Bicara Pertanian dan Perdesaan di Era Presiden Soeharto

oleh -158 views
Presiden Soeharto

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Saya baru selesai wawancara di Pod Cast Jend-Besar Soeharto Institute, di markasnya di Perum Bukit Cimanggu Permai, Bogor City. Pewancaranya adalah Sahabatku Dr. Gartono SH MH. Beliau koordinator inisiator dan deklarator berdirinya Jend-Besar Suharto Institute yang digelar pada tanggal 1 Oktober 2025 di Gedung Joang, Jln Pegangsaan Timur Jakarta Pusat, bertepatan dengan memperingati Hari Kesaktian Pancasila, salah satu produk public policy dan regulasi peninggalan regim Orde Baru (Orba) dipimpin Jenderal-Besar Soeharto, Presiden RI yang ke 2 berkuasa selama 32 tahun sejak 1966-1998, menggantikan Presiden RI pertama, Sang Proklamator Ir. Soekarno.

Acara Pod Cats yang dilaksanakan Jend-Besar Soeharto Institut, kali ini, sudah sessi ke 5, mengambil topik pembahasan yang diminta kepada saya AA, berkisar materi “Kontribusi Presiden RI Soeharto dalam Membangun Pertanian dan Perdesaan”. Waktu presentasi dan atau bernarasi selama lk 1 jam.

Membahas profil sosok dan vigur tidak mudah memang, kita melihatnya dalam sudut pandang atau perspektif yang mana, bahkan kepentinga politik dan appiliasi apa.

Izinkan saya bercerita sekilas bahwa saya generasi “baby boomer” lahir thn 1959, menjalani pendidikan tinggi di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1980 di era Zaman Orba Presidennya Bpk. Jend-Besar Soeharto. Pada masa saya berkuliah, demokrasi belum berjalan semestinya seperti di era Pasca Reformasi, sejak thn 1998 hingga sekarang ini.

Proses pemilu Pileg dan Pilpres di era Orba, sangat terkendali melalui DPRD dan MPR RI, terakhir era Presiden RI Soeharto parpol hanya ada 3 yaitu P3, Golkar dan PDI, setelah Reformasi sejak thn 1998, ada 4 kali Amandemen UUD 1945, terakhir Amandemen ke 4 UUD 1945 tahun 2002, yang sarat dengan problem politik. Pemilu Pasca Reformasi dengan multipartai dan bersifat langsung, tidak lagi melalui DPRD untuk Gubernur, Bupati dan Wali Kota, serta Presiden RI oleh MPR RI.

Jadi kurang bijak rasanya, atau begitu berat (unfair), apabila kita membandingkan mana yang lebih baik antara Era Regim Orba Presiden Soeharto, dengan Presiden RI Prof. BJ Habibie Era OrRef atau Orde Pasca Reformasi, setelah Presiden RI ke3 Prof. BJ Habibie.

Saya berani mengemukakan pendapat atau pemikiran rasional-objektif tentang “Jasa dan dosa”, plus minus kepemimpinan Era Orba alm Bpk. Presiden RI Soeharto ketika berkuasa selama 32 tahun, ditinjau dari sejumlah indikator keberhasilan versus kegagalan pembangunan. Karena atribut indikator terlalu banyak, mengingat ruang terbatas, tidak mungkin disebutkan semuanya. Saya membatasi dari beberapa aspek seperti yang diminta pihak pengelola program Pod Cast Jend-Besar Soeharto Institute, sahabat saya Dr. Gartono SH. MH dkk, adalah pertanian dan perdesaan.

Baca :  Agus Muliara Apresiasi Deklarasi AMAN dan Dialog Kebangsaan di 15 Provinsi

Saya sebagai narsum Pod Cats pada Seri atau siklus yang ke 5, saya berusaha semaksimal mungkin untuk berpendapat tentang pembangunan pertanian dan perdesaan Era Presiden RI Soeharto, secara profesional berbasis data dan infokom ditinjau dalam perspektif saintific (data dan trend analysisnya) dan sekaligus juga bersikap proporsional. Artinya berbicara objektif tentang baik atau buruk, dan sukses atau gagalnya Jend-Besar Soeharto dalam memimpin Indonesia selama 32 tahun berkuasa,.

Acara Pod cast telah digelar pada Sabtu siang tgl 22/11-2025 di Bukit Cimanggu Kota Bogor dalam suasana hujan yang cukup deras di sore hari. Harap maklum, Bogor dikenal Kota Hujan, suasana untuk merenung dan berpikir aman dan nyaman. Eunak Mukim di Kota Bogor yang telah dikenal kota “Herritage” warisan Penjajahan Belanda, dan kota Bersejarah, diantara lahirnya Supersemar di Istana Bogor, mengawali era baru bpk Soeharto, berkuasa, dan beliau sukses menumpas G 30 S PKI dan singkat kata akhirnya Soeharto dipilih MPRS RI menjadi Presiden RI ke 2 menggantikan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Saya kemukakan pendapat bahwa selain itu bpk Presiden Soeharto juga sukses membangun sektor pertanian dan kawasan perdesaan, dengan sejumlah program populis dan dukungan public policy dan regulasi based on scientific melibatkan para ilmuwan, akademis dan pakar dari Perguruan Tinggi terkemuka (Exellence University), dan sukses dalam peningkatan produksi tanaman pangan spt beras dll.

Faktanya di awal Orba thn 1966, Indonesia impor beras terbesar di dunia akibat kegagalan Orde Lama era Presiden RI Soekarno, tetapi faktanya Era Presiden Soeharto sukses mencapai swasembada beras thn 1984, dan Indonesia mendapat penghargaan Lembaga Pangan Dunia-PBB: FAO-UN. Juga bpk Presiden RI Soeharto membuat dan menjalankan berbagai program dan kegiatan pembangunan masuk desa, ABRI masuk desa, dengan berbagai Inpres tentang membangun KUD, Inpres Sekolah Dasar di Desa, Inpres Kesehatan dll.

Dampak positifnya luar biasa menghasil SDM yang berkualitas, sehingga melahirkan anak-anak generasi muda pelajar, siswa dan mahasiswa yang menggerakan Reformasi, berdemontrasi di gedung DPR dan MPR RI Senayan Jakarta, menuntut dihapuskan perbuatan kriminal KKN di NKRI, dan berhasil pula menurunkan Presiden RI Soeharto, Mei 1998, lengser ke Prabon, berhenti sebagai Presiden RI lk 32 tahun berikuasa.

Baca :  Belajar dari Pemikiran Pak Harto (Presiden Ke-2 RI)

Saya juga berani mengatakan bahwa bpk. Soeharto adalah manusia biasa, bukan malaikat, beliau punya kelemahan bahkan berbuat kesalahan, yaitu melakukan perbuatan tidak terpuji korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), seharusnya kita buang penyakit sosial KKN tsb, agar Indonesia berkemajuan dan berperadaban.
Akan tetapi itu regim Pasca Reformasi thn 1998, pelanjut Bpk Presiden Soeharto setelah lengser ke prabon, akibat tuntutan gerakan reformasi mahasiswa thn 1998, beberapa Presiden RI, gagal menghilangkan KKN. Akhirnya berujung “senjata makan tuannya sendiri” Jend-Besar jatuh kekuasaanya akibat didemo putra bangsa yang terdidik, hasil program pembangunan Orba.

Padahal Presiden transisi RI ke 3 Bpk. Prof. BJ Habibie sukses menyelamat NKRI dari konflik sosial, nilai tukar tukar dollar dengan rupiah normal kembali dan juga perekonomian mulai pulih kembali etc. Presiden RI pasca Reformasi, setelah Bpk Habibie, mereka tidak berhasil atau gagal menjalankan tuntutan gerakan Reformasi, yang terjadi justru “Repotnasi” ekonomi rakyat semakin susah dampak negatif kental perbuatan kriminal KKN yang diwariskan regim era Suharto, diulangi kembali.

Begitupun keberhasilan bpk Presiden Soeharto membangun pertanian dan masyarakat perdesaan juga mandek alias gagal diteruskan di era Pasca Reformasi. Seharusnya yang baik dan sukses spt pembangunan pertanian diteruskan secara profesional dan bertanggungjawab, serta melibatkan para ahli, akademisi dan pakar Perguruan Tinggi dalam membuat public policy dan regulasi, mengawal program aksi spt Bimas dgn konsep Panca Usaha, Insus/suprainsus, dan BUUD/KUD melalui aktivitas kuliah kerja nyata mahasiswa, seharusnya dilanjutkan.

