CIDES: Corong Pemikiran ICMI

oleh -907 views
CIDES: Corong Pemikiran ICMI
Dr Apendi Arsyad berfoto bersama dengan Ketua Umum ICMI, Prof Arif Satria

Oleh: Apendi Arsyad

Terima kasih respon bang Andi Faisal Bakti atas tulisan.saya berjudul ” WAG Wankar ICMI: Sebuah Harapan” yang telah dimuat dan beredar di media Lead.co.id, kemaren.
Terima kasih pula atas apresiasinya, kita ada kesepahaman, sehingga akan mengundang saya AA di pertemuan (rapat) virtual (online) CIDES untuk sharing ide, Jumat nanti, 4 Pebruari 2022, insyaAllah saya bersedia dan siap. Sekali lagi terima kasih atas kesempatannya. Terus terang bagi saya AA ini sebuah kehormatan dan ladang amal sholeh.

Kita bahas nanti, salah satu diantaranya, program/kegiatan Wankar, kaitan atau relevansinya dgn Batom ICMI CIDES, terutama CIDES sebagai corong di media massa untuk sosialisasi gagasan for public, from ICMI.
CIDES kita jadikan sentral informasi berupa pemikiran-pemikiran cerdas ICMI dengan peran dan fungsi reflektifnya.

Doeloe CIDES pernah berhasil pada era kepemimpinan alm. Mas Adi Sasono, begitu produktif dan banyak media cetakan spt.news letter, jurnal dan majalah etc, terbit secara berkala dan menyebar ke Orwil dan bahkan Orsat-Orsat ICMI di seluruh Indonesia. Jika ICMI tetap eksis, kita harus berbuat,
akrab dgn media massa, dengan banyak banyak aktivitas dan diberitakan “good news” untuk membangun opini publik di koran dan majalah terkemuka dan berpengaruh seperti HU Kompas, HU Republika, HU Media Indonesia, Sindo, Majalah Tempo etc.

Setiap kurun waktu tertentu atau saat-saat diperlukan MPP ICMI dan Batomnya berdasarkan bidang dan kompetensinya tampil memberikan keterangan pers (pers realiase) dalam merespon issu-issu strategis yang hot dan lagi berkembang, terutama berkaitan dengan public policy (regulasi dan legislasi). Sehingga publik, rakyat tahu dan mengenal “mindset atau jalan pikiran” ICMI dalam arus utama (mainstream) yang tak menentu saat ini terjadi, yang disebut para ilmuan fenomena “distrupsi” (ketidakpastian).

Baca :  Dikukuhkan, ICMI Bertekad Membina Negara Berdasarkan Pancasila

Bang Prof. Andi Faisal Bakti, pimpinan CIDES, saya sdh lama, lk hampir 10 thn ada “kegelisaan” soal-soal dan permasalahan melemahnya peran dan fungsi kecendekiawan ICMI. Hal ini telah saya kemukakan ke kawan2 di kalangan internal ICMI, terutama di wilayah Bogor, juga saya curahkan dalam beberapa tulisan saya.
Tapi itulah, bak pepatah Melayu Riau “maksud hati hendak memeluk gunung apa daya tangan tak sampai”, atau “bagaikan burung Pungguk merindukan bulan”, ngak kesampaian.

Saya sangat berharap kepemimpinan millenial adinda Prof ASA, kita bisa “comeback” spt apa yg pernah dilakukan para pendahulu kita alm bpk Prof.BJ Habibie, alm Adi Sasono, alm Amin Azis, alm.M Dawam Rahardjo, dkk, tokoh pemikir besar saat itu. Walaupun dalam beberapa tulisan saya, bukan bermaksud “berhalusinasi” nyiplak dengan karya para senior pendiri ICMI, tapi ya kita belajar lebih bisa, dan kita betul-betul lebih serius, proaktif berkontribusi menentukan arah public policy era millenial saat ini di era new normal, yang memang sangat berbeda tantangan dan sasarannya dari era sebelumnya.

Baca :  Regenerasi Personil ICMI Sebuah Keniscayaan

Oleh karena itu saya AA lk 2-3 tahun bergiat dan bekerja keras mempromosikan kaum muda untuk tampil menjadi leader di ICMI.
Alhamdulillah secara personal, Allah SWT menganugerahi “kesuksesan” di forum Muktamar ICMI VII di Bandung, Desember 2021 ybl, adinda Prof.Arif Satria (Prof.ASA) menjadi Ketua Umum MPP ICMI periode tahun 2021-2026.
Tapi saya AA, hingga saat ini, belum bisa bersikap optimis “gustural and style” ormas Islam ICMI secara institusional bisa dan berhasil berpenampilan sebagaimana harapan umat dan bangsa dewasa ini, perlu kerja keras dan kesadaran baru.

Menurut pendapat saya, jika kita ingin keluar dari permasalahan melemahnya peran dan fungsi ICMI saat ini. Kuncinya terletak pada sikap kita sebagai pengurus dan aktivis ICMI, kembali ke khittah ICMI, dan definisi kecendekiawan yang sebenarnya, yang berpikiran bebas dan pro kebenaran, berpikiran ilmiah (iptek) dan berakhlaq mulia imtaq berbasis QnS), tetap konsen dan konsisten berorientasi pada program 5 K (kualitas imtaq, pikir ipteks, karya inovatif, hidup-ham dan keluarga keturunan anak cucu (regenerasi) yang berkualitas).
Jajaran pengurus MPP hingga kebawah memahami, menghati dan mengamalkannya. Selama ini saya mengamati sosialisasi dan internalisasi culture ICMI terutama “kode etika” untuk 10 tahun terakhir, penampilan ICMI lebih konsen dan fokus pada profesi politisi, maaf buat para elitenya.
InsyaAllah, era Prof ASA bisa menggeser mindset dan paradigma (sift paradigm) ICMI ke arah “gusture and style” kaum intelektual sejati sebagaimana jati diri, identitas dan watak cendekiawan muslim yang sebenarnya menurut definisi AD dan ART ICMI.

Baca :  Prof Fuad Amsyari: Cendekiawan Muslim Sejati

Harapannya ICMI janganlah sampai terseret kepada permainan politik “murahan” (low polical) hanya sekedar mencari posisi kekuasaan untuk dirinya dan golongannya, dan melupakan peran dan fungsi kecerdasan dan kepeduliannya terhadap nasib umat dan bangsa. ICMI harus masuk kedalam peran dan fungsi produsen gagasan dan opini publik yang kritis, analitik, solutif dan konstruktif yang bepihak pada kepentingan rakyat. Seorang cendekiawan (intelektual) dalam berpikir dan bersuara tidak melihat kepentingan jangka pendek spt kebutuhan 3 Ta (tahta, harta dan wanita), tapi jauh diatas kebutuhan tersebut, yakni kebutuhan aktualisasi (actualisation needs), jika menggunakan konsep Maslaw. Seorang cendekiawan muslim sejati, wataknya sudah selesai mengurus diri sendiri, dan hidup sdh cukup, tinggal banyak bersyukur kepada Allah SWT atas karunia kemampuan menguasai ipteks dan berimtaq secara terpadu, tidak munafik (split personality).

Jika sikap dan watak ideal seperti ini kita lakukan yakni kembali ke fitrah kecendiakiawan sejati, bukan aktor politik, politisi, yang berpikir sesaat, jangka pendek untuk diri dan golongannya, insyaAllah ICMI bisa bangkit kembali sebagai harapan umat dan bangsa Indonesia, yang kini agak “kebingungan” dan galau menghadapi era baru, millenial, era digital. Syukron barakallah.

 

Penulis adalah Pendiri-Ketua Wankar ICMI Orwilsus Bogor dan Wasek Wankar ICMI Pusat, Dosen, Konsultan dan Pegiat serta Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *