Makna Hakiki Ied Mubarak

15
0

Oleh : Teddy Khumaedi

 

Taqabbal Allahu minna wa minkum

Shiyamana wa Shiyamikum wa Ahalahullahu ‘Alaik;

Kullu Am Wa Antum Bikhair;

Ja’alanallahu Minal Aidin wal Faidzin;

Aamiin Ya Rabbal’alamiin

Barakallahu fiikum, mohon maaf lahir & bathin.

Semoga Allah menerima amalku dan amalmu,

juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya

Semoga sepanjang tahun ini, aku dan kamu ada dalam kebaikan

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali fitrah/suci dan orang-orang yang menang

Semoga Allah SWT panjangkan umur kita hingga dapat bertemu Ramadhan di tahun mendatang

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H / 5 Juni 2019 M

 

Iedul Fitri merupakan salah satu hari raya yang diperingati umat Muslim di seluruh dunia pada tanggal 1 Syawal di kalender Hijriah. Hari raya ini juga diberi sebutan sebagai hari kemenangan, karena pada hari ini umat Muslim sudah berhasil melawan hawa nafsu selama sebulan penuh. Sejarah hari raya Iedul Fitri sendiri bisa ditelusuri kembali pada zaman Rasulullah SAW. Iedul Fitri, atau juga ditulis dengan Idul Fitri, atau Lebaran di Indonesia adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda.

Pada hakikatnya ada empat konsepsi yang penulis pahami pasca melaksanakan ibadah shaum ramadhan dalam memahami ajaran islam terkait kewajiban melaksanakan ibadah puasa ramadhan selama sebulan penuh dalam setiap tahunnya, pertama. Doa pada hari raya Iedul Fitri, Kedua. Perspektif Puasa dalam Agama Islam, Ketiga. Keitimewaan Bulan Ramadhan, Keempat. Keutamaan meraih Malam Lailatul Qodar.

Do’a atau ucapan pada Idul fitri

Baca :  Sandiaga Uno hingga Pimpinan FPI Hadiri Halal Bi Halal Bogor Raya Berdaulat

Di Indonesia sering mengucapkan doa Minal ‘Aidin wal-Faizin, sebenarnya itu adalah tradisi masyarakat Asia Tenggara. Menurut sebagian besar ulama ucapan tersebut tidaklah berdasar dari ucapan dari Nabi Muhammad. Perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya. (baca kitab Dawawin Asy-Syi’ri Al-’Arabi ‘ala Marri Al-Ushur).

Puasa dalam perspektif Islam

Puasa sering dilakukan dalam rangka menunaikan ibadah dalam suatu agama atau sesuatu kewajiban yang harus di lakukan Manusia menurut kepercayaan Agamanya. Dalam Islam, puasa (disebut juga Shaum) yang bersifat wajib dilakukan pada bulan Ramadhan selama satu bulan penuh dan ditutup dengan Hari Raya Idul Fitri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat sesuai perintah dalam kitab suci umat Islam Al Quran. Puasa juga menolong menanam sikap yang baik dan kesemuanya itu diharapkan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya dan tidak hanya pada bulan puasa. Jika didasarkan pada ritual puasa itu sendiri, maka jika kita hendak mengakhirinya atau berbuka, maka terasa bertolak belakang jika kita tidak berbuka sekedarnya saja.

Puasa bulan Ramadhan dapat menghapus kesalahan atau terampuni dosa yang telah diperbuat selama ini. Namun harus dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. Puasa pada bulan Ramadhan merupakan pelaksanaan dari rukun Islam yang keempat. Menurut ajaran Islam puasa pada bulan Ramadhan merupakan puasa yang wajib dilaksanakan. Sehingga jika dengan sengaja tidak melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan maka seseorang tersebut akan berdosa.

Puasa Ramadhan merupakan rutinitas ibadah yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap tahunnya karena hukumnya yang wajib. Puasa Ramadhan ialah puasa yang dilaksanakan dari mulai fajar hingga terbenam matahari. Di bulan Ramadhan inilah seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa jika tidak mampu maka diharuskan untuk mengganti puasa tersebut pada hari-hari yang lain.

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Baca :  Jelang Idul Fitri, DKM Attawab Salurkan Zakat Fitrah

Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman ;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah Swt memuji bulan puasa yaitu sebagai bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyahlaiNYA pada para Nabi ‘alaihimus salam.” (Tafsirul Qur’anil Adzim, I/501, Darut Thoybah)

 

Malam kemuliaan “Malam Lailatul Qodar”

Ibadah puasa di bulan Ramadhan, biasanya menantikan kehadiran malam Lailatul Qodar, suatu malam nilainya 1000 bulan. Malam lailatul qadar yang memiliki 1000 keistimewaan itu menjadi misteri bagi setiap hamba yang mencari dan menanti kehadirannya, hanya sedikit orang yang dapat menemukannya, seakan malam lailatul qadar menjadi rahasia Allah SWT semata, dan hanya hamba-hambaNya tertentu yang dikehendaki untuk menemukannya. Malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam diturunkannya Al-Qur’an yang mulia, amat sayang terlewatkan jika tanpa amaliyah ibadah.

Syaikh Zarqani menerangkan, bahwa malam Lailatul Qadar adalah Lailatul Mubaarokah (yang penuh kebaikan), dan hanya ada pada bulan Ramadhan. Keterangan ini diambil dari ayat-ayat yang menerangkan seputar turunnya Al-Qur’an, pada QS. Ad-Dukhan, Al Baqarah dan Al-Qadr. (dalam kitab Manaahil al-‘Irfan, 1/38) Sebagian riwayat menerangkan, bahwa datangnya lailatul qadar, saat sepuluh malam terakhir atau tujuh malam terakhir.

Karena itulah Rasulullaah mengencangkan ikat pinggangnya saat memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari No. 1920). Syaikh Musthofa Al Bugha berkata, “Ini adalah kinayah (perumpamaan) bagaimana persiapan nabi dalam ibadah dan kesungguhan untuk ibadah(di sepuluh terakhir Ramadhan)”. (ta’liq dalam hadits tersebut).

Memang ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa lailatul qadar pada sepuluh terakhir ramadhan. Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari No.1158).

Dengan demikian kita sebagai manusia yang senantiasa Allah berikan kesempatan melaksanakan ibadah shaum ramadhan setiap tahunnya, alangkah indahnya bisa memanfaatkan keempat momentum diatas sebagai pemicu semangat utama dalam melaksanakan ritual ibadah shaum ramadhan setiap tahunnya dengan memposisikan diri kita sebagai sebenar-benarnya hamba yang hakiki terhadap sang maha pencipta Allah Swt dengan harapan yang ikhlas dalam mendapatkan Ied Mubarak demi mendapatkan derajat Taqwa yang benar-benar hakiki dimata Allah Swt semata. Wallahu A’lam Bi Ashawab

 

Baca :  Dimensi Dakwah Kultural

Penulis adalah Pengurus Majelis Hikmah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here