Peran Pemuda dalam Kemerdekaan RI

737
0

Oleh : Teddy Khumaedi

Presiden Soekarno mengatakan “Berikan aku sepuluh orang pemuda, akan ku goncangkan dunia“. Karena masa muda merupakan suatu masa dimana seseorang mampu melaksanakan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya.  Maka jelaslah pemuda merupakan asset terbesar bagi suatu bangsa, Negara Indonesia adalah Negara yang paling kaya sejagat raya ini, dalam sebuah lirik lagu dikatakan “tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman“ apalagi tanamannya.

Kaitannya dengan teks diatas, diantara banyak hari bersejarah, ada 3 tiga yang paling berarti bagi lahirnya bangsa Indonesia. Pertama, lahirnya organisasi boedi utomo, 1908, yaitu kesadaran untuk menjadi satu bangsa. Kedua, diikrarkannya satu kesepakatan “menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia melalui gerakan sumpah pemuda” 1928. Ketiga, dproklamasikannya bangsa Indonesia “menjadi bangsa yang merdeka” 17/8/1945. Perlu diketahui, bahwa proses terjadinya ketiga peristiwa sejarah bangsa yang luar biasa dan menakjubkan itu dimotori oleh kaum muda oleh karena itu sangat jelas kalau pemuda merupakan asset terbesar bagi suatu Negara, khususnya Negara Indonesia yang tecinta ini.

Hari Sumpah Pemuda sangat penting untuk selalu diperingati terlebih dijadikan refleksi kilas balik kebangkitan pemuda saat ini, Begitu pula dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang biasa kita kenal dengan sebutan Hari Ulang Tahun (HUT) RI 17 Agustus 1945. Apalagi dalam situasi bangsa dan Negara yang sedang mengalami krisis nasionalisme, krisis Kepemimpinan Nasional, dan krisis Dinamisasi sosial (Social crush) saat sekarang ini terjadi hampir disegala sendi kemasyarakatan, dimana kita sadari secara histori bahwa semangat  “persatuan dan kebersamaan“ yang dengan susah payah berhasil dirajut oleh para pendahulu bangsa ini, telah luntur bahkan sudah merosot kembali pada semangat individualisme dan feodalisme yang menjadikan egoisme subur pada karakter pemimpin bangsa ini. Secara histori lahirnya Kemerdekaan Bangsa ini berawal dari niatan penuh pergerakan pemuda seluruh wilayah di indonesia pada masa itu yang menyatakan dalam bingkai sumpah pemuda (28/10/1928) merupakan kulminasi tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara, sangat perlu dipahami dan dihayati secara mendalam bahwa peristiwa itu sebenarnya tidak hanya berisi 3 tiga sumpah, tetapi juga ada 3 tiga keputusan yang cenderung kurang disosialisasikan, padahal, 3 keputusan itu juga memiliki nilai yang  amat penting pula, tiga sumpah itu berbunyi (1) kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa indonesia. (2) kami putra dan putri indonesia bertanah air yang satu, tumpah darah Indonesia dan (3) kami putra dan putri indonesia menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ada pun 3 keputusan itu adalah disepakatinya untuk pertama kali menyanyikan lagu Indonesia raya sebagai sumbangan perjuangan Indonesia merdeka menuju Indonesia raya. Kedua, disepakati untuk mengibarkan bendera merah-putih untuk pertama kalinya dikibarkan setelah bertahun-tahun tidak dikibarkan. Ketiga, disepakatinya dasar persatuan dalam kesatuan yang bulat dan kukuh yang dinamainya dasar unita.

