Belajar dari Pemikiran Pak Harto (Presiden Ke-2 RI)

0

Oleh : Teddy Khumaedi

Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia, adalah salah satu sosok ambigu dan kontroversial dalam sejarah Negara ini, ia ambigu dalam banyak kebijakkan ketika menjabat kepala Negara dan kepala pemerintahan. Tujuh kali terpilih sebagai presiden RI sekitar 32 tahun lamanya, cara menjalankan kekuasaan yang refresif-otoriter, prediksi jumlah kekayaan, sedikit deretan kontroversinya termasuk bisnis anak-cucunya.

Stabilitas nasional salah satunya semboyan yang selalu didengung-dengungkan ketikan pak harto masih menjabat benar-benar ampuh, sebelum terjadinya krisis moneter ketika melanda kawasan asia pada tahun 1997-1998. Dalam menjalankan kekuasaannya, soeharto dengan rezim orde barunya selalu berpijak pada trilogy pembangunan : stabilitas nasional, pertumbuhan, dan pemerataan. Asumsinya dengan stabilitas nasional yang kondusif, pembangunan berjalan dengan baik. Hasil pembangunan tersebut dibagikan dan dirasakan oleh rakyat dengan prinsip trickle-down effect, dalam trilogy pembangunan, stabilitas menjadi “dewa“ yang tidak bisa dibantah, atas nama pancasila dan kepentingan rakyat, banyak gejolak lasngsung ditumpas dan dibrantas dengan sikap tangan besi, peristiwa malaria, talangsari dan tanjung priok contoh paling konkret, atas nama stabilitas pula harus ada penyeragaman dalam berbagai bidang dan profesi, stabilitas nasional selalu menjadi acuan utama untuk penyederhanaan partai, stabilitas mewajibkan pers bersuara seragam, siapapun yang melawan fardhu ain hukumnya dibrantas dan dimusnahkan. Berlawanan dengan yang terjadi dilapangan, pemikiran dan tindakkan soeharto terkesan sangat arif dan visioner, maka tak heran meski sudah meninggal tahun 2008, sosok berjuluk The smilling Jenderal itu masih menarik dan selalu menjadi magnet untuk didiskusikan, ratusan artikel, penelitian dan puluhan buku telah diterbitkan untuk memotret aspek kehidupannya. Salah satu rekaman pemikiran dan tindakkan sang jenderal besar itu direkam dengan jelas oleh mantan ajudannya yang pernah dekat dengan sang jenderal, yang kemudian dijadikan panglima TNI, yaitu jenderal Wiranto, rekaman beliau dituangkan dalam bentuk buku berjudul 7 tahun menggali pemikiran dan tindakkan pak harto yang bisa dijadikan referensi bantahan dan tuduhan-tuduhan miring terhadap sang jenderal besar ini, buku lainnya berjudul the life and legacy of indonesia’s second president karya Retnowati, sosok ambigu dan kontroversi soeharto juga menjadi kajian diluar negeri, silang pendapat antara digriffith university, Robert Edward Elson (penulis buku, soeharto, political biography, oktober 2001) dan peneliti dari inggris, Peter Carty, dalam asian Affairs volume, oktober 2002, misalnya direkam dengan jelas oleh Asvi Warman Adam (Koran tempo, 28 november 2005) dengan cerdas.

Sebagai manusia dan penguasa, soeharto memiliki kekurangan dan kelebihan, salah satu kelebihannya adalah beliau secara tegas mengkritik sikap dan tindakan Amerika Serikat dan sekutunya yang selalu mengatasnamakan pendekar hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi untuk menekan Negara-negara yang sedang berkembang sikap ambigu dan kontroversial soeharto yang mencolok mata lainnya adalah ketika mengeluarkan keputusan presiden (kepres) tentang tata niaga cengkeh dan mobel nasional, misalnya, memang, selama lebih dari tiga puluh tahun soeharto memimpin pemerintahan yang otoriter dan totaliter.

Pergeseran Pola Pikir dan Dampak Krisis Ekonomi

Baca :  Fundamentalisme Islam

Tahun 1998 indonesia memasuki masa sulit, krisis ekonomi berkembang menjadi multidimensi, menjadi krisis budaya, kedatangannya yang tiba-tiba mengakibatkan kaburnya pola piker tentang hak dan kewajiban sebagai warganegara dalam hidup bersama dengan anggota masyarakat lainnya, maupun dalam kehidupan sebagai satu bangsa, dan kehidupan satu ikatan pemerintahan Negara Indonesia, pergeseran pola pikir saat itu dapat kita lihat dari munculnya fenomena baru seperti sering terdengarnya konflik antarsuku, konflik antara masyarakat dengan TNI, POLRI, keinginan untuk menjadi Negara merdeka lepas dari disintegrasi bangsa, kekerasan, ketidakjujuran, tidak disiplin, mementingkan diri sendiri, dan lain-lain dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah ditemukan didalam kehidupan masyarakat. Praktek kehidupan yang teratur dan disiplin berubah total menjadi longgar, sehingga berbagai peraturan perundang-undangan dilanggar tanpa dirasakan bersalah, hukum tidak dapat berdiri tegak dan keadilan menjadi mustahil, karena aparatur yang seharusnya menegakkan hukum ikut terjebak dalam kehidupan yang tidak disiplin. Bila hal seperti ini dibiarkan terus berkembang akan memecah belah kehidupan bersama dalam persatuan dan kesatuan bangsa yang dibangun melalui perjuangan yang panjang. Tapi dengan kondisi sekarang ini, bangsa Indonesia harus menghadapi masalah yang mendasar yaitu krisis pola piker dalam berkebudayaan. Padahal,  system nilai-nilai budaya yang sudah ada seharusnya bisa menjadi acuan dalam menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berdasarkan data berbagai sumber media informasi, masalah kerukunan antaretnik yang telah dirintis dan dipupuk oleh para pendiri bangsa ini terbukti retak, rasa kebangsaan (nasionalisme) cenderung sudah pudar dan menurun drastis. Demikian pula hanya denga rasa kebanggaan sebagai anak bangsa, dikalangan masyarakat sering muncul pernyataan “ aku malu jadi orang Indonesia”. Jika rasa bangga menjadi bangsa Indonesia sudah benar-benar menrun dan hanya mencapai 60% saja (survey tahun 1998), maka tugas merukunkan kembali menjadi semakin berat, memang pemerintah setiap tahun selalu melakukan refleksi kilas-balik mengenang perjuangan para pahlawan dengan tujuan untuk membangkitkan nasionalisme dan rasa bangga menjadi orang Indonesia tapi itu semua belum bisa dikatakan berhasil, bisa dilihat dari etos kerja anggota DPR yang sampai saat ini tidak ada perubahan yang benar-benar bisa membawa aspirasi rakyat, malah sebaliknya hampir tiap tahun kinerja anggota DPR malah semakin memprihatinkan dan mengkhawatirkan, sungguh ironis dengan apa yang terjadi dengan bangsa ini. Seharusnya rasa bangga sebagai bangsa Indonesia selalu melekat dalam dada kita sebagai orang Indonesia yang berbangsa Indonesia pula, karena akan dapat menjadi mesin penggerak semangat dalam aktivitas disegala bidang, untuk menuju Indonesia yang lebih bermartabat dan selalu dihargai oleh bangsa-bangsa lain. 

Harapan hanyalah tinggal harapan, situasi dan kondisi sosial masyarakat indonesia saat ini, sangatlah memprihatinkan, Berita Hoax sudah menjadi dagangan yang disuguhkan setiap hari dalam etalase media sosial (medsos), korupsi sudah dianggap sesuatu yang biasa dilakukan oleh para pejabat negara, urusan kesejahteraan rakyat sudah dianggap nomer sekian, negara hanyalah milik segelintir orang yang dianggap kalangan konglomerat dan pejabat yang berkuasa, sungguh ironis kehidupan berbangsa dan bernegara para pejabat di indonesia, lalu bagaimana dengan keberlangsungan kehidupan generasi bangsa dimasa yang akan datang, ketika melihat situasi negara seperti sekarang ini?? Benar sekali pesan presiden soekarno, setelah proklamasi dikumandangkan, Bahwa penjajahan terberat bagi generasi setelah pak karno adalah melawan bangsanya sendiri. JASMERAH…., Jangan melupakan Sejarah.

 

Baca :  Menelisik Kembali Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Penulis Adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan, dan Sekjen Pusat Kajian Sociat Riset & Politic Development “MADANI INDONESIA”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here