Naik Turun Harmonisasi Islam dan Negara

0
Urgensi, Dakwah, Media Sosial, Teddy Khumaedi
Teddy Khumaedi

Oleh: Teddy Khumaedi

Al kisah, sejarah mencatat bahwa dahulu pernah ada seorang tokoh yang mempelajari Islam dengan begitu mendalam. Sayangnya, ia belajar bukan untuk kepentingan Islam dan umatnya, melainkan untuk mempertahankan eksistensi Belanda dalam hegemoni penjajahannya ditanah Nusantara. Dialah Snouck Hugronje, sarjana Belanda yang menulis tesis berjudul “Festival Mekah”.

Karena mempunyai pemahaman Islam yang cukup mendalam, ia dilirik oleh Belanda yang masa itu sedang menjajah Indonesia. Hal tersebut dinilai akan sangat berguna dalam menjalankan misi Belanda menduduki Nusantara lebih lama lagi.

Selaras dengan kisah diatas, bila kita perhatikan masyarakat indonesia saat ini merasakan hal serupa situasi dan kondisi tersebut.

Dinamika hubungan antara Islam dan negara di Indonesia telah mengalami proses pasang surut, dan pada sebagian besar episode sejarahnya merupakan cerita antagonisme dan kecurigaan negara terhadap Islam.

Hal tersebut bisa dilihat, terutama selama masa dua dasawarsa pertama kekuasaan Orde Baru, di mana umat Islam sering ditempatkan pada posisi marjinal dalam struktur dan birokrasi, sehingga seringkali aspirasi-aspirasi politik Islam menjadi terkalahkan hal serupa pun sepertinya sedang terulang kembali di era millenial saat ini. Kondisi umat islam sekarang sedang mengalami pasang surut hubungan yang tidak harmonis dengan Negara.

Seperti dijelaskan di atas, umat islam di Indonesia saat ini selalu dicurigai, di intimidasi, dimata-matai bahkan sampai dilabeli Radikalisme, Terorisme, dan Ekstremisme. Sungguh sedih sekaligus memilukan ada apa dengan umat ini yang notabene penduduk mayoritas bangsa ini??.

Memang 10 tahun terakhir umat islam di indonesia mulai bangkit dengan gerakan-gerakan kolektivitas mulai dari kebangkitan ekonomi umat, kebangkitan sosial dan ritualitas ibadah tetapi semua itu baru sebatas di tataran konsep semata realisasinya masih terbentur banyak kendala. Faktor utama kendala tersebut masih kurangnya kesadaran umat islam itu sendiri dalam hal ukhuwah islamiyah khususnya di bidang ekonomi dan sosial responsbility sehingga umat islam baru sebatas jadi penonton saja dalam pertarungan perang dagang produk luar negeri. Umat islam masih terlalu lemah, egoisme dan mudah di provokasi oleh pihak tertentu ataupun asing yang memiliki kepentingan di negara ini.

Baca :  Menelisik Kembali Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Tidak heran isu radikalisme dan terorisme menjadi menu utama media nasional setiap saat, disisi lain perekonomian Negara menuju fase terpuruk, kegaduhan politik terus berlangsung, bahkan sesama anak bangsa saling sikut, saling hujat dan menyalahkan hanya demi periuk nasi kelompoknya tidak terganggu, sungguh mengkhawatirkan..!!.

Media mainstream begitu asyiknya menayangkan berita terkait radikalisme, terorisme yang selalu dikaitkan dengan umat islam Indonesia. Mulai dari berita pembubaran ormas islam, penangkapan tokoh-tokoh ormas islam dan polemik siswa berhijab di salah satu sekolah negeri di bali yang sempat panas menjadi perbincangan, bahkan yang terbaru berita viral dimedia massa hari-hari ini adalah tuduhan radikalisme terhadap tokoh bangsa sekaligus mantan ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menghiasi berbagai media massa, menimbulkan pro dan kontra dikalangan tokoh nasional.

Situasi umat saat ini benar-benar sedang mengalami ujian berat, ditengah ketidakpastian segala bidang. Dilema kian hari semakin nyata terlihat dialami oleh pemerintahan saat ini, semakin jelas pula perilaku bobrok pejabat Negara dalam mengeruk kekayaan Negara melalui korupsi Bansos bagi masyarakat, dalam situasi yang serba sulit dialami rakyat Indonesia saat ini masih saja ada pejabat Negara yang berbuat korup.

Sungguh ironis dan sangat tragis terjadi pada bangsa ini, bangsa yang pernah menjadi salah satu kekuatan di kawasan Asia tenggara, kondisinya saat ini sedang terkoyak nasionalisme dan integritasnya akibat terlilit hutang yang semakin menggunung. Maka sangatlah wajar bila ditafsirkan oleh berbagai lapisan masyarakat khususnya para ulama bahwa banyaknya terjadi musibah bencana alam di berbagai wilayah di Indonesia tidak lain akibat kurangnya keimanan para pejabat Negara dalam menjalankan agamanya dan menjaga amanah dari rakyatnya.

Baca :  Sejumlah Negara Mengutuk Penangkapan Para Aktivis Hong Kong

Banyak faktor yang menjadikan pemerintahan Jokowi begitu tidak harmonis dengan beberapa tokoh Islam, sebut saja Habib Rezieq Sihab yang diidentikan dengan tokoh gerakan mobilisasi massa Bela Islam 1 sampai dengan Bela Islam ke 4, tokoh islam lainya yang dianggap selalu bersebrangan dengan pemerintah yaitu Egi Sudjana, Tengku Zulkarnaen yang notabene mantan Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan kondisi pemerintah saat ini menghadapi ketidak-stabilan ekonomi nasional yang berkepanjangan akibat dampak mewabahnya covid-19 yang sudah setahun lebih melanda dunia termasuk indonesia.

Berbagai cara ditempuh presiden demi menyelamatkan perekonomian negara mulai dari pinjaman hutang ke negara China dikuartal pertama, dilanjutkan pinjaman ke negara Jerman dimasa periode kedua pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, namun belum terlihat tanda-tanda akan membaiknya perekonomian nasional. Hal tersebut disinggung oleh pakar ekonomi nasional Rizal Ramli dalam setiap kicauan twitternya beberapa waktu lalu.

Selayaknya pilihan Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin sebagai wakilnya di pemilu 2019 kemaren dijadikan momentum kebangkitan umat Islam dalam membangun bangsa ini salah satu cara yaitu melibatkan para ulama dalam ruang lingkup pemerintahan atau dalam mengambil suatu kebijakan pemerintahan demi terciptanya keadilan bersama. Karena faktanya, secara nyata mayoritas umat Islam Indonesia tidak pernah meminta Negara ini untuk berubah haluan ideologinya, umat Islam hanya ingin diperlakukan secara adil dan bijak dalam berbagai bidang tidak lebih dari itu.

Musibah terus silih berganti mulai dari gempa bumi, gunung meletus, dan banjir bandang yang melanda Indonesia bagian tengah, hingga peswat jatuh dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Yang pada akhirnya semakin menambah beban berat masyarakat dalam menjalani kehidupan dengan harus tinggal ditempat-tempat pengungsian selama berbulan-bulan demi keselamatan hidup keluarganya. Sedangkan jumlah masyarakat yang suspect Covid-19 kian hari semakin bertambah sekalipun tingkat kesembuhan dan kematian semakin berkurang, namun masyarakat tetap merasakan bahwa kehidupan yang dijalaninya selalu dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak bisa dihindarkan yaitu, tertimpa bencana atau Suspect covid-19.

Baca :  Mengapa Warisan Budaya Melayu-Islam-Nusantara Termarginalkan ?

Sungguh menyedihkan sekaligus memilukan situasi seperti ini harus terus dialami oleh rakyat Indonesia. Padahal upaya dan usaha masyarakat sudah seringkali mengingatkan pemerintah dalam segala aspek untuk lebih serius dan tegas dalam menjalankan pemerintahan, mulai dari penegakan hukum yang belum tegas masih tebang pilih, penanganan musibah yang slow respon, bahkan sikap kritik masyarakat terhadap kebijakan pemerintah pun acapkali ditafsirkan sebagai gangguan yang selalu dikaitkan kepentingan politik, agak aneh memang hal ini terjadi di Negara yang menerapkan sistem demokrasi.

Hemat penulis ada beberapa faktor pendukung lemahnya pemerintahan saat ini dalam menjalankan roda pemerintahnya. Antara lain adalah, semakin tidak jelas arah capaian pemerintah saat ini sudah terlihat sejak dari awal terpilihnya Jokowi-Ma’ruf yang tidak memiliki gol target besar dalam memimpin Negara ini. Faktor berikutnya adalah instrumen penting dalam pemilihan para calon menteri terlihat coba-coba (trail and eror), tidak sesuai janji kampanye tidak akan bagi-bagi jatah, dan dipastikan dari kalangan profesional.

Faktor lainnya yang sangat jelas adalah dengan dipilihnya sosok wakil presiden dari kalangan ulama, asumsi masyarakat banyak mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi periode akan menandakan keharmonisan Nasionalis dengan Islam. Namun, faktanya asumsi tersebut malah dijadikan senjata utama untuk menggebuk umat islam itu sendiri, ironis…!!

Pada akhirnya rakyat Indonesia mampu menilai dengan kepala jernih pada kenyataannya semua janji-janji Jokowi-Ma’ruf semasa kampanye dulu, diumpamakan hanyalah tulisan usang dalam sebuah kaca yang mudah terhapus hanya dengan tetesan air hujan.

Semoga Negara ini masih tetap kuat berdiri hingga anak cucu kita nanti sebagai penerus bangsa ini… Amiin

Penulis adalah Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan di Jawa Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here