Site icon LEAD.co.id

Caleg DPR RI, Cukuplah Menjadi Masa Laluku

Caleg DPR RI, Pemilu, Apendi Arsyad, Masa Lalu

Dr Apendi Arsyad

Oleh: Apendi Arsyad

Mau bernarasi nostalgia sejenak.
Gara-gara saya sering menulis dan mengkritik tentang kehidupan sosial dalam bentuk narasi perenungan, keprihatinan terhadap nasib Nagori Cerenti-Kuantan Singingi, Provinsi Riau, kampung halaman kita, dengan sengkarut permasalahan yang menderanya. Akibatnya menimbulkan berbagai persepsi dan penasaran para Dunsanak terhadap pandangan saya di medsos.

Narasinya memang cukup masuk diakal dan faktual kejadiannya, bukan fiksi apalagi ilusi, sehingga para Dunsanakku sempat berwacana menjadikan saya sebagai bakal calon (baleg) dan calon legislatif (caleg) DPR RI pada Pemilu tahun 2024 yang akan datang, agar lebih efektif berjuang menyalurkan ide-idenya di parlemen, subhanallah walhamdulillah.

Wah ide-ide dalam tulisan saya AA itu ternyata, alhamdulillah banyak yg tertarik membaca, dan menyadarkan beberapa pihak, salah satu komen.. “moman Erwin yang namanya Dr. Apendi dipergunjingkan mereka utk diusulkan menjadi wakil rakyat dapil Kuansing”…menjadi isu-isunya melebar kamana-mana, yang memuncul beberapa persepsi dan harapan. Salah seorang anggota aktif WAG FIKCI abangku Barian Nurman pun batanyo…mano suaranya adinda Apendi Arsyad itu..?, Mana komentnya atau jawabannya!

Sehubungan dengan itu “tapaso” (terpaksa) ambo menjawab dengan tulisan ini, agar para dunsanak (anak dan kemenakan) dimana saja berada tidak merasa penasaran lagi.

Tarima kasih atas atensi dan appresiasi para Dunsanak yang telah menyampaikan aspirasinya di WAG FIKCI dan SOMPEC-WA kumpulan para tokoh Cerenti perantauan se Indonesia yang peduli kampung halamannya.

Tapi ambo (saya) berkata jujur dan minta maaf (minta moo lah ambo)
untuk calon DPR RI yang diperbincangkan para Dunsanak tersebut..olunlah (belumlah) terpikirkan dan terbayangkan sama sekali oleh saya, ambo lei. Saya menulis dgn menuangkan ide-ide tidak untuk menebar dan mencari pengaruh dan dukungan politik, tapi lebih cenderung sifatnya menyadarkan dan mencerahkan para pembaca utk kemajuan pembangunan nagori, negara dan bangsa.

Izinkan saya bercerita (narasi) nostalgia sekilas disini. Pada pemilu pertama pasca reformasi tahun 1999, saya (ambo) pernah tercatat menjadi Caleg DPRD Kabupaten Bogor dapil Darmaga Kabupaten Bogor, menang suara, jadi terpilih saya sebagai anggota DPRD tapi tidak bersedia duduk (bahasa Caghontinya “ndak ambo ambiak do”). Saya minta kawan nomor urut berikutnya yang duduk di dewan menggantikan saya yang tidak mau menjadi anggota DPRD. Waktu itu saya sedang melanjutkan studi di sekolah pasca sarjana IPB program S2 dan baru juga di kampus terpilih jadi Dekan Faperta UNIDA Bogor periode tahun 1999-2001.

