Pengalaman Berpetualang di Curug Cikondang Cianjur Selatan

oleh -1,141 views
Pengalaman Berpetualang, Pengalaman, Petualangan, Curug Cikondang, Cianjur Selatan, Apendi Arsyad

Oleh: Apendi Arsyad

Alhamdullillah, pada tanggal 7 Januari 2022 hari Jumat siang, alumni IPB kelompok delapan tahun 1980, disingkat Kodel, kali ini ada sebanyak 15 orang berdarma wisata ke Curug Cikondang, terletak di perbatasan antara Desa Sukadana dan Wangun Jaya Kecamatan Cempaka Kab.Cianjur Selatan Jawa Barat. Salah satu atraksi yang ditawarkan pengelola wisata alam ini adalah Canyoneering, artinya olahraga menikmati air terjun, atau cara baru menikmati wisata alam air terjun.

Semula, saya tidak tahu tentang atraksi wisata alam yang menantang, yang menuntut adanya “nyali” seorang individu yang gemar berpetualang.

Alhamdulillah aku pun ikut serta dalam menikmati atraksi air terjun itu. Terus terang, ketika menyaksikan kawan-kawan Kodel, memulai beratrasi melintasi tebing yang terjal dan curam tersebut, tak aku pinggiri, perasaanku terpapar “rasa ketakutan”, gugup, muncul berbagai kekhawatiran dalam pikiran.

Tapi akhirnya dengan kuat rasa ingin tahu tentang sesuatu yang baru, lama kelamaan rasa takut dan gugup hilang. Rasa senang
pun muncul secara pelan dan pasti. Dengan membaca kalimat “basmallah” aku putuskan ikut sambil berdoa, semoga aku bisa menjalaninya dan selamat. Istilah lainnya
selamat dari “maot”.

Pengalaman yang mendebarkan, ada perasaan seolah-olah saya sudah masuk atau berada di “alam barzah”, seketika mukaku di hantam banjuran air yang begitu deras, sementara pijakatan kakiku terlepas dari dinding tebing. Badanku kehilangan keseimbangan, sehingga tubuhku terhempas dan terlempar ke kanan dan ke arah kiri tebing, terombang-ambing ke kanan dan kiri.

Baca :  Milad 81 tahun Ongaku, H Edward Arfa

Muka dan telingaku dibanyur air terjun yang cukup banyak, sehingga nafasku pun sesak, dan terengah-engah. Tempurung lututku berbenturan dengan bebatuan tebing dengan rasa sakit di dengkul. Konsentrasi buyar untuk menarik dan mengendalikan tali penggerak di pinggang sempat kehilangan kontrol, lupa ingatan…dan.. hati hati pun berdebar-debar..

Alhamdulillah, ingat kebesaran Allah SWT dan memohon kepadaNya untuk diberikan keselamatan. Subhanallah doaku terkabul, akhirnya tali pengendali di pinggang baru bisa digerakan dan badanku terayun-ayun di atas tebing curam berair terjun tersebut.

Setelah mengingat Tuhan Allah SWT, dan sambil bespasrahkan diri, akhirnya aku sampai juga ke dasar tebing dengan terhoyong-hoyong mengikuti aliran air di sela-sela bebatuan yang begitu deras. Kemudian aku disambut 2 petugas “canyoneering”, yang mengatur tali Canyon. Aku pun bersyukur kepada Tuhan, ternyata aku bisa juga melakukannya dengan selamat.

Di akhir atraksi Canyoeering yang cukup menantang tersebut, dan ketika melepaskan tali kendali di pinggangku. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada mereka yg telah bertugas memantu jalannya atraksi yang mendebarkan hati tersebut sambil berbisik dalam hati bahwa aku kini telah memiliki sebuah pengalaman baru sebagai “petualang” (adventure) menikmati wisata air terjun di Curug Cikondang, desa Sukana dan desa Margaja, Kecamatan Cemara Cianjur Selatan.