Era Presiden RI Jokowi public policy dan regulasi amat parah, banyak yang ngawur, public policy have not scientific, tanpa naskah akademik, Amdal dan study kelayakan yang baik dan memadai, alias dokumen perencanaannya “abal-abal”. Akibat negatifnya, lihat saja design Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti pembangunan IKN Nusantara di Penajam Utara Kaltim, Eco Rempang City di Barelang Kep. Riau, PIK 2 di Pesisir Banten, proyek Hilirisasi Tambang Nikel di Morowali, Proyek KAC Whoosd sarat dengan korupsi dan beban berat dengan piutang yang besar dan terus membesar suku bunganya, Proyek Tambang Nikel di pulau-pulau kecil di sekitar kawasan Ecomarine tourisme Raja Ampat, Papua Barat diprotes NGo dunia, spt Green Peace, dll berdampak buruk terhadap citra Indonesia di dunia internasional, menggerogoti sistem perekonomian nasional karena pemborosan APBN, pelanggaran HAM, menggusur rakyat lokal (local community) dan bahkan bisa menggangu atau mengancam kedaulatan negara-bangsa (nation-state dignity) spt PSN IKN Nusantara yang tak layak secara geoekonomi dan geopolitik, dekat dengan wilayah perairan Natuna yang merupakan zona konflik beberapa negara, yang dihegemoni RRC.

Baca :  Gelar Diskusi Publik, Akademisi dan Mahasiswa Dukung Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Materi dan proses presentasi dan narasi secara utuh pokok bahasan mengenai pembangunan sektor Pertanian dan Kawasan Perdesaan Era Orba Presiden RI Soeharto, yang dapat disebut sukses, nanti menyusul diviralkan di medsos YouTube. Kini video tayangannya sedang dipersiapkan oleh Taskforce Infokom Jend-Besar Soeharto Institute, yang pendirian Lembaganya dideklarasikan pada tgl 1 Oktober 2025 di Gedung Joang jln. pengangsaan Timur Jakarta Pusat. Saya AA juga diundang dan berkesempatan hadir.

Alhamdulillah ternyata setelah dideklarasikan Jend-Besar Soeharto Institute, tidaklah ‘tukcing”, setelah dibentuk cicing (diam), alhamdulillah, tidak demikian ‘not tukcing” programnya berjalan, walaupun terbatas. Mereka baru bisa melakukan kegiatan Pod Cast membahas tentang kontribusi Presiden RI Soeharto dalam membangun Indonesia dalam segala bidang dan aspek Ipoleksosbudhankam.

Pada kesempatan Pod Cast sekarang ini, saya diminta para pengelola program Jend-Besar Soeharto Institute membahas topik Kontribusi Soeharto dalam membangun Sektor Pertanian dan. Kawasan Perdesaan, mungkin karena memang background pendidikan lulusan S1, S2 dan S3 IPB University dan sekarang oleh Rekan SPS IPB University diminta mengajar sebagai dosen tamu di Priodi S3 PSL, IPH dan SPD. Maka, berdasarkan latarbelakang tsb, kemungkinan saya diminta sebagai narsum berbicara di Pod Cast tentang tema sektor pertanian dan kawasan perdesaan sebagaimana saya kemukakan diatas dengan ringkas.

Sekian dan terima kasih atas perhatian pembaca budiman. Semoga kehadiran Tulisan ini ada manfaatnya. Akhirul kalam, semoga Allah SWT memberkahi kita sekalian, Aamin-3 YRA.

Gallery and Ecofunopoly, Kp Wangun Atas Rt 06 Re 01 Kel. Sindangsari, Botim City, West Java, Sabtu 22 November 2025

Penulis adalah Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat serta Kritikus Sosial melalui Tulisannya di Media Sosial dalam Rangka ikut serta berkontribusi mewujudkan keberhasilan visi dan misi Indonesia Emas tahun 2045