Kemudian saya melihat kerja dan kinerja anggota Dewan tidak begitu jelas di mata saya, apa yang dikerjakan, saya lihat gusturenya 4 D (datang, duduk, duit dan diam), dan sangat jarang terdengar bahkan tidak ada D berikutnya yakni ‘debat”. Dan saya waktu sempat berpikir, dan kata hati, jika saya duduk dengan D (debat) saya akan banyak lawan dan musuh berdatangan, karena tak mau kompromi KKN, capek, sakit-sakitan dan akhirnya umur menjadi pendek. Juga saya ada kekhawatiran munculnya KKN, ternyata benar adanya, banyak teman-teman kita oknum anggota DPRD periode itu masuk buih atau hidup tidak nyaman sebab berurusan dengan aparat Kejaksaan, akibat perbuatan korupsi berjemaah, terjadi sekitar thn 2001-2002.

Gambar para koruptor oknum anggota DPRD itu dipampang di sejumlah koran baik lokal, regional dan nasional. Cukup memalukan memang, dan saya alhamdulillah terhindar karena belum atau tidak mau dan tidak siap mental menjadi anggota DPRD Kab.Bogor ketika itu. Belakangan saya baru sadar bahwa pilihan sholat istighoro saya itu benar, Allah SWT telah menyelamatkan perjalanan hidupku.

Di DPD Partai Golkar (PG) Kabupaten Bogor periode tahun 1997-2005, saya diberi amanah sebagai Wakil Sekretaris Satu, membidangi keanggotaan, kaderisasi dan organisasi. Salah satu posisi yg cukup stategis, saya pernah menjadi Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu). Hal-hal stategis partai dibicarakan disini dan saya terlibat langsung sebagai salah seorang konseptornya. Nyawa, darah dan otak sistem politik PG ada di bagian ini.

Motivasi saya (ambo) ikut berpolitik ingin menyalurkan rasa ingin tahu (curiouscity) bagaimana? kehidupan praktek politik itu sesungguhnya, aktualisasi diri, dan menyalurkan idealisme. Selama menjadi aktivis mahasiswa di kampus IPB dan aktif di Ormawa HMI saya sering mengkritik pemerintahan Orde Baru dgn perbuatan gemar berKKNnya, bahkan saya pernah mengkritik “dwi fungsi” ABRI, anti demokrasi di forum kegiatan diksospol kader pemuda Jabar di Bandung, sekitar Mei 1985, saya mewakili atau utusan HMI Badko Bagian Jawa Barat.

Kemudian setelah itu, karena munculnya gerakan reformasi thn 1996-1998, Golkar menjadi Partai Golkar (PG) pasca reformasi yang memiliki jargon PG “baru” berpradigma baru disconected (terputus) dgn 3 jalur A (ABRI), B (Birokrasi) dan G (Ormas kino-2 Golkar). Proses demokratisasi di PG berjalan baik dan konon katanya bertekat memperbaiki diri dan bersikap anti KKN. Saya tertarik dgn jargon dan paradigma “baru” PG tersebut.

Alhamdulillah saya sempat menjadi salah seorang instruktur pelatih kader Parpol dan pernah pula bertugas sebagai narasumber di forum-forum pengkaderan dan penyegaran kader PG di wilayah Bogor, selama periode tahun 1998-2004. Karena sebelumnya ikut kegiatan pelatihan bagi pelatih (ToT) paradugma baru Partai Golkar (PG) beberapa hari di Bandung Jawa Barat, dan lulus bersertifikat, selanjutnya berhak menatar kader PG.

Perlu saya jelaskan kilas balik (flashback) bahwa dengan meletusnya reformasi pada Mei 1996, Golkar mengkonsolidasi diri menjadi Partai Golkar (PG) melalui forum Musda, saya direkruit oleh elite Golkar untuk hadir di forum Musda di kawasan Puncak Bgr pada thn 1997. Di awal hingga akhir
dalam PG saya banyak terlibat memperjuangkan PG reformasi baru.
Dalam ceramah di forum-forum penyegaran kader PG baru, saya tidak malu-malu, tak sungkan berkata, menyampaikan bahwa kader Golkar yg dulu agar “bertaubatan-nasuha” meninggalkan korupsi, KKN yang mensengsarakan rakyat itu.
Saya sangat puas bicara bebas yg bermoral dihadapan ratusan bahkan ribuan kader PG, dan alhamdulillah mereka menyimak materi ceramah saya. Saya merasa cukup puas, rasa “muak dan benci” saya dengan penyakit korupsi seolah-olah, uneg-unegnya tersalurkan.

