Pelemahan Pancasila di saat Pandemi

0
Urgensi, Dakwah, Media Sosial, Teddy Khumaedi
Teddy Khumaedi

Oleh : Teddy Khumaedi

Beberapa pekan ini sempat ada polemik dimedia sosia terkait adanya tulisan pemutarbalikan fakta secara nyata terkait tragedi gerakan 30 september (G30SPKI) di salah satu situs online terkenal, yang menyatakan bahwa rezim orde barulah yang harus bertanggung terhadap semua korban tragedi tersebut. Disinilah pentingnya bangsa ini harus tetap mengajarkan sejarah kepada generasi bangsa dalam setiap generasinya. Berdasarkan penelusuran sejarah, Pancasila tidaklah lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan melalui proses yang sangat panjang, dengan didasari oleh sejarah perjuangan bangsa dan dengan melihat pengalaman bangsa-bangsa lain di dunia. Pancasila diilhami oleh gagasan” besar dunia, tetapi berakar pada kepribadian dan gagasan besar bangsa indonesia itu sendiri.

Pernyataan diatas adalah bagian dari pada sikap ksatria pemerintah dan siapa saja yang masih merasa bangga dan menginginkan pancasila tetap sebagai ideologi bangsa indonesia. Akan tetapi, paragraf diatas sepertinya saat ini hanyalah sebatas hiasan bunga tidur pemerintah dan para pejabat semata, yang hampir kebanyakan sudah terjebak pada politik transaksional. Sejalan dengan itu, pancasila akan tetap menjadi ruh ideologi bangsa indonesia sampai kapan pun, seandainya pemerintah sendiri serius mau merawat nilai dan falsafah Pancasila dalam menjalankan roda pemerintahan saat ini terlepas adanya luka lama paham komunisme yang pernah menjadi musuh negara yaitu pemberontakan G30SPKI. Tanggal 1 juni sudah sah dinyatakan sebagai hari lahir Pancasila oleh pemerintahan saat ini, dan harus diperingati dalam setiap tahunnya. Tapi ironisnya kian hari pemahaman pejabat negara terhadap kandungan sila-sila Pancasila itu sendiri semakin pudar dan melemah. Semoga hal semacam ini bukan bagian dari agenda rencana jahat oknum pejabat sebagai para wakil rakyat, yang menghendaki terjadinya pelemahan terhadap pemahaman masyarakat akan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa yang sudah final. Andaikan sampai terjadi adanya niatan jahat dari sebagian oknum pejabat dengan sengaja melakukan agenda pelemahan terhadap ideologi Pancasila, hal ini harus dijadikan sebagai ancaman serius terhadap keutuhan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke depannya. Salah satu ancaman tersebut bisa saja muncul dari oknum pejabat yang memiliki pemahaman bahwa paham komunisme bukan sesuatu yang bertentangan dengan Pancasila, bahkan oknum pejabat seperti ini malah lebih cenderung menyudutkan pemahaman agama yang sudah diyakini masyarakat Indonesia secara turun temurun sebagai sesuatu yang selalu perlu diwaspadai setiap waktu. Tentunya hemat penulis, pemikiran oknum pejabat seperti inilah yang harus dicurigai sekaligus diwaspadai sebagai sumber utama pendukung kemunculan kembali paham-paham komunisme gaya baru. Ideologi Pancasila yang sudah menjadi Dasar Negara diyakini oleh segenap bangsa Indonesia, sesuatu yang sudah final tidak bisa ditawar lagi, karena dalam Pancasila ada wujud Bhinekka Tunggal Ika yang menjadi tali perekat paling kuat bangsa ini sekalipun kelahiran bangsa Indonesia dalam wujud yang penuh warna suku, bangsa, adat, dan kebudayaan. Padahal dalam wujud sintesa Bhinneka Tunggal Ika terdapat lambang Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Negara Indonesia. Frasa (kumpulan kata) ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Jika diterjemahkan pepatah kata, kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti “satu”. Kata ika berarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna walaupun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam buku Sutasoma, karangan Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Dalam buku Sutasoma (Purudasanta), pengertian: “Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan bidang kepercayaan juga keanekaragam agama dan kepercayaan dikalangan masyarakat Majapahit”.

Memasuki zaman yang serba digital dan modern dengan teknologi komunikasi serba mudah diakses (simple use). Sudah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kembali menggaungkan dan membumikan Pancasila kepada segenap rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan ragam budaya Nusantara. Demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa secara utuh dan turun temurun, maka langkah ideal pemerintah saat ini yaitu menjadikan Pancasila harus tetap diimplentasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena Pancasila memiliki konsep religiositas, humanitas, nasionalitas, soverenitas dan sosialitas yang merupakan konsep yang selalu dijadikan pemikiran dan kepedulian umat manusia sepanjang masa. Dengan demikian Pancasila berisi konsep yang universal, yang di dalamnya terkandung prinsip-prinsip dasar yang dipergunakan mengatur pola kehidupan umat manusia. Dari gagasan-gagasan tersebut nampak dengan jelas betapa penting peran dan fungsi Pancasila dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Karena bagaimana pun juga, normalnya, Pancasila itu bersikap hitam putih dengan paham-paham yang tidak menghendaki adanya campur tangan Tuhan, seperti Kapitalisme, Liberalisme, Komunisme. Seperti yang diinginkan The Founding Fathers bangsa ini sejak dulu. Namun, melihat situasi dan kondisi sekarang, dimana Pancasila tidak bersikap tegas terhadap ideologi komunisme khususnya. Sepertinya pemerintah saat ini, seolah-olah sedang memberikan ruang dan peluang reinkarnasinya kembali paham tersebut di negeri ini, dan hal itu secara kasat mata paham-paham tersebut sudah menghiasi layar pemberitaan di berbagai telivisi nasional. Tapi pemerintah masih saja enggan untuk mengakui hal itu, padahal masyarakat saat ini sudah melek informasi bisa dengan mudah mendapatkan pemberitaan yang terpercaya melalui chanel dan link media nasional. Masyarakat sudah pintar menilai bagaimana reaksi pemerintah sekarang ketika ada pemberitaan terkait paham komunisme seperti alergi untuk bersikap tegas menelisik sekaligus membenarkan informasi tersebut. Ini salah faktor dan indikator seperti adanya pelemahan terhadap ideologi Pancasila itu sendiri. Jasa terbesar pemerintahan saat ini adalah penetapan hari lahir Pancasila pada 1 Juni, akan tetapi itu saja belum cukup karena rakyat indonesia saat ini masih belum benar-benar merasakan kembali Pancasila Sakti yang sesungguhnya pernah terjadi dan dirasakan oleh para Founding Fathers beserta Rakyat Indonesia di awal kemerdekaan bangsa ini. Masyarakat yang terintegrasi dengan baik adalah harapan bagi setiap negara, salah satunya negara Indonesia. Sebab masyarakat yang terintegrasi dapat mencapai tujuan yang ada di Indonesia. Dan Indonesia sangat dikenal dengan keanekaragaman suku, budaya dan agama. Adanya upaya mengintegrasikan Indonesia, perbedaan-perbedaan yang ada tetap harus diakui dan dihargai sehingga Indonesia menjadi negara yang dapat mencapai tujuannya. Selain menghargai dan mengakui berbagai macam perbedaan di Indonesia, masyarakat Indonesia harus memiliki rasa dan sikap toleransi yang kuat terhadap sesama dalam hal apapun demi keutuhan warna-warni yang beragam dalam satu kibaran bendera merah-putih berideologikan Pancasila.

Baca :  Tiga Fase Program Pemulihan Koperasi dan UMKM di Tengah Pandemi

Pandemi

Apalagi dalam kondisi hantaman pandemi saat ini, masyarakat seperti kehilangan ruh Kebangsaan dan Nasionalisme terhadap Negaranya sendiri bahkan terhadap pemerintahan sekalipun. Ironis sekaligus menyedihkan, melihat situasi keadaan masyarakat indonesia menghadapi pandemi dengan penuh keputusasaan dan kekhawatiran untuk mampu bertahan hidup melewati apa yang sedang terjadi. Di sisi lain pemerintah melalui juru bicara (gugus tugas) Covid 19, dengan detail menginformasikan kepada rakyat data-data jumlah rakyat indonesia yang positif terpapar covid, dari yang baru terinfeksi sampai dengan yang sudah kembali sembuh diberitakan sedemikian rupa, bahkan data jumlah yang meninggal terkena wabah covid sudah lebih dari seribu orang, tapi protol kebijakan dan penanganan covid 19 cenderung berubah-rubah sehingga sering menimbulkan kebingungan di masyarakat, akhirnya masyarakat pun cenderung sudah tidak perduli terhadap himbauan dari pemerintah. Miris dan ironis hal semacam ini masih terjadi di negeri ini, diawal terjadinya wabah covid di indonesia, pemerintah menganjurkan bahkan sampai mewajibkan masyarakat agar melakukan segala aktivitas di rumah saja, itu pun tanpa adanya solusi alternatif lainnya terkait status dan profesi pekerjaan masyarakat menengah bawah, lagi-lagi hal ini menimbulkan ketidakresponan masyarakat terkait anjuran pemerintah tersebut. Sering terjadi crash (tabrakan) kebijakan pusat dengan pemerintah daerah menjadikan masyarakat zero trush (rendah kepercayaan) terhadap jokowi sebagai kepala negara. Begitu banyak pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat terkait himbauan di rumah saja, bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat akan tetapi hal semacam ini bisa terjadi karena ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengeluarkan protol kebijakan dalam penanganan covid 19 ini. Ditengah kondisi tim medis yang sedang bahu membahu berjuang dalam penanganan pasien covid, sebaliknya pemerintah malah minim ide dan upaya dalam mengakhiri pandemi ini. Beberapa waktu lalu, bahkan sempat viral di media sosial, slogan “Terserah” hal ini bagian dari pada kritik pedas masyarakat terhadap pemerintah, namun pemerintah seperti sudah diketahui masyarakat enggan merespon keluhan itu. Para pengamat kebijakan publik, banyak menilai pemerintah cenderung lambat dalam merespon terjadinya pandemi covid semenjak awal, maka dalam analisis mereka pandemi ini cenderung akan lebih lama mewabah di negeri ini. Sekalipun sudah memasuki bulan ke 4 terjadinya pandemi di indonesia, masyarakat sudah tidak perduli terhadap segala anjuran dan himbauan dari pemerintah, sungguh memilukan rakyat mu dirundung pilu dengan kondisi semakin tak menentu. Harapan rakyat kepada pemerintah saat ini, hanya seperti harapan semu “bak pungguk merindukan bulan”. Semoga saja pemerintah lebih serius lagi menangani penanggulangan pandemi ini dengan segala upaya dan usaha yang lebih mengutamakan kepentingan bersama yaitu kepentingan rakyat indonesia. Dan semoga pandemi ini segera berlalu agar masyarakat bisa kembali berjumpa sua sambil melakukan aktivitas sosial, saling sapa antar warga negara, membangun bersama demi sebuah cita-cita indonesia tetap jaya dengan semangat Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika.

Baca :  Sinergitas Perdagangan Arab, Indonesia dan Tionghoa

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Social Riset and Politic Development “Madani Indonesia”, Anggota Majelis Hikmah dan Kebijakan Publik PD Muhammadiyah (PDPM) Kota Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here