Oleh: Apendi Arsyad
Alhamdulillah, saya amati hari ini Ahad 9-01-2022, cukup “ramenya” teman-teman dan para Sahabat, yang memberikan koment tentang gambar-gambar aneka peristiwa “Perjalanan Wisata Alam di Curug Cikondang, dan perjalanan ke Gunung (Gn) Padang” tgl 7-8 Jan 2022 kemaren, yang diposting di WAG Kodel oleh beberapa Sahabat yang mau berbagi kesenangan dan kebahagiaan.
Ada diantaranya yang bertanya, lokasi dan situs apa ini? Jika ngak salah dari sahabat yang gemar fhotografi, mas Budi. Izinkan saya menjawab dengan memberikan narasi akan peristiwa itu, dengan sedikit perspektif atau sudut pandang agar kejadian demi kejadian lebih menarik sebagai pengetahuan sejarah purbakala.
Situs purbakala itu dibangun sekitar abad 2 SM, namanya situsnya Gn Padang, yang berada di lokasi perbukitan dari permukaan laut (dpl) lk 980 meter, cukup tinggi memang. Terasa sekali ketika menaiki anak tangga lk 380 buah dengan jarak langka lk 50-60 cm, terasa penat dan napas ngos-ngosan, tersengal-sengal, menaiki beberapa langka anak tangga, kami terpaksa berhenti sejenak sambil berphoto riang gembira dan bercanda.
Menurut informasi Situs purbakala Gn Padang ini adalah tempat ritual kaum nenek moyang kita, agamanya apa yang dianut ? Keterangannya dari pemandu wisata yang mendampingi kami, tak begitu jelas jawabannya setelah saya bertanya.
Situs purbakala ini dibangun menggunakan bebatuan megalit berbentuk 4 persegi-panjang dengan berbagai ukuran (rata2 panjangnya 1-2 meter) yang tertanam rapi, dan tersusun-susun pada 5 tingkat sampai ke atas bukit berketinggian 980 meter dpl.
Lokasi ritual nenek moyang kita ini, menghadap ke Gn Gede Pangrango, yang tampak sangat jelas dgn pemandangan yg indah sekali dan cukup menawan. Apabila kita memandangnya begitu khusuk, maka nampaklah tanda-tanda kebesaran Allah SWT, Sang Maha Pencipta alam jagat raya dan beserta isinya yang tak terbantahkan kebebaranNya, Allahuakbar walillahilham.
Pokoknya kita yang hadir di lokasi Gn Padang sungguh menakjubkan, akhirnya kita menghayalkan dan berimaginasi, sebenarnya begitu majunya peradaban nenek moyang kita bangsa Indonesia tempo dulu di masa itu.
Begitu beratnya dan banyaknya batu batu hitam megalit andesit, yang diangkut oleh para pengikut agama dan kepercayaan di masa itu, dgn kepeminpinan yang kuat, rakyatnya bekerja keras, bergotong royong dan penuh kesetiaan kpd pemimpinnya serta penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, sehingga bangunan bersusun bebatuan “Megalit andesit” bisa terwujud menjadi sebuah monumen peradaban pada abad ke2 SM.
Menurut catatan sejarah, ini situs perbakala, warisan budaya nenek moyang yang terluas di nusantara, lk 99 – 159 ha. Sumber bebatuan Megalit andesit ini berasal dan diangkut dari salah satu anak sungai bagian timur Gunung Padang.
Jadi situs bersejarah yang sarat nilai-nilai budaya dan berperadaban ini sudah berumur jutaan tahun lamanya sebagaimana yang tercatat pada keterangan resmi, ditulis pada papan informasi resmi Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI.
Untuk sampai ke lokasi puncak “singgasana” tempat ritual atau sesembahan ini, memerlukan waktu lk 30 menit dgn jalan santai dan mendaki. Kita menaiki anak tangga berbatu cadas sebanyak lk 380 utk mereka yang mau menempuh jalur agak lebih cepat tapi jalur ini kemiringannya cukup besar yakni lk 45 derajat, jalan ini dikhususkan utk naik saja ke atas.
Selain itu tersedia juga tangga alternatif agak miring dan “landai”, jalan seluas lk 2 meter ini memiliki anak tangga batu cadas sebanyak lk 780 buah, agak panjang memang, dengan derajat kemiringan lk 30 untuk jalur lambat. Tangga alternatif kedua ini bisa dilalui untuk naik dan turun dari puncak singgasana Situs Purbakala “Gn Padang” Cianjur Selatan.
Untuk menaiki dan menikmati perjalanan wisata budaya dan sejarah ini (culture and haritage toerisme) situs Gn Padang ini, kami rombongan dipandu oleh seorang petugas wisata profesional berbaju hitam ala etnis Sunda, namanya kang “Asep Widodo”, dipanggil kang Wid.
Beliau menjelaskan satu persatu riwayat sejarah situs-situs yang menarik tersebut kepada kami para pengunjung. Informasi yang saya dengar jika tak khilaf, kami lihat antara lain seperti sumur tua yang ada disamping anak tangga pertama sebagai tempat bersuci, air dari mata airnya jernih; kemudian jumlah dan jenis anak tangga; beberapa nama jenis lokasi ritual susunan bebatuan Megalit: ada bebatuan tapak manusia, tapak harimau, ada pepohonan besar yang tumbuh bertempetan diantara bebatuan sbg simbol “mesranya” lelaki dan perempuan; dan ada juga susunan bebatuan hitam Megalit tempat sesembahan yang bertingkat-tingkat sampai ke singga sana yakni lokasi puncak yang paling tertinggi. Ada juga kami diperlihatkan susunan bebatuan hitam sebagai “gamelan” jika kita ketuk dgn tangan, keluarlah bunyi bernada ‘solfamiredo” versi alat seni budaya tradisional gamelan Jawa.
Ada lagi batu hitam yang menarik, ini utk etnis dan budaya Sunda, di lokasi situs Gn Padang ini bisa ditemukan warisan budaya ukiran sangkur “Kujang” di salah satu batu hitam megalit tersebut. Kami rombongan tidak lupa berfhoto ria dengan berbagai gaya di beberapa lokasi situs ini.
Kami rombongan melihat juga ada salah satu batu “keramat” yang tidak boleh digeser, kata si pemandu wisata, di lokasi ini terdapat sumber energi “magic” yang sangat besar. Ada beberapa benda jika diletak disisi batu itu, akan tertarik dan melekat kuat. Menurut cerita legendanya, pada malam hari di bulan purnama, di tempat ini akan muncul cahaya yang menakjubkan, dan suasananya seolah dalam sebuah ‘keramaian”, ada bunyian musik gamelan bertabuh-tabuhan terdengar bagi mereka, orang tertentu yang diberi kesaktian khusus mampu mendengarkannya.
Udara segar dan angin sepoi-sepoi pegunungan, membuat kami berlama-lama berada di atas, areal Situs purbakala Gn Padang lk 2 jam, kami asyik berfhoto ria dengan sesama maupun bergaya “prawedding” dengan pasangannya, bagi teman yang bawa istri atau suami, yang tidak bawa, cukup berkhayal saja untuk mengenang masa lalu yg indah-indah.
Tanpa sadar waktu semakin siang, perut kami pun terasa lapar, dan kerongkongan terasa haus. Kami mampir di warung-warung makanan yang dikelola penduduk setempat di atas bukit.
Kami memesan dan mengkonsumsi aneka makanan dan minuman yang lezat dan bergizi spt karedok, mie rebus, gorengan, teh manis dan tawar, kopi dll, sekitar pukul 12.30 wib kami rombongan turun menaiki anak tangga yang lebih panjang jalur lambat 780 anak tangga. Setelah sholat, naik bus wisata carteran kami pun kembali pulang ke Bogor, melalui Kota Cianjur dan kawasan jalur puncak Bogor yang sangat macet itu, biasanya perjalanan normal Cianjur-Bogor bisa ditempuh hanya 1 jam, kali ini kami menikmati perjalanan “rute macet” puncak Bogor selama lk 5 jam, cukup melelahkan. Alhandulillah kami selamat sampai di rumah masing-masing dengan selamat dengan penuh kenangan.
Demikianlah catatan singkat informasi perjalanan di Situs Purbakala Gn Padang, dengan ragam jenis dan fungsi bangunan warisan budaya berupa bebatuan Megalit andesit masa lampau di situs purbakala Gn Padang, Cianjur Selatan. Destinasi wisata budaya ini biasanya dalam situasi normal bisa dikunjungi sekitar 2.000 orang wisatawan, tetapi di masa pandemi Covid 19 agak sepi, hanya sebanyak lk 200 orang wisatawan nusantara, amat jarang wisatawan mancanegara ke lokasi ini, kecuali ada beberapa orang asing antripolog yang meneliti situs purbakala ini.
Lahan-lahan di sekitar Situs, memang saya lihat ada pada papan informasi tertulis, “lokasi ini tanah milik negara” yakni Pemda Jabar dan Kemendikbud RI, di lokasi telah dibangun runah Gasebo, shekter dan jalan masuk alternatif pada bagian terluar dari bangunan situs purbakala Gn Padang ini.
Untuk saat ini, saya melihat sudah ada bangunan lama spt pintu gerbang yang bertuliskan “Kawasan Wisata Gn Padang”, sebuah loket penjualan karcis masuk (Rp 5 ribu per orang). Ada juga gedung pusat informasi wisata, mushollah dan beberapa WC.
Di sekitar pintu gerbang dan halaman parkir situs Gn Padang, tersedia warung-warung makanan dan minuman dengan aneka produk kerajinan (souvenir) spt baju kaos, topi, gantungan kunci dll. Diantaranya ada juga hasil alam setempat yang dijual seperti madu lebah asli, gula merah-aren, pisang, etc.
Disisi lain hasil pengamatan saya bahwa kesan saya terhadap masyarakat lokal disini cukup ramah dengan tamu. Mereka mau mengobrol dengan kami para tamu wisman, dan bahkan ada diantara mereka dengan senang hati memberikan informasi kepada sopir bus wisata kami tentang rute perjalanan kami pulang menuju kota Cianjur yang terbaik.
Harap maklum untuk menuju destinasi wisata Gn Padang ini, menempuh jalan beraspal yang agak sempit, berkelok dan berliku, akan tetapi pemandangan alam perbukitannya, lembahnya, aneka vegetasi hutan yang berpanorama yang sangat indah.
Ketika kita berada dalam bus wisata yang sedang berjalan, kita bisa melihat ke kiri ke kanan disisi jendela bus, terlihat pemandangan indah dan menawan. Arahkan penglihatan kita ke atas, maka akan tampak ekosistem alam yang masih alami, dan suasana “ndeso”, dengan pola “sengkedannya”, derasharing” perladangan tradisional, perkebunan hortikultura, perhutanan dan perumahan rakyat yang terajut begitu indah dan mempesona. Jika kita memandang bukit dengan areal persawahan tampaklah ukiran alam yang menakjubkan, dan cukup menarik kehidupan masyarakat manusianya harmoni bersama ekosistem dan landscape alamnya.
Seandainya, jika kita melihat, berpaing ke arah bawah, daerah lembah-lembah, maka akan tampaklah persawahan padi yang hijau dan sebagian sudah menguning, dengan daerah aliran sungai, berisikan air pegunungan yang mengalir dan jernih, serta terlihat juga kolam ikan dan aneka budidaya tanaman rakyat sebagai sumber pangan dan energi bagi pemenuhhan kebutuhan masyarakat setempat (local community).
Saya sempat berpikir dan berdiskusi sesama teman di penginapan bahwa orang-desa desa ini, sesungguhnya hidupnya makmur karena sumberdaya alamnya, cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidup karena masih “undercapacity dan underutility”, dan sangat berbeda jauh dengan nasib kita hidup di kota-kota besar spt Jabodetabek.
Ketika berada di tempat penginapan “resort” panggung di kawasan wisata alam,
saya pun tidak mensia-siakan waktu dan kesempatan berpetualang dengan berolah raga jalan pagi di pagi hari di sekitar perkampungan penduduk, dengan menelusuri jalan mendaki ke arah perbukitan.
Dari atas bukit kita bisa melihat pemukiman Kota Sukabumi, karena memang daerah ini berdekatan atau bertetanggaan dengan wilayah Sukabumi Jawa Barat, kemudian tampak jelas juga puncak Gn Gede Pangrango yang indah itu.
Sedangkan dalam perjalanan pergi dan pulangnya, kita bisa menikmati fanorama alam perkebunan teh milik PTPN dengan ada beberapa bangunan yang artistik, gaya arsitek perpaduan tradisional- modern, dengan jalan sirtu yang berkelok berliku, membuat para penumpang bujurnya terpaksa bergoyang-goyang.
Pokoknya mata para penggemar perjalanan (toering) dimanjakan pada saat dan sedang berkunjung dan juga perjalanan selama pulang ke Kota Bogor, cukup banyak ragam pemandangan yang menawan dan terkadang menakjubkan hati dan jiwa.
Apa yang dirasakan jiwa raga kita, tampak lebih senang dan segar (refreshing), apalagi disertai dengan suasana keakraban dan kebersamaan para Sahabat Kodelers, kami berinteraksi sosial menyenangkan, melucu dan banyak banyolan, sehingga suasana toering membuat para peserta yang tertawa-tawa riang gembira dan terbahak-bahak antar sesamanya. Alhamdulillah, energi negatif yang tersimpan dalam jiwa, pun dilepaskan.
Dengan banyolan yang penuh lelucon itulah, ada person-person yang menjadi bahan ceritab untuk sementara sbg objek “penderita”, “dibully”, terutama untuk narasi atraksi “Canyoing” cara lain bermain air terjun di destinasi Curug Cikondang, yang sangat berkesan itu.
Begitu banyak narasi yang mengungkapkan kesan-kesan yang menarik, berkesan dan mendebarkan hati selama beratraksi “berpetualang” (adventure) di alam perbukitan dan pegunungan alam Jawa Barat yang menawan tersebut.
Setelah beberapa saat untuk sampai di Bogor, kami pun tak lupa saling memaafkan antar sesama, untuk mereduksi segala kesalahan dan kekhilafan yang kami perbuat baik sadar maupun tidak selama berwisata.
Begitulah pengalaman dan narasi perjalanan kami para Kodelers pada hari kedua, Sabtu (8 Januari 2022) di destinasi Gn Padang Cianjur yang mengesankan itu. Selamat membaca, berhalusinasi, senang dan berbahagia selalu.
Mohon maaf para Sahabat dan pembaca sekalian, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati dalam tulisan ini. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menolong hamba-hambaNya yang beriman, bertaqwa dan gemar berbuat kebajikan, Amiin3 YRA. Semoga bermanfaat, syukron barakallah.
Penulis adalah Dosen-Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas dan LSM, serta Pengamat Sosial