Makna “persatuan dan kesatuan“. Dipilih oleh para pendiri bangsa ini sebagai konsep menyatukan kerangka dalam merajut keanekaragaman suku bangsa, keanekaragaman budaya merefleksikan adanya kesamaan antarbudaya suku bangsa satu sama lain, untuk itu sangat perlu menerima segala bentuk perbedaan dengan lapang dada, tulus, ikhlas, dan toleran sehingga bangsa Indonesia selalu berada dalam iklim persatuan. Namun, sangat disayangkan dewasa ini memasuki zaman milenial serba digital, mayoritas generasi muda sudah mulai melupakan 3 peristiwa besar diatas khususnya sumpah pemuda dan hari kemerdekaan RI,kalaupun ada yang masih peduli mungkin hanya sebatas dikalangan pemuda kampus yang notabene memang sudah ada wadahnya tapi hal semacam ini perlu dijaga dan dibudayakan untuk menjaga nilai-nilai histori perjuangan kaum muda di masa lalu, perlu disadari sungguh bahwa tantangan kehidupan kebangsaan sekarang ini, memerlukan tampilnya para pemuda yang kuat semangat solidaritasnya, teguh integritasnya, serta professional dalam segala bidang pengabdiannya. Solidaritas pada dasarnya mengandung nilai tiga pilar sosial yakni kemampuan merasakan penderitaan sesama dan kesadaran untuk berbagi rasa dengan orang lain. Integritas selalu ditandai dengan adanya keteguhan akhlak, moralitas, sikap berani dan bertanggungjawab, sedangkan profesionalitas mengandalkan adanya etos kerja, kemampuan inovasi, produktivitas, dan kemampuan berdaya saing. Ketiga pilar inilah yang perlu dikembangkan secara kontinyu sebagai modal terbesar bagi pemuda dalam mengokohkan nasionalisme dan memperkuat pembentukan karakter bangsa demi menuju masa depan bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat (character building young man) melihat kondisi bangsa yang sarat dengan kemajemukkan dan heterogen, maka generasi muda harus mampu mengasah semangat kebangsaannya demi keutuhan Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Pendiri bangsa ini pasti sudah punya keyakinan bahwa para pemuda akan mampu mentransfer semangat dari jejak-jejak penting peristiwa-peristiwa besar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan bangsa dimasa sekarang. Dengan begitu, dalam setiap peringatan tonggak-tonggak penting sejarah yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun terkhusus hari kemerdekaan RI, tetap memiliki relevansi histori dari waktu ke waktu. Pemuda tidak boleh melupakan sejarah, dan jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Bung Karno pernah mengatakan bahwa orang yang melupakan sejarah akan menjadi bayi seumur hidup. Oleh karena itu nilai-nilai sejarah dan semangat persatuan dan kesatuan sebagaimana yang terkandung dalam sumpah pemuda sampai berhasil menuju merdeka kiranya dapat diresapi, demi mengembangkan watak nasionalis-religius. Untuk itu, selayaknya para pemuda mulai mengembangkan nasionalisme pada individu mereka masing-masing tanpa harus menunggu petunjuk ataupun instruksi dari siapapun.

Nasionalisme yang muncul dari seseorang ataupun lembaga, biasanya bersifat elitis dan acapkali bermuatan kepentingan politik sekelompok tertentu dalam jangka pendek. Namun, nasionalisme yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sebagai warga bangsa akan lebih bisa bertahan lama, dengan berkaca pada sejarah perjuangan para pendiri bangsa ini (the founding fathers ) dalam melahirkan NKRI, generasi muda sungguh diharapkan mampu mentransfer semangat kebangsaan yang telah ditunjukkan oleh the founding father, dengan selalu memupuk jiwa kepeloporan, daya intelektualitas, dan potensi profesionalitasnya agar selalu terbangun ilkim kondusif sebagai modal utama dalam menghidupkan sendi-sendi perekonomian bangsa melalui ide-ide kreatif dan inovasi baik berbasis kekayaan lokal ataupun digital, demi menuju tatanan masyarakat dan masa depan bangsa yang lebih maju ke depan, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Dan selalu memastikan pilihan tetap satu yaitu nation state yang bernama NKRI tetap tegak berdiri dan berkarakter sekaligus mampu membangun welfare state yaitu tetap mengutamakan kesejahteraan masyarakatnya dengan memposisikan ideology kebangsaan yang kental sebagai sentral atau pusatnya.

 

Baca :  Dandim 0608 Hadiri Kemah Pemuda Lintas Sektoral dan Agama

Penulis adalah Sekjen Pusat Kajian Social Riset and Politic Development “MADANI INDONESIA”, serta Wakil Dekan Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi Kampus Luqi Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here