Pemuda tidak boleh melupakan sejarah, dan jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!. Bung Karno pernah mengatakan bahwa orang yang melupakan sejarah akan menjadi bayi seumur hidup. Oleh karena itu nilai-nilai sejarah dan semangat persatuan dan kesatuan sebagaimana yang terkandung dalam sumpah pemuda sampai berhasil menuju merdeka kiranya dapat diresapi, demi mengembangkan watak nasionalis-religius.
Untuk itu, selayaknya para pemuda mulai mengembangkan nasionalisme pada individu mereka masing-masing tanpa harus menunggu petunjuk ataupun instruksi dari siapapun.
Nasionalisme yang muncul dari seseorang ataupun lembaga, biasanya bersifat elitis dan acapkali bermuatan kepentingan politik sekelompok tertentu dalam jangka pendek. Namun, nasionalisme yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sebagai warga bangsa akan lebih bisa bertahan lama, dengan berkaca pada sejarah perjuangan para pendiri bangsa ini (the founding fathers) dalam melahirkan NKRI.
Generasi muda sungguh diharapkan mampu mentransfer semangat kebangsaan yang telah ditunjukkan oleh the founding father, dengan selalu memupuk jiwa kepeloporan, daya intelektualitas, dan potensi profesionalitasnya agar selalu terbangun iklim kondusif sebagai modal utama dalam menghidupkan sendi-sendi perekonomian bangsa melalui ide-ide kreatif dan inovasi baik berbasis kekayaan lokal ataupun digital, demi menuju tatanan masyarakat dan masa depan bangsa yang lebih maju ke depan, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Dan selalu memastikan pilihan tetap satu yaitu nation state yang bernama NKRI tetap tegak berdiri dan berkarakter sekaligus mampu membangun welfare state yaitu tetap mengutamakan kesejahteraan masyarakatnya dengan memposisikan ideology kebangsaan yang kental sebagai sentral atau pusatnya.
Penulis adalah Sekjen Pusat Kajian Social Riset and Politic Development “MADANI INDONESIA”, serta Wakil Dekan Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi Kampus IUQI Bogor





