena beliau lebih tua usianya, saya panggil Abang Aznan.
Bang Aznan bin Jaharan, alhamdulillah salah seorang kerabatku ini tampak semakin tawadhuak dan mau berbagi ilmu sesama kita.
Sesuai pertambahan usianya,
sudah tampak tampilannya sehat walaffiat (“basege”, “berminyak” bahasa Cerentinya,), cukup tawadduak, dan insyaAllah beliau pun mulai meninggalkan “dunia hitam” ha ha ha.
Maaf rambut dan jenggotnya mulai ditumbuhi uban. Sekarang rambut dan jenggot abangku itu, tetap dipelihara berukuran panjang, kini secara pelan dan pasti mulai kelihatan agak “memutih” warnanya. Subhanalllah tapi beliau tetap tampak sosoknya “nganteng” dan penuh semangat berbagi.
Memang waktu mudanya abangku orangnya tampan, berkulit kuning-lansat “cerah”. Tahun 1980an saya pernah bertemu di Jakarta dengan beliau, di tempat kostnya semasa berstatus mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di DKI Jakarta. Maklum ayahnya memang orang cakap, ganteng dan ibunya cantik.
Ayahnya alm Jaharan berprofesi sebagai mantri kesehatan yg terpandang dan sangat terkenal keahlian pengobatannya di masa saya kecil di kampung Cerenti.
Ayahnya adalah momanku karena sesuku etnis Manonam dengan omakku alm Hj Darana binti Djamin. Saya sendiri pun disunat-rasul oleh pak mantori Jaharan, ketika itu saya disunat tidak begitu terasa sakit, resep obatnya pun mujarab, itulah kehebatannya selaku.mantori kampung, nagori Cerenti.
Wah… apalagi ibunya/ omaknya bang Aznan. subhanallah termasuk wanita cantik, berasal dari keturunan cantik dan orang kaya, datuaknya bang Aznan pemilik puluhan oto bis Tunas Muda di Cerenti, yang sangat terkenal di masa tahun 1950-1970-an.
Adinda AA, saya maksudnya senang membaca postingannya bang Aznan, isinya cukup bernas, agamis/ religous agak kentara, ada etik, moral dan akhlaqulkarimah, filosofis, santific dan juga menghibur bagi para pembacanya yang menyimak kontennya.
Beberapa postingan dan sharenya beliau, bang Aznan terlihat kejernihan berpikirnya dan keluasan perasaan-hatinya, dan tawadduak tapi tetap humoris ndak tegang. Sekali-kali postingan juga muncul lagu-2 jadoel, baik pop, dangdut, jaz dll yang menarik dan menghibur. Saya menikmatinya.
Saya kemudian pun terkadang ikut berkomentar dan ada beberapa yg sempat saya narasikan lewat tulisan/artikel yang telah saya share di medsos WAG IKC se Indonesia, FIKCI dengan maksud berbagi ilmu, pengalaman dan informasi antar sesama orang-orang perantau Cerenti.
Apa yang dilakukan dunsanak saya ini abangku Aznan bin Jaharan perlu ditiru oleh kita, terutama bagi yang muda-2, agar kita sama bergerak ke arah kemajuan untuk membentuk masyarakat yang berperadaban modern.
Hayoo kembangkan nalar (pandangan kritis) dan jiwa seni/ rasa kita dalam dialog dan berdiskusi dalam WAG FIKCI ini. Saya menyimak bahwa kita sudah berpikiran bagus, lebih terbuka dalam merespon perbedaan pendapat seperti yang diposting kmd Yean Asnudi SP.MPd (Kepsek SMAN Inuman) vs Add Marhendri v; Yohana vs AA dkk, etc.
Alhamdulillah orang Cerenti itu, sebenarnya cukup cerdas dan leluhurkan kita hidupnya tempo doeloe juga telah memiliki para guru, kaum terpelajar, intelektual, dan telah mewariskan berperadaban maju di zaman itu.
Misalnya, sebutkan warisan peninggalan pendidikan Tsanawiyah Muhammadyah dgn sekolah Mualliminnya di desa Koto Praku, Perkoperasian Serba Usaha “UKM” di Kelurahan Pasar Cerenti, Majelis Taklim Tsamaratul Azhar-Perti Koto Peraku, Majelis Zikir “Tarekat” Engku Kuniang di Desa Sikakak, dll.
Saya telah menulis beberapa artikel tentang ini dengan merujuk dari sumber pustaka, diantaranya buku “Mendulang Butir-Butir Budaya Melayu Cerenti Kuantan Singingi Riau”, dan buku Authobiografi 70 dan 80 tahun H. Edward Arfa SH, dan buku-buku referensi yang lainnya.
Mari kita mulai berbagi ilmu pengetahuan dan kembangkan kemampuan intelektual kita di WAG ini secara rasional dan objektif, tidak perlu takut/khawatir berpendapat (beropini), apalagi ada referensi (sumber pustaka) yang valid seperti buku buku yang diposting cikgu Yean Asnudi ini bagus kita budayakan.
Budaya dialog atau diskusi disertai semangat berbagi (sharing ide) guna membahas sejarah negeri etnis Melayu, bahasa, kebudayaan dan level peradaban Masyarakat Cerenti, ini penting sekali kita lakukan untuk saat ini dan mendatang.
InsyaAllah semua pembaca disini tercerahkan, berjiwa besar, sabar dan bisa menerima perbedaan pandangan, toleransi, dan berwawasan luas dengan sikap optimis, sehingga tradisi budaya masyarakat adat tetap lestari, dikembangkan tidak hilang ditelan waktu dan bumi.
Saya berpendapat bahwa kunci memajukan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara hanya bisa dicapai dengan meningkatkan kualitas literasi, membaca banyak buku dan publikasi lainnya, pahami maknanya. Apabila kita memiliki, menguasai dan mengamalkan imtaq dan ipteks secara terintegrasi dalam diri pribadi dan masyarakat kita, insyaAllah akan terwujudlah masyarakat nagori Kuansing yang berkemajuan dan berperadaban Aamiin-3 YRA.
Akhirnya budaya Melayu Islam (Nusantara) Cerenti rantau Kuansing Riau, tidak lekang karena panas dan tak kan hilang di telan bumi…insyaAllah tetap eksis. (begitulah salah satu syair lagu Iyeth Bustami).
Demikian narasi singkat dibuat sebagai hasil perenungan pagi ini, semoga bermanfaat. Saya memohon maaf, jika ada hal-2 yang kurang berkenan di hati, terutama dunsanakku abang Aznan bin Jaharan.
Ingat moto Kuansing, “Basatu Nagori Maju,Tigo tali Sapilin, Salam kayuah”. Syukron barakallah.
Penulis adalah orang asli Cerenti, mukim Ciawi Bogor, pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan proyek K/L, Aktivis Ormas di Bogor dan Nasional; serta pemerhati/pekerja sosial