Pada tahun 2004 saya diusulkan sebagai caleg DPR RI dari PG Golkar Kab.Bogor tanpa sengetahuan saya sudah didaftarkan ke DPP PG Pusat pimpinan abang Ir.H.Akbar Tanjung. Pada saat formulir isian Baleg DPR dikirim kepada saya, saya kaget, sebab saya tidak berambisi; karena saya tahu konsekwensi “cost politic”nya tinggi sekali, apalagi ditambah “money politic” alias suap-menyuap, yang saya tidak sukai. Saya tidak sanggup dan saya tolak pencalegan saya tersebut waktu itu. Pimpinan PG Kab.Bogor agak terheran-heran juga melihat sikap saya yang “aneh” dan tak lumrah itu. Katanya kepada saya orang lain sikut-sikutan, grasa-grusu ingin menjadi caleg DPR RI bahkan mereka disanyalir ada sebagian yg “setor” upeti uang ke Pimpinan PG. Kok anda Apendi Arsyad enggan dan keberatan dicalonkan ke Pusat maksudnya duduk sebagai wakil rakyat di Senayan Jakarta.

Lebih lanjut Ketua PG Kab.Bogor waktu itu akang H.Muhamad Rusdi.AS berkata lagi “3-4 tahun yg lalu ente Apendi pada Pileg 1999 terpilih di DPRD Kab.Bogor, tapi ente (kamu) tidak mau duduk menjadi anggota Dewan”, makanya kami di DPD PG berpikir dan bersepakat mencalon ente ke Pusat, dari unsur DPD Kabupaten Bogor satu-satunya untuk menjadi caleg DPR RI.”

Astaghfirullahalaziem, pada Pileg DPR RI dapil Kabupaten Bogor tahun 2004, saya tidak cukup suara untuk duduk di kursi DPR RI, karena bertarung dgn medan Kabupaten Bogor yg sangat berat, daerah penyangga DKI Jakarta, setiap Caleg DPR RI menghabiskan dana milyaran rupiah baik untuk “cost maupun “money politic”, dan itu belum tentu bisa menang. Saya kalah suara, tapi saya punya kenangan pernah sebagai caleg DPR RI di rantau orang, sekarang statusku “mantan Caleg DPR RI” thn 2004, poster gambarnya saya simpan sebagai kenangan manis yg pernah bertarung “berdarah-darah”, menguras tenaga, duit, pikiran dan perasaan.

Akhirnya saya berpikir ulang, dan mengisi formulir pencalonan anggota DPR RI tersebut untuk pileg thn 2004 dgn membaca kalimah “basmallah” dan “astaghfirullah” setelah negoisiasi dulu dengan Ketua PG, yang hasilnya soal “cost politic” untuk penyediaan atribut, test kesehatan, transformasi dll akan dibantu.

Mengapa saya bersikap demikian, saya sedang mengambil program Doktor di IPB University.(2002-2007) ketika itu, yang memerlukan dana dan curahan pikiran yang cukup banyak. Selain itu saya sudah menyadari jauh hari bahwa “maqom” saya tidak cocok duduk di DPRD atau pun DPR RI. Watak saya itu hanyalah “guru”, dosen dan kebetulan hobby membaca, berdiskusi mengenai hal-hal baik, baru belakangan gemar menulis artikel, yang niatnya untuk mengingatkan dan mencerahkan publik.

Beberapa dasa warsa yang lalu, ini pengalaman pribadi, saya sudah berpikir dan bersikap bahwa saya tidak punya minat dan bakat menjadi politisi, karena tidak punya sahwat berkuasa dgn budaya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Saya takut kpd Allah SWT dan hal ini tidak akan bisa saya lakukan dimana budaya politik jahilliah, materistik-kapitalis yang kian berkembang biak hingga saat ini. Jadi saya tidak tergiur dan terkesima dengan singgasana kekuasaan yang menjanjikan hidup mewah (hedonist). Kultur hidup mewah dan mermegah-megahan itu bukanlah watak saya, demikian juga ayah dan ibu saya, selalu.mengajarkan kejujuran dan kesederhanaan.

Sejak kecil ayah dan ibuku (omak) mengajarkan dan mendidik di dalam keluarga, pola hidup sederhana, hidup jujur, banyak bergaul di lingkungan masyarakat, tidak angkuh-sombong dan mencintai ilmu pengetahuab serta rajin membaca kitab suci Al Quran disertai pemahaman ayat-ayatnya. Itulah watak saya hingga kini insyaAllah tidak berubah. Alhamdulillah istri dan 3 anak gadisku sangat mendukung sikap dan watak ayahnya seperti itu. Pernah suatu ketika saya bawa uang hasil jasa konsultan proyek di beberapa Kementerian dan Lembaga negara, yg cukup besar saya bawa ke rumah. Apa yang terjadi istri dan anak saya gusturenya biasa-biasa saja, bahkan mereka bertanya kepada saya ayahnya..uang ini halal atau haram, ayah berbuat korupsi ya?.

Saya kaget mendengarnya statement berat yang “menyentak” tersebut. Seraya bersyukur kpd Allah, Tuhan menganugerahi watak yang baik kepada anak-2ku, 3 putri semua sikap anti KKN, terutama anakku yang sulung Annisa Hasanah SP.MSi/CEO and founder Ecofunopoly, productnya sudah mendunia, sekarang sdg kuliah program Doktor di Kyoto University in Japan atas biaya sponsor Pemerintah Jepang (Monbhuso). Setelah saya katakan bahwa uang yang saya bawa ke rumah diperoleh dari jasa konsultan, mereka anak-2 dan istriku paham dan senang.

Selama 4-5 dasa warsa saya menjadi aktifis di sejumlah organisasi dan lembaga sosial sebagai unsur pimpinan harian, antara lain di HMI, BKIM-IPB, KNPI, Kadinda, Dekopinda, Koperasi Karyawan, ICMI, Kahmi, Dewan Pendidikan, pernah juga 5 thn Ketua RT di daerah pemukiman yang sekarang, dll. Semua itu saya raih dan dapatkan dengan kemampuan otak dan akhlaq, insyaAllah nihil pakai duit (money politic), apalagi sogok menyogok dsb. Banyak godaan memang aktif di PG, KNPI, Dewan Pendidikan, Dekopinda dan apalagi Kamar Dagang dan Industri (Kadin), ketika menjelang Musda itu, di arena duit pun ikut bersiliweran untuk meraih dukungan suara. Dan di arena, saya karena dipandang vokal, ketika berada dalam forum, sering didekati timses calon, untuk meraih dukungan saya.

Saya juga sering didekati dan diajak oleh “team sukses”nya. Tapi saya tidak tergoda dengan praktek-praktek haram tersebut, walaupun ada sebagian teman dekat saya terheran-heran dianggap saya “bodoh”. Dia menyarankan ambil saja uang “siluman” suap/sogokan dari para Calon Ketua Ormas tersebut, kan dibilik suara tergantung Anda?, tidak ada yang tahu !.”

Hal itu beliau katakan kepada saya, ketika kami rehat (jeddah) di sebuah kamar hotel, berdua di Bandung, acara Musda. Lantas saya jawab waktu itu…”walaupun saya sendiri berada sendiri di bilik suara. Tuhan Allah SWT pasti melihat dan mencatat kelakuan jahat saya..”. Teman itu terdiam seribu bahasa, beberapa saat kemudian beliau menyalami saya, sambil berkata dgn ekspresi yang tulus..”saya salut dan kagum dgn anda, bung Apendi”.

Buah dari sikap tegas anti “suap-menyuap” tersebut, saya seperti itu banyak teman-teman, sahabat yang senang dan merasa nyaman dengan saya. Akhirnya ada diantara bersahabat akrab, dan diminta membantu pekerjaan-pekerjaan mereka baik yang urusan bisnis, sosial dan politik. Salah satu diantaranya saya diberi tugas sbg konsultan politik adalah satu Calon Bupati Bogor, adik teman karibku yang pernah bertemu di hotel, acara Musda Kadin, yang disebutkan diatas.

Alhamdulillah Calbup Bogor yang kami usung itu pun menang. Waktu acara pelantikan adik sahabatku itu menjadi Bupati Bogor saya diundang khusus, dan setelah usai acara diajak bpk Bupati ke rumah dinasnya dan berkesempatan melihat-lihat kamar-kamar dan bilik-bilik yang ada di rumah dinas- Pandopo tersebut.

Subhanallah saya merasa dihargai, dan senang.atas keberhasilan tersebut. Pada tahap awal beliau menjabat saya ada 2-3 kali bertemu di kantor Bupati dan rumah dinas untuk urusan ormas, pernah ngobrol di dekat kolam renang berdua, padahal para pejabat sdg antri diluar ingin bertemu bpk Bupati. Setelah itu saya menghilang hampir lk 2-3 tahun tidak pernah kami bertemu, suatu ketika ada acara Rakerda Kadinda Kab.Bogor bpk Bupati Bogor diundang hadir memberikan sambutan.

Sebelum acara dimulai bpk Bupati Bogor melihat saya duduk posisi kursi di bagian tengah ruangan, dan agak di depan Convention Hall Hotel Pangrango Kota Bgr, bpk Bupati turun dari kursinya di pentas bagian depan menghampiri saya. Lantas bpk Bupati Bogor bertanya? kemana saja “si ganteng” Apendi, ini? kok tidak pernah datang lagi ke Pandopo, rumah dinas seperti teman-teman yang lainnya? Sambil beliau menanyakan apa khabar? ada kesibukan apa sekarang Apendi? dan apakah ada yg perlu saya bantu?, begitu kata-kata ramah dari bpk Bupati Bogor tersebut ketika itu.

Saya juga kaget melihat sikap bpk Bupati yang baik hati dan ramah tersebut, terus terang saya senang dan merasa dimanusiakan “tersanjung”, di ruang Convention-Hall hotel tersebut, dimana semua mata tertuju kepada kami berdua bpk Bupati dan saya AA.

Dengan beberapa pertanyaan bpk Bupati Bogor ke saya. Lantas saya jawab bahwa saya sedang melanjutkan studi S3 (Doktor) di IPB, …kemudian soal jarang kita bertemu, saya jawab singkat. Saya takut dan khawatir akan menggangu waktu dan kesibukan tugas bpk Bupati yang begitu padat, kalau saya sbg rakyat siap saja dan kapan saja. All ready untuk bertemu dengan bpk Bupati yang terhormat.

Dengan jawaban saya singkat dan lugas tersebut, bpk Bupati paham, kemudian memanggil ajudannya Yosef, disuruh mendekat, sambil bpk Bupati..kamu Yosef kenal orang ini (maksudnya saya) orang ini?. Jawab Yosef kenal pak!, itu dosen saya di Universitas Djuanda Ciawi Bogor (memang ajudan bupati itu alumni UNIDA).

Kemudian bpk Bupati Bogor sebelum kembali ke pentas tempat duduknya, memerintahkan ajudannya untuk mengatur acara pertemuan saya dengan bpk Bupati Bogor di Pandopo rumah dinasnya, diperoleh Kamis pagi 3 hari ke depan. Sikap “jelek” saya diantaranya adalah saya tidak suka “carmuk”, setor muka, minta-minta apalagi balas jasa, maaf mengemis, membawa proposal kepentingan pribadi, ndaklah, kecuali urusan organisasi sosial- kemasyarakatan.

Saya punya sikap wajar-wajar saja, dan dalam pergaulan antar sesama di dalam berganisasi, dan berupaya membantu teman-temanku agar bisa sukses. Jika mereka, temanku itu ingat, ya…ada rezeki, alhamdulillah. Jika tidak, ya maklum belum rezekinya. Perbuatan baik yg telah kita kerjakan, Tuhan Allah.mahatahu, Tuhan pun tidak tidur (“mboten sarek”), kata ibu kandung bpk Presiden RI Jokowi, yang tertulis di dalam buku “Ulama Bertutur Tentang Jokowi: Jalinan Keislaman, Keumatan dan Kebangsaan, editor Mukti Ali Qusyairi, kata pengantar Prof Dr Azyumardi Azra MA, penerbit Bukurepublika thn 2018).

Jika itu yang terjadi, ya… saya mengikhlaskan saja, jalani hidup ini ibarat air mengalir saja (natural). Tapi memang berdasarkan pengalaman kita hidup beragama (Dinnulislam), rezeki itu faktanya banyak pintunya. Allah SWT yang mengatur pintu-pintu rezeki itu, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, ada yang dimudahkan dan atau sebaliknya dipersulit “cash flow” and “household income”nya. Terkadang banyak rezeki yang datangnya dari arah tidak disangka-sangka.

Alhamdulillah, saya merasakan selama ini jarang mendapat kesulitan-kesulitan hidup yang berarti, enjoy-enjoy aje (bahasa Betawinya), ketika butuh ada barang dan jasanya.

Disinilah sumber dan makna kebahagiaan itu datang, ibarat kita haus-dahaga air minum pun tiba, ketika anak butuh uang sekolah duitnya pun ada, dan mau makan enak tidak sampai menahan selera, etc. Artinya alhamdulillah kebutuhan hidup tersedia lancar-lancar saja. Barangkali, mungkin kebutuhan saya sendiri cukup sederhana saja, tidak banyak itemsnya dan tidak berlebih-lebihan untuk bergaya hidup (life style) mewah dan bermegah-megahan (hedonist), yang kemudian menjadi temannya syeitan, yang gemar membuat kerusakan dan kegaduhan sosial.

Saya pun memenuhi jadwal undangan pertemuan dengan bpk Bupati Bogor tersebut. Pagi kamis itu saya sudah berada di ruang bagian tengah untuk tamu “spesial” di rumah dinas Bupati (komplek Pandopo di dekat danau di Cibinong), lantas bpk Bupati bertanya, apa benar Apendi sekarang bersekolah ambil program Doktor di.IPB Bogor, bidang keilmuan Pengelolaan SDAL? Saya jawab ya, beliau senang mendengarnya, artinya beliau tahu juga perlu dana yg besar untuk penyelesaiannya. Kemudian bertanya lagi kepada saya, berapa SPP per semester? Saya jawab sebesar Rp.6 juta. Lantas kemudian secara spontan bpk Bupati membalas jawaban saya, saya membantu sekolah bung Apendi 2 semester ya! (dalam hati saya berkata “alhamdulillah”). Waktu itu saya diberi cek senilai Rp.12 juta.

Setelah itu kami ngobrol hal-hal penting saja dan bertanya tentang kondisi keluarga saya, saya jawab alhamdulillah baik-baik saja. Karena bpk Bupati Bogor jadualnya pada hari itu cukup padat, saya melihat ajudan sudah bolak-balik menghampiri Bosnya, saya pun mohon pamit meninggalkan pandopo rumah dinas Bupati Bogor, sambil menggengam cek Rp.12 juta, lumayan besar untuk ukuranku, untuk menambah biaya sekolahku di program Pasca Sarjana IPB University, di masa itu.

Siapa dia ? bpk Bupati Bogor yang baik hati dan tahu berterima kasih itu?, dan menjabat 2 periode, beliau itu adalah almarhum Kolonel Inf. (Purn) H Agus Utara Effendie SIP, beliau adalah adik kandung sahabat kentalku Achmad Asikin Effendie (pengusaha kontraktor sukses, Ketua Gapensi dan Wakil Ketua Kadin Kab.Bogor). Kedua orang ini merupakan adik kandungnya bintang film top zaman Orla alm. ibu Hj.Rahayu Effendi, ibu kandung bintang film top juga bernama Dede Yusuf Macan, mantan Wagub Jawa Barat dan anggota DPR RI. Alhamdulillah, saya beruntung bisa kenal dekat dgn keluarga terpandang ini.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, tapak demi setapak seorang anak yatim dari Cerenti itu, dengan kesungguhan dan kesabarannya bisa meraih cita-citanya sejak kecil, yakni insyaAllah menjadi orang berguna, memberi manfaat buat keluarga, kerabat dan antar sesama, terutama Dunsanak…walaupun masih sedikit, subhanaallah.

Demikianlah sekelumit narasi noltalgia mengenai perjalanan hidupku dalam jalur perpolitikan. Simpulannya bahwa Baleg dan Caleg DPR RI yang diperbincangkan para Dunsanak kmd Erwin dkk di FIKCI dan Sompec oleh para sahabat dan kerabat dimana saja berada. Saya mengucapkan terima kasih atas segala atensi dan appresiasinya. Bahwa Caleg DPR RI thn 2004, cukup menjadi masa laluku saja, dan menjadi bahan nostalgia, kenangan manis semata.

Saya sangat bersyukur kpd Allah SWT atas karuniaNya bisa berprofesi guru seperti saat ini. Saya adalah dosen telah bersertifikat profesional (serdos) dgn pangkat akademik syah sebagai Assosiate professor, juga berprofesi konsultan K/L negara, pegiat dan pengamat sosial seperti saat ini, yang bersuara lugas, dan berpendapat kritis serta analitik untuk suatu perjuangkan dan menabur kebaikan dan kebajikan di negeri ini.

Walaupun saya tahu dan sadar pekerjaan ini tidaklah mudah diaktualisasikan, beresiko bahwa ada segelintir orang yg tak nyaman dengan kritikan tersebut, terutama tema-tema anti korupsi para oknum pejabat, dan kejahatan kemanusiaan lainnya yang saya narasikan ke publik. Hal itu tidak apa-apalah..saya ikhlas..Allah “mboten sarek”.

Kini usiaku pun sdh diatas kepala 6 (lansia), sudah selayaknya lebih banyak berada diatas sajadah ketimbang sibuk rapat-rapat “dagang sapi” dan matinya demokrasi di gedung Senayan, yang bagi saya sendiri, sejak lama tidaklah tertarik. Saya mohon maaf kepada mereka yg mungkin berharap saya tampil di parlemen, dan semoga mereka paham setelah membaca artikel ini. Maaf apabila ada kata-kata yg kurang berkenan di hati para pembaca narasi ini, niatnya hanya sekedar berbagi pengalaman antar sesama kerabat, mana tahu ada manfaatnya?.

Salam kayuah, tigo tali sapilin.. Basatu nagori Maju, Kuansing.
Syukron barakallah.

 

Penulis adalah Orang Cerenti mukim di Ciawi Bogor, Dosen Profesional-Pendiri Universitas Djuanda Bogor, TA Ditjen Bina Pemdes Kemendagri 2021, Pendiri dan pembina Yayasan ACM dan Yapic Bogor, Aktivis beberapa Ormas dan Pegiat, serta Pengamat Sosial

Exit mobile version