Oleh: Dr Apendi Arsyad
Sabtu, 16 Oktober 2021, saya berkesempatan bertemu dengan Wakil Ketua Satu Bidang OKK MPW ICMI Bogor Dr. Dony Yusri. Beliau selain aktivis ICMI Bogor, membantu Ketua ICMI Orwilsus Bogor, Prof. Arif Satria (Rektor IPB University), juga dikenal sebagai Sekretaris Umum KAHMI Bogor, yang barang tentu tokoh KAHMI dan ICMI memiliki tugas yang cukup besar untuk membesarkan kedua organisasi besar ini agar tetap eksis di wilayah Bogor.
Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) secara nasional kiprahnya sudah sangat dikenal oleh ummat dan bangsa dalam mewarnai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Terbukti hingga saat ini warga ICMI dan Kahmi banyak berperan dalam posisi strategis di lembaga negara baik eksekutif, legislatif dan bahkan yudikatif, terlebih di dunia usaha dan lembaga non pemerintahan (NGO, LSM), Ormas-ormas serta lembaga sosial lainnya, terutama pada Yayasan sosial pendidikan di negara ini. Walaupun peran strategis berbeda-beda, tetapi mereka tetap berorientansi pada memperkuat eksistensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Wacana dan dinamika keislaman, kebangsaan dan keIndonesiaan sudah menjadi agenda utama kedua ormas Islam, yang selalu dibicarakan, dikawal dalam upaya mencapai tujuan bernegara yakni melindungi segenap kehidupan berbangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga perdamaian abadi sebagaimana tercantum spiritnya dalam UUD 1945.
Dalam kerangka itulah ICMI dan KAHMI Bogor hendaknya bergerak, dan para pengurus bersama warga dan masyarakat pendukungnya bisa berperan dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan yakni Ppoleksusbudhahkan dengan aneka ragam jenis program dan aktivitasnya.
Untuk program dan kegiatan ICMI Wilayah dan KAHMI Daerah Bogor juga akan tetap berorientasi pada lingkup itu. Untuk kasus Bogor dua ormas Islam ini telah berdiri dan alhamdulillah tetap eksis, dilihat dari perjalanan sejarahnya memiliki titik singgung yang banyak kesamaannya.
KAHMI Bogor sudah sejak tahun 1966 berdirinya di Solo Jateng, sedang ICMI baru lahir tahun 1990 di Malang Jatim. Lahirnya ICMI diprakarsai dan dipelopori oleh warga KAHMI yang berkeinginan memperluas kiprahnya dlm pengabdiannya terhadap masyarakat, bangsa dan negara dlm konteks keislaman, keindonesia dan kecendiakiawan, sehingga warga non KAHMI bisa melebur dgn Warga KAHMI untuk satu cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
KAHMI dan ICMI menyadari bahwa ummat Islam Indonesia merupakan komponen demografi terbesar di Indonesia, secara alamiah dipundaknya terletak tanggungjawab yang lebih besar untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional dan cita-cita bernegara sebagaimana dikemukakan di atas.
ICMI dan KAHMI merupakan basic demand bangsa Indonesia, meminjam istilah tokoh HMI tahun 1960an, Dr. Nurcholish Majid. Untuk itu ICMI dan KAHMI wajib mensupply kader-kader bangsa yang berkualitas dan mencukupi kebutuhan ummat dan bangsa.
Indikator kader yang berkualitas adalah tidak ada lagi SDMnya yang berpikir (mindset) dikhotomi apalagi antaganistik seperti Islam vs Pancasila, ummat vs bangsa, imtaq vs ipteks, etc. Kedua dimensi tersebut dalam kaca mata dan perspektif ICMI dan KAHMI wajib dan harus terintegrasi baik dalam pola berpikir (mindset, ideologi), bersikap (organisasi) san sarana benda (teknologi). Jadi kualitas kader kedua ormas ini karena berbekal imtaq dan ipteks, mereka akan bisa berbuat lebih untuk.kemajuan Indonesia, terutama sebagai pemasok (pensupply) kepemimpinan nasional.
Kita tahu bahwa perubahan zaman sesuai hukum Allah (sunnatullah) akan terus berlangsung, setiap fase (era) akan terbentuk pola-2 baru yang sangat mungkin berbeda dengan zaman atau era sebelumnya sebab kebutuhanya memgalami perubahan. Dalam perspektif inilah kita terus berpikir untuk.mencari penyesuaian-2 atau pola adaptasi. Apalagi kini kita berada diakhir abad 20, sebentar lagi.memasuki abad 21, era millenial, yang oyang sebut era masyarakat industri 4 0, bahkan ada yang sdh masuk era 5.0, yang bercirikan VUCA, yang membuat situasi ketidakpastian (distrupsi).
Untuk saat ini faktor peubah dominan kehudupan bukan saja akibat kemajuan ITC (era digital) tetapi ditambah lagi faktor munculnya pandemi Covid 19 dan anomali iklim dan cuaca ektrim, serta berubahnya serta bergesernya kekuatan politik global. Kesemuanya itu menarik untuk dipelajari dan dianalisis apa dampaknya terhadap kepentingan bangsa dan negara kita.
Berbagai fenomena dan tantangan abad 21 era millenial, era digital yang berdampak terhadap semua aspek kehidupan sosial baik positif apalagi negatif perlu dipahami dengan dengan baik secara keilmuan (saintific). Warga ICMI dan KAHMI mayoritas adalah berasal lulusan Universitas dan Perguruan Tinggi baik tingkat lokal, nasional, regional dan internasional, tidak akan asing dan bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan (integral) dengan tugas pengkajian berbasis kekuatan saintific tsb.
Dalam kontek inilah saya mengajak berdiskusi dengan adinda Dr. Doni Yusri, yang mengajak saya abangnya minum kopi di 4 (empat) warkop dan resto.milik warga KAHMI di Kota Bogor kemarin dari pagi jam 9 hingga sore jam 15.00 WIB.
Paginya saya diajak makan soto Surabaya, menu ceker ayam di jalan raya Sawo jajar Kota Bogor, kemudian setelah dilanjut minum.kopi Aceh di kawasan Samping Hotel Salak Herritage. Kemudian dilanjutkan siangnya dijamu minum teh manis hangat dan makan “Batagor Asyik”, oleh pemiliknya M Nur Asyik kader pengusaha muda KAHMI Bogor, dan berlanjut hingga sore harinya, saya dan Dr.Doni mampir di venue Fadly untuk minum Air Jahe Merah hangat dan makan roti Soek Padjajaran, CEO/ownernya Fadly juga kader muda KAHMI Bogor.
Saya lihat banyak sekali pelanggan berbelanja di situ, terutama pesanan online dgn menggunakan jasa gofood, gojack etc. Saya terkagum juga melihat semangat entrepreuner adik-adik KAHMI yang saya temui ada 2 orang kader dan alumni HMI Cabang Bogor, Sabtu kemaren. Alhamdulillah saya pulang dibekali adinda Fadly berupa oleh-oleh Roti Soek Padjajaran, karya inovasi bisnisnya Fadly itu. Anak dan istriku di rumah menikmati lezatnya Roti Soek tersebut. Harapan kita bisa menginspirasi dan memotivasi warga KAHMI muda yang lain untuk berani terjun di dunia bisnis.
Banyak hal yang kami bicarakan, antara lain sejauhmana proses pembelian lahan dan design (berikut RABnya) Rumah Cendikia ICMI Orwilsus Bogor, Konsolidasi organisasi Orda dan Orsat ICMI Orwilsus Bogor, Suksesi kepemimpinan ICMI Nasional dan Kesiapan Bogor dalam Muktamar ICMI, Revitalisasi Kelembagaan Bisnis UKM KAHMI Bogor, Antisipasi Regenerasi dan suksesi Kepemimpinan IPB University, sumbangan pemikiran dan konsep-2 pembangunan daerah berbasis keumatan, konsolidasi dan komunikasi ormas Islam di daerah Bogor dalam merespon problem bangsa, etc.
Issu-issu strategis tersebut seharusnya sdh menjadi agenda pembahasan dalam forum-forum rapat terbatas (limiting group) ICMI dan KAHMI Bogor. Jika hal itu dikerjakan dalam kehidupan masyarakat Bogor, barulah kita bisa mengatakan eksistensi ICMI dan KAHMI Bogor masih tetap terjaga, eksis dan berkelanjutan, sebagaimana yang pernah dilakukan kepengurusan sebelumnya di Bogor, antara lain seperti yang diberi contoh alm. Prof. Dr. Sjafri Mangkuprawira, pendiri dan Ketua Umum KAHMI dan ICMI Orwil Khusus Bogor tahun 1980an dan 1990an. Salah satu contoh kiprah nyata para “elite” KAHMI MD Bogor adalah mereka berkontribusi dalam proses suksesi kepemipinan IPB University, jejaringan “KAHMI” connection berjalan baik.
Faktanya KAHMI Bogor bisa “mensupply” warga dan kader terbaiknya menjadi Rektor IPB sejak bpk.Prof.Sitanala Arsyad, Prof.Aman Wirakartakusumah, alm. Prof. Soleh Solahudin, alm. Prof. AA Mattjik, Prof. Herry Suhardiyanto, hingga kini Prof.Arif Satria. InsyaAllah, harapan kita seterusnya juga demikian. Bahkan KAHMI Bogor mampu memasok Menteri Pertanian RI, Menpangan dan Hortikultura, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, dan lainnya sebutkan saja diantaranya adalah alm. Ir. Afandi, Ir. Hasrul Harahap, alm Prof. Syarifudin Baharsyah, Prof. Yustika S Baharsyah, Prof. AM Saefuddin, alm. Prof. Soleh Solahuddin, Prof. Rokhmin Dahuri, Dr. Suswono etc.
Keberhasilan menempatkan kader HMI di posisi puncak kariernya tidak cukup ditentukan faktor kualitas individu aksn tetapi harus ditopang oleh kekuatan institusi, seperti jejaringan KAHMI yang terkonsolidasi dan solid. Untuk hal cara pandang seperti ini kita teringat lagi, pendapat Ketum PB HMI 2 periode Kakanda alm. Dr. Nurcholis Majid bahwa dukungan jejaringan institusi KAHMI sangat penting bagi kepentingan penempatan kader HMI di jabatan publik seperti juga dilakukan komunitas-komunitas lainnya di tanah air.
Semoga cara pandang seperti ini hendaknya dipahami para elite KAHMI dan ICMI dengan pendekatan membina forum-forum Silaturrahmi disertai aktivitas bermakna seperti acara Halal bi Halal, buka shaum Ramadhan dan Sholat berjrmaah, Seminar dan simposium Nasional dan Daerah membahas trending topic, dll.
Jujur saya berkata di masa alm. Prof Sjafri, ICMI dan KAHMI Daerah Bogor berjaya dan berkiprah untuk merespon issu-issu strategis yang saya sebutkan di atas. InsyaAllah kepengurusan ICMI dan KAHMI Bogor sekarang mampu menjalankan amanah itu dgn baik dan sukses. Semoga Allah SWT memberkahi.. Amiin-3 YRA.
Penulis adalah Dosen dan Pendiri Universitas Djuanda, Pendiri dan Ketua Wankar ICMI Orwilsus Bogor dan Sekwanhat MD KAHMI Bogor