Terus terang ini pengalaman baru bagiku untuk beratraksi di alam bebas, tebing terjal dengan pancuran air yang sangat deras.

Baca :  Inmemorial ibu Dr Wini Nahraeni

Semula, memang aku merasa takut untuk ikut serta, tetapi melihat begitu bersemangat teman2ku Kodel, terutama kaum “nenek-nenek” muda ikut atraksi Canyoing, maka aku memberanikan diri untuk ikut dalam rangka mencari pengalaman baru (curiosity) di alam bebas.

Alhamdulillah aku pun bisa mengerjakannya, walaupun awalnya sebelum memulainya sempat “stress” juga. Terutama melihat ada sebagian emak-emak kesulitan mengendalikan tali yang berada di pinggangnya. Lama-lama memperhatikan kawan-kawan sedang mengatur tali di pinggangnya berhasil bergerak kebawah badannya, aku pun mulai muncul percaya diri untuk mengikutinya.

Timbul pertanyaan dalam diriku, mengapa kawan-kawanku para nenek pemberani bisa.melakukannya ?, mengapa aku tidak bisa !, aku pun percaya diri untuk berusaha melakukan “event adventure Canoying” yang menegangkan itu, yang memang baru pertama kali aku lihat dan alami sepanjang hidupku.

Ketika petugas wahana Canoying mengatur tali, dan aku diajari bagaimana menggerakan tali di pinggang, pada saat meluncur, alhamdulillah aku cukup tenang, sambil diabadikan diambil photonya oleh petugas wahana, sambil aku tersenyum terkulum yang agak dipaksakan akibat suasana hati yang gugup dan takut. Sambil berdoa dengan membaca surat Al Fatihah dan berzikir rasa gugup pun hilang, badanku bisa bergerak ke arah bawah dasar tebing yang curam itu dengan ketinggian lk 30 meter, dengan arus air terjun yang sangat deras.

Entah kenapa, ketika injakan kaki ke dinding tebing lepas, meleset, badanku oleng, goyang dan terlempar ke kiri, sementara air terjun menimpa mukaku, sehingga pemandangan menjadi gelap. Di saat inilah, dalam diriku tiba-tiba muncul rasa takut, seolah-olah aku sedang berada di alam “barzah” dimana rasanya hidupku sudah “berakhir”.

Baca :  Sekedar Klarifikasi Mengapa Saya Menulis

Tapi alhamdulillah, perasaan itu hanya berlangsung beberapa saat yg mendebarkan itu. Tak lama kemudian, aku pun tanpa sadar sudah berada di dasar tebing air terjun Curug Cikondang Cianjur Selatan, Jawa Barat, alhamdulillah, aku selamat.

Begitulah narasi singkat pengalaman aku bersama para Sahabat Kodelers TPB IPB thn 1980 bertamasya alam (ecotoerisme) di Curug Cikondang, yang sangat mengesankan dalam perjalanan hidupku yang tidak akan terlupakan.

Setelah selesai beratraksi yang menantang itu, kami pun berkumpul di saung istirahat Canyoeering dengan berbagai cerita lucu-lucu dari pengalaman masing-masing yang begitu mengasyikan, menghibur dan mendebarkan hati.

Semoga, bagi mereka yang membaca tulisan ini, teristimewa bagi yang melakoninya, akan mengingatkan kita sesuatu saat nanti, adanya suatu peristiwa yang unik yang pernah kita jalani bersama dengan segala romantikanya.

Selamat bernostalgia dengan “kenangan manis” (sweet memory) sebagai bahan cerita bagi para anak-cucu di rumah, oleh para “emak-emak dan nenek-nenek” pemberani sahabat Kodelers.

Sukses dan berbahagia selalu. Aku memohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pesan dan kesan yang telah aku sampaikan disini. Semoga bermanfaat.

Gunung Padang, Cianjur Selatan, 8 Januari 2022

 

Penulis adalah Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *