Site icon LEAD.co.id

Bogor Barat Melawan Oligarki Sawit: Mengungkap Realitas Kelam

Oleh: Khaikal Sahid

Di balik hijau perbukitan Bogor Barat, tersembunyi luka yang dalam. Data tak terbantahkan menunjukkan hutan dan lahan pertanian rakyat telah lenyap dalam lima tahun terakhir. Bukan karena bencana alam, tapi karena keserakahan manusia.

Beberapa titik rawan longsor menjadi saksi bisu, 17 mata air yang mengering adalah tangisan bumi, dan 300% peningkatan kejadian longsor adalah konsekuensi nyata yang harus ditanggung masyarakat. Yang terjadi bukanlah kesalahan sistem, tetapi sistem yang salah sengaja diterapkan.

Lima kelompok usaha besar dengan jaringan kuat menguasai 85% lahan yang dialihfungsikan. Mereka bekerja dengan modus yang terstruktur: izin HGU untuk tanaman pangan yang dialihkan ke sawit, kompensasi tak manusiawi Rp 500.000-1.000.000 per hektar, intimidasi menggunakan aparat dan preman, serta pemalsuan dokumen kepemilikan lahan.

‘’KhaiqalSahid ’’ Korda Bogor Barat – BEM Se-Bogor, mengangkat suara peringatan keras. Apa yang terjadi di Bogor Barat hari ini adalah rekaman ulang persis dari apa yang telah menghancurkan Sumatra. Di Riau, mereka dulu juga diam saat izin-izin HGU skala besar berdatangan. Hasilnya? 4,2 juta hektar hutan hilang dalam 30 tahun. Banjir bandang di Mandailing Natal menewaskan 28 jiwa. Lumpur merah sawit mengalir ke sungai, kabut asap tahunan membuat anak-anak tak bisa sekolah.

Ini bukan lagi sekadar protes lingkungan. Ini pertahanan hidup. Jika Sumatra kehilangan 65 persen tutupan hutan aslinya, Bogor Barat telah kehilangan 35 persen hanya dalam lima tahun. Laju kerusakan di sini dua kali lebih cepat. Dan dampaknya akan sepuluh kali lebih besar karena menyangkut 30 juta penduduk Jabodetabek.

Kami memilih untuk bertindak sekarang. Karena sejarah terulang bukan karena lupa, tapi karena diam. berdasarkan UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Hak Konstitusional atas Lingkungan Hidup, kami memiliki hak hukum untuk menuntut pencegahan kerusakan lingkungan, mengajukan gugatan, dan melawan izin-izin yang merusak.
apakah kita harus menunggu Bogor khususnya bagian Barat menjadi seperti Aceh?

Di sana, Leuser Ecosystem—satu-satunya tempat di dunia di mana gajah, badak, harimau, dan orangutan hidup bersama—terus menyusut drastis. Atau seperti Sumatra Barat, di mana Bukit Barisan digali untuk batu bara hingga longsor menimbun rumah-rumah warga? Bogor Barat bukan hanya soal 1.250 hektar yang hilang.

Ini adalah pertahanan terakhir DAS Ciliwung-Cisadane yang menyuplai air untuk 30 juta jiwa di Jabodetabek. Jika hancur seperti Riau, konsekuensinya akan jauh lebih dahsyat. Air PDAM Jakarta yang 40 persen sumbernya dari Bogor akan terancam. Banjir tahunan Jakarta akan menjadi bencana harian. Waduk Jatiluhur dan Cirata akan kehilangan 40 persen kapasitasnya karena sedimentasi. Dan yang paling mengerikan: krisis air bersih akan melumpuhkan ibukota negara.

Pasang-pasang mata melihat bencana yang jelas tahun 2025 pembabatan terus berlanjut, 2027 krisis air mulai dirasakan, 2030 bencana ekologis skala regional terjadi, dan 2035 Bogor Barat menjadi daerah kritis permanen. Ini bukan prediksi tanpa dasar. Ini pola yang persis terjadi di Sumatra, hanya dengan timeline yang lebih cepat karena kerapatan penduduk Jawa yang jauh lebih tinggi.

Maka kami tidak lagi meminta. Kami menuntut. hentikan segera semua izin baru perkebunan skala besar di Bogor Barat. bekukan operasional lima perusahaan besar yang telah teridentifikasi. audit independen terhadap semua izin yang dikeluarkan dalam lima tahun terakhir. perusahaan harus membiayai penanaman kembali sepuluh kali lipat luas lahan yang mereka rusak. kembalikan lahan kepada seribu keluarga petani yang menjadi korban.

Pilihan ada di tangan kita bila masih menutup mata dan telinga. Belajar dari tragedi Sumatra, atau mengulanginya dengan skala yang lebih besar di Jawa. Pilihan ini menentukan nasib 30 juta jiwa. Pilihan ini menentukan apakah anak-cucu kita masih bisa minum air bersih. Pilihan ini menentukan apakah akan tenggelam atau selamat.

Hutan tetap menjadi penjaga keseimbangan ekologisn,Air tetap mengalir untuk generasi mendatang,Tanah tetap menghidupi petani kecil,Rakyat tetap menjadi pemilik sah tanah leluhur Kami bukan hanya melawan sawit. Kami melawan sistem yang meminggirkan rakyat. Kami bukan hanya menyelamatkan pohon. Kami menyelamatkan kehidupan. Ini bukan hanya tentang lingkungan. Ini tentang keadilan.

perjuangan ini akan terus berlanjut, sampai Bogor Barat benar-benar menjadi tanah yang berdaulat, hijau, dan berkeadilan untuk semua. ini adalah cerminan dari, Keprihatinan mendalam terhadap kerusakan ekologis, Kemarahan terhadap ketidakadilan social, Harapan akan perubahan sistemik, Komitmen pada perjuangan tanpa henti. Yang bermuara pada Terwujudnya
Bogor Barat sebagai wilayah yang berdaulat secara ekologis, adil secara sosial, dan berkelanjutan secara ekonomi.

Korda Bogor Barat – BEM Se-Bogor ‘’KhaiqalSahid’’ Narasi ini hadir bukan sebagai intelektual yang berjarak, tetapi sebagai anak-anak Bogor yang merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan. Mata melihat dan telinga mendengar ibu-ibu menangis kehilangan mata air. Kami mendengar petani bercerita tentang tanah warisan yang direbut. Kami menyaksikan anak-anak harus berjalan kilometer untuk air bersih. Ini bukan data statistik, ini nyawa manusia,” tegas Korda Bogor Barat Bem Se-Bogor.

Penulis adalah Wapresma IUQI, Koordinator Daerah Bogor Barat – BEM se Bogor

Exit mobile